Langsung ke konten
Minggu, 16 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Internasional

Serangan AS Guncang Selatan Iran: 300 Kapal Nelayan Hancur, Rumah Sakit Anak Dievakuasi

Serangan udara AS memporak-porandakan infrastruktur sipil di selatan Iran, dari kapal nelayan di Bandar Abbas hingga evakuasi 211 pasien anak di Ahvaz.

Kerusakan akibat serangan udara dalam konflik AS-Israel-Iran 2026, ilustrasi dampak terhadap warga sipil di selatan Iran

TEHERAN | JATIMSATUNEWS.COM: Serangan udara Amerika Serikat yang kembali digelar awal Juli 2026 usai gencatan senjata sementara berakhir, memporak-porandakan kehidupan warga sipil di tiga provinsi selatan Iran: Hormozgan, Khuzestan, serta Sistan dan Baluchestan. Media Drop Site News melaporkan serangan tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur vital yang menopang kehidupan sehari-hari warga, mulai dari pelabuhan nelayan, jembatan, pembangkit listrik, menara telekomunikasi, rumah sakit, hingga jalan utama.

Ratusan Kapal Nelayan di Selatan Iran Hancur

Di Bandar Abbas dan kota-kota pesisir selatan Iran lainnya, sedikitnya 300 kapal nelayan sipil hancur, tersebar di Bandar Abbas, Bandar Lengeh, Sirik, dan Jask, menurut laporan Drop Site News yang juga dikonfirmasi RFE/RL (Radio Free Europe/Radio Liberty). Dua kapal search-and-rescue maritim turut hancur. Media IranWire mencatat, hanya dalam serangan 8-9 Juli di dermaga Panj-Peleh, sedikitnya 30 kapal nelayan senilai total sekitar 60 miliar toman rusak.

Menara komunikasi lumpuh dalam beberapa gelombang serangan berturut-turut. Jembatan yang menghubungkan Bandar Abbas dengan Khamir dan Rudan, jalur kereta api, serta koridor transportasi utama turut menjadi sasaran.

Di berbagai wilayah Hormozgan, serangan terhadap infrastruktur listrik dan komunikasi mengganggu pasokan listrik, internet, dan layanan telepon, tepat saat suhu udara mendekati 50 derajat Celsius, salah satu periode terpanas dalam setahun. Padamnya listrik turut melumpuhkan pompa air dan mesin pendingin, memperparah dampaknya bagi warga sipil.

Evakuasi 211 Pasien Anak dari Rumah Sakit Kanker di Ahvaz

Kampanye serangan ini juga meninggalkan tekanan psikologis berat bagi warga sipil di selatan Iran, khususnya Khuzestan, dengan anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak. Pertengahan Juli, ledakan mengguncang kawasan sekitar Rumah Sakit Shahid Baghaei di Ahvaz, pusat perawatan utama bagi anak-anak penderita kanker dan kelainan darah.

Meski bangunan rumah sakit tidak hancur, ledakan tersebut memaksa evakuasi darurat 211 pasien anak, termasuk yang sedang menjalani kemoterapi dan beberapa yang bergantung pada ventilator. Seorang dokter di rumah sakit tersebut menegaskan para pasien anak yang dirawat menderita penyakit serius dan harus dievakuasi secara mendesak, sebagian di antaranya sambil tetap terhubung ventilator dan menjalani kemoterapi. Insiden ini dilaporkan secara terpisah oleh Al Jazeera, Common Dreams, Novara Media, dan Truthout. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyebut serangan dekat rumah sakit anak tersebut sebagai “kejahatan perang yang pengecut”. Pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi atas tudingan tersebut.

Dugaan Pelanggaran Hukum Humaniter dan Angka Korban yang Diperdebatkan

Seorang analis militer yang diwawancarai Drop Site News menyebut serangan berulang AS-Israel terhadap infrastruktur listrik, komunikasi, dan transportasi bertujuan menaikkan biaya kemanusiaan dari konflik ini bagi warga sipil. Menyasar infrastruktur semacam ini di selatan Iran berpotensi melanggar hukum humaniter internasional, yang mewajibkan pihak berperang membedakan antara sasaran militer dan sipil. Protokol I Konvensi Jenewa secara khusus melindungi objek-objek yang esensial bagi kelangsungan hidup warga sipil, termasuk infrastruktur air dan listrik.

Skala korban jiwa dari perang yang lebih luas antara Iran dan AS-Israel ini bervariasi tajam tergantung sumber. Kementerian Kesehatan Iran mencatat sedikitnya 3.468 orang tewas sejak akhir Februari 2026. Lembaga HAM independen HRANA (Human Rights Activists News Agency) mendokumentasikan 3.636 kematian. Sementara itu, estimasi pihak AS dan Israel menyebut angka bisa mencapai lebih dari 6.000 jiwa, dengan 15.000 hingga 26.500 orang lainnya terluka. Perbedaan angka ini mencerminkan sulitnya verifikasi independen di tengah konflik yang masih berlangsung.

Jika dihitung lintas seluruh front konflik Iran-Israel-AS yang oleh militer AS disebut Operation Epic Fury, taksiran gabungan dari berbagai sumber menyebut total korban tewas berkisar 7.144 hingga lebih dari 9.676 jiwa, dengan sekitar 46.965 orang terluka. Lebanon mencatat lebih dari 4.000 korban tewas menurut Kementerian Kesehatan Lebanon, sementara Irak, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan sejumlah negara Teluk lain turut mencatat korban dalam skala lebih kecil akibat rambatan konflik ini.

Di seluruh selatan Iran, dampak kumulatif dari serangan-serangan ini adalah populasi sipil yang hidup di bawah tekanan berkelanjutan, dengan mata pencaharian yang hancur.

Baca juga: