MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Pantai Ngliyep bukan sekadar destinasi wisata pesisir di Malang Selatan; ia adalah ruang di mana mitos, tradisi, dan alam melebur menjadi satu. Duduk bermeditasi di atas tebingnya pagi hari ini, di tengah deburan ombak yang sakral dekat Gunung Kumbang, melahirkan sebuah urgensi nyata tentang bagaimana kita—generasi modern—menjaga rasa hormat terhadap warisan leluhur di tengah arus komersialisasi yang kian deras. Sembari menunggu waktu dilarungnya dua kepala kerbau siang nanti, pikiran modern yang dangkal mungkin akan buru-buru menganggap ritual ini sebagai pemborosan yang tidak masuk akal.
Namun, dari atas tebing ini kita perlu meluruskan kesalahpahaman akut tersebut: daging kerbaunya tidak dibuang, melainkan dimasak dan dimakan bersama oleh ratusan warga sebagai sedekah bumi. Sementara bagian kepala yang dilarung adalah simbol radikal untuk “menyembelih” sifat kebinatangan dan ego manusia, sekaligus menjadi siklus pangan alami bagi ekosistem makhluk bawah laut yang selama ini menghidupi para nelayan.
Narasi miring yang beredar di media sosial sering kali dibangun di atas ketidaktahuan. Publik luar membayangkan seekor kerbau utuh ditenggelamkan begitu saja ke laut demi sebuah ritual mitis. Kenyataan di lapangan justru sebaliknya. Prosesi yang siang nanti dipimpin oleh Dukun Kondang Nyai Ida Rofi dan Ki Eko Condro Wijoyo ini didahului oleh penyembelihan massal di mana tonan daging kerbau segar dipotong dan dibagikan secara merata kepada masyarakat setempat.
Tidak berhenti di situ, momen sakral ini juga dirangkai dengan pemberian santunan bagi warga yang membutuhkan. Ini bukan pemborosan; ini adalah pesta ketahanan pangan lokal dan aksi filantropi nyata—sebuah bentuk sedekah sosial skala besar yang meruntuhkan sekat kelas melalui kepedulian yang konkret.
Lalu, mengapa harus kepala yang dilarung ke samudra? Secara spiritual, kepala adalah simbol dari pusat ego, kesombongan, dan sifat kebinatangan manusia yang harus dilarung—dilenyapkan—agar manusia kembali fitrah dan tahu diri di hadapan alam. Secara ekologis, masyarakat pesisir Ngliyep memahami hukum alam secara organik: apa yang diambil dari laut, harus dikembalikan sebagian ke laut. Kepala kerbau yang tenggelam di karang-karang Gunung Kumbang akan menjadi sumber nutrisi makro bagi mikroorganisme laut, mengundang ikan-ikan kecil, dan pada akhirnya merawat ekosistem laut yang menjadi tumpuan hidup para nelayan tradisional itu sendiri.
Ketika genderang prosesi larungan siang nanti bertalu, mari kita berhenti memandang tradisi ini dengan kacamata penghakiman yang sempit. Di bawah bimbingan spiritual Nyai Ida Rofi, Larungan Dua Kepala Kerbau di Pantai Ngliyep adalah manifestasi dari doa, sedekah, dan pelestarian alam yang dibungkus dalam estetika budaya Jawa. Pagi ini, saat ombak Ngliyep terus bergemuruh menghantam tebing, kita diajak untuk sadar: bukan laut yang butuh kepala kerbau itu, melainkan jiwa manusialah yang butuh disembelih keangkuhannya agar bisa bersyukur dengan semestinya kepada Sang Pencipta.
Oleh: Imam Syafi’i/Datuknaga
Ditulis langsung dari atas tebing Pantai Ngliyep, Malang, Jum’at (28/8/26).


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.