MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Suasana sakral dan khidmat menyelimuti kawasan wisata Pantai Ngliyep, Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang Jawa Timur, pada Kamis malam. Tokoh spiritual, Nyai Ida Rofi dan Ki Eko Condro Wijoyo memimpin langsung ritual doa bersama semalam suntuk sebagai rangkaian pembuka menjelang upacara puncak Larungan Dua Kepala Kerbau yang dijadwalkan berlangsung pada Jum’at (28/8), siang ini.
Jauh dari kesan mistis yang menakutkan, prosesi ritual yang digelar sejak malam hari tersebut berjalan dengan penuh kekhusyukan. Masyarakat setempat bersama para peziarah tampak memadati lokasi sekitar petilasan untuk melambungkan rapalan doa dan puji-pujian kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Dalam penjelasannya, Nyai Ida Rofi menegaskan bahwa ritual doa semalam suntuk ini esensinya adalah altar penyerahan diri secara kolektif demi keselamatan, kedamaian, dan keutuhan seluruh bangsa Indonesia.
“Doa-doa yang kita panjatkan semalam secara khusus ditujukan untuk keselamatan negeri tercinta ini. Kita memohon kepada Sang Pencipta agar Indonesia senantiasa diberikan kedamaian, dijauhkan dari segala marabahaya, serta masyarakatnya hidup makmur,” ujar Nyai Ida Rofi di sela-sela persiapan acara.
Secara spesifik, untaian doa dan harapan yang ditiupkan ke langit laut selatan tersebut berfokus pada permohonan agar Indonesia menjadi negara yang gemah ripah loh jinawi, tenteram karta raharja. Narasi ini menjadi sangat krusial di tengah situasi ketidakpastian global saat ini. Pihaknya berharap, lewat ketukan pintu langit di tempat bersejarah ini, Indonesia dibentengi dari segala macam ancaman bencana non-alam maupun wabah penyakit (pagebluk), sehingga roda perekonomian rakyat kecil dapat terus berputar aman dan tentram.
Senada dengan hal tersebut, Ki Suryo Alam dari Kota Wilwatikta Mojokerto turut memberikan pernyataan sekaligus pesan mendalam kepada masyarakat yang hadir maupun publik luas. Ia menekankan pentingnya menjaga kesadaran kolektif dalam merawat tradisi leluhur sebagai fondasi jati diri bangsa.
“Kegiatan spiritual dan budaya seperti ini bukan sekadar rutinitas adat, melainkan laku batin untuk menjaga keseimbangan alam dan manusia. Pesan saya kepada masyarakat, mari kita buang pandangan-pandangan miring. Tradisi larungan dan doa bersama ini adalah wujud nyata dari rasa syukur, kegotongroyongan, dan cinta tanah air yang diwariskan oleh para leluhur kita. Jaga kelestariannya, karena dari sinilah karakter bangsa kita diperkuat,” tegas Ki Suryo Alam.
Ritual doa ini sekaligus menjadi penegas nilai utama dari seluruh rangkaian adat di Malang Selatan. Sebelum fisik sesaji dua kepala kerbau dilarung ke samudra, jiwa dan niat masyarakatnya telah terlebih dahulu disucikan lewat doa bersama yang berbasis pada nilai-nilai ketuhanan, gotong royong, dan kepedulian sosial.
Hingga Jum’at pagi, arus kunjungan wisatawan dan masyarakat adat terpantau terus mengalir memadati kawasan Pantai Ngliyep. Mereka datang untuk menyaksikan langsung detik-detik prosesi puncak kirab budaya serta pelarungan sesaji ke tengah laut selatan yang dijadwalkan mulai bergerak pada siang hari ini.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.