Langsung ke konten
Sabtu, 15 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Nasional

Tambakberas Memanggil: Bermujahadah Bersama Sang Muassis

Ilustrasi KH. Abdul Wahab Chasbullah, tokoh sentral penyemangat mujahadah santri Tambakberas menjelang Muktamar NU ke-35.

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Hari ini, Sabtu 15 Agustus 2026 ribuan santri alumni Tambakberas yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Alumni Bahrul Ulum (IKABU) se Nusantara bergerak dan berkumpul di Pesarean Mbah Wahab Chasbullah Tambakberas Jombang untuk melaksanakan mujahadah dan doa bersama dengan membaca Huwal Habib seribu kali. Mujahadah ini akan dilaksanakan setelah sholat isya’ dan dipimpin langsung oleh Almaghfurlah Mbah KH. Abdul Wahab Chasbullah, tujuaannya memohon kepada Allah SWT agar pelaksanaan Muktamar NU ke 35 sukses aman lancar barokah manfaat.

Huwal habibul ladzi turja syafa’atuhu # Li kulli haulim minal ahwali muqtahami adalah penggalan Sholawat Burdah yang menjadi amalan Mbah Wahab Chasbullah dalam berjuang melawan penjajah. Diceritakan, setiap kali Mbah Wahab akan berangkat ke Jakarta untuk menyampaikan ide ide besar kepada Presiden Soekarno atau mengikuti rapat-rapat penting, beliau selalu mengumpulkan santri dan meminta untuk membaca Huwal Habib seribu kali setelah sholat maghrib, “cah santri baca Huwal Habib ping sewu sampek aku mole teko Jakarta, kuwe sing silo aku sing silat” (wahai santri baca Huwal Habib seribu kali sampai aku datang dari Jakarta, kalian yang membaca doa saya yang berjuang). Cerita ini menggema di telinga semua santri sejak awal menginjakan kaki di Pesantren Tambakberas. Akhirnya bacaan Huwal Habib menjadi wirid amalan santri Tambakberas dibaca seribu kali setiap Kamis malam Jum’at selesai sholat Maghrib.

Sholawat Burdah ini ditulis oleh Syeh Imam Syarofuddin Muhammad bin Sa’id bin Hammad As Shonhaji, yang terkenal dengan sebutan Syeh Imam al- Bushiri. Beliau penyair dan tokoh sufi yang lahir di Mesir pada abad 7 Hijriah sekitar tahun 608-696 H (1211-1296 M). Sholawat Burdah memiliki judul asli “al-Kawākib ad-Durriyyah fī Madhi Khairi al-Bariyyah” (bintang-bintang yang gemerlap dalam memuji sebaik-baik makhluk). Saya pernah sowan ke makam beliau yang berdekatan dengan gurunya, Syekh Abu al-‘Abbas al-Mursi di Alexandria Mesir menghadap laut Mediterania, sekitar 230 KM utara Cairo. Yang menarik beliau berdua mempunya masjid yang berdekatan, saling berhadapan hanya dipisah jalan. Syekh Abu al-‘Abbas al-Mursi disamping mempunyai murid Imam al- Bushiri juga Ibn ‘Athaillah as-Sakandari penulis kita al-Hikam. Guru Syekh Abu al-‘Abbas al-Mursi adalah Syeh Imam Abu al-Hasan asy-Syadzili. Oleh karena itu Syeh Imam al- Bushiri penganut Tarekat Syadziliyah.Mujahadah bersama Sang Muassis merupakan salah satu rangkaian penting dalam mempersiapkan penyelenggaraan Muktamar NU ke 35. Sejak tempat Muktamar NU ke 35 diputuskan di pesantren Tambakberas beberapa bulan lalu, maka persiapan fisik dan bathin segera dimulai. Atas arahan Majlis Pengasuh Pondok Pesantrean Tambakberas Jombang semua santri dan alumni guyub bahu membahu membantu semaksimal mungkin sesuai kemampuan untuk suksesnya kegiatan Muktamar. Saya sebagai santri sangat yakin bahwa keputusan tempat Muktamar NU ke 35 di pesantren Tambakberas Jombang bukan merupakan kebetulan belaka melainkan kehendak Allah SWT yang bertujuan diantaranya untuk menyegarkan kembali ruh NU, memperkuat marwa NU, dan mempersatukan warga NU agar berjalan sesuai dengan tujuan Khittah 1926. Khidmat kepada masyarakat, mencerdaskan generasi Islam, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok dan golongan, serta melepaskan diri dari politik praktis.

Bagi saya yang pernah nyantri di Tambakberas, keputusan ini memperkuat keyakinan bahwa NU sedang diajak pulang untuk kembali kepada tujuan awal didirikan yaitu mengajarkan akhlaq, mengajarkan ilmu, memperkuat ukhuwah, dan berkhidmat kepada masyarakat dengan ikhlas tanpa pamrih. Saya sebagai santri meyakini bahwa warisan terbesar Mbah Wahab Chasbullah bukanlah bangunan pesantren ataupun besarnya organisasi yang beliau dirikan. Warisan itu adalah budaya khidmat kepada masyarakat dan negara. Budaya yang mengajarkan bahwa jabatan adalah amanah yang harus dilaksanakan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan umat dan kelak akan dipertanggungjawabkan. Ilmu adalah sarana mencerdaskan anak bangsa dengan jalan pengabdian tanpa batas. Musyawarah mufakat adalah media yang ditempuh untuk memperkuat persatuan dan kesatuan. Organisasi adalah media dan sarana mengabdi kepada Allah SWT untuk melayani umat. “Khairunnas anfa’uhum linnas”.

Oleh: Syaiful MustofaDosen UIN Malang. Alumni Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, 1987-1993.