Sri Untari Bisowarno bersama pengurus Rembuk Pusat, strategi Kopsyah BMI tekan NPL, di Malang

Sri Untari Ungkap Rahasia Kopsyah BMI Tekan NPL Lewat Rembuk Pusat

Sri Untari Bisowarno bersama pengurus Rembuk Pusat, strategi Kopsyah BMI tekan NPL, di Malang
Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Bhakti Wanita (SBW) Malang, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP. berfoto dengan Rembuk Pusat Kopsyah BMI Jaga Kualitas Pembiayaan.

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kopsyah BMI Group Tangerang berhasil menekan Non-Performing Loan (NPL) atau pembiayaan bermasalah lewat pengelolaan tata kelola operasional lapangan yang terukur. Strategi Kopsyah BMI tekan NPL ini terbukti efektif menjaga kualitas pembiayaan tetap berada di level yang sangat rendah dan sehat.

Ketua Koperasi Wanita (Kopwan) Setia Bhakti Wanita (SBW) Malang, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP., menyoroti keberhasilan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa manajemen Kopsyah BMI secara cerdas mengadopsi pola Grameen Bank melalui wadah pengelompokan anggota yang dinamakan Rembuk Pusat.

“Struktur Rembuk Pusat ini dibentuk berbasis kedekatan domisili yang sangat lokal, sekitar lingkup satu RT. Pertemuan dilaksanakan secara rutin setiap pekan, di mana setiap anggota wajib memiliki usaha aktif sebagai syarat utama keanggotaan,” ungkap Sri Untari.

Lebih lanjut, politisi sekaligus tokoh penggerak koperasi ini menjelaskan adanya perbedaan mendasar antara skema Kopsyah BMI dengan sistem tanggung renteng murni yang diterapkan oleh Puskwanjati.

Di Kopsyah BMI, penentuan besaran nilai pembiayaan tidak ditetapkan melalui proses musyawarah kelompok. Keputusan nominal pembiayaan didasarkan murni pada analisis kebutuhan objektif dan penilaian risiko (risk assessment) yang dilakukan oleh petugas.

Dalam pelaksanaannya, operasional ini digerakkan oleh Petugas Pendamping Lapangan (PPL) yang masing-masing membawahi sekitar 16 Rembuk Pusat. Para PPL ini dibekali wewenang operasional langsung untuk melayani anggota, mulai dari menerima setoran simpanan hingga merealisasikan pencairan pembiayaan langsung di tingkat kelompok.

“Persyaratan kepemilikan usaha yang jelas, analisis pembiayaan yang terukur oleh petugas, serta kedisiplinan pertemuan mingguan inilah yang menjadi benteng utama Kopsyah BMI dalam menjaga kualitas penyaluran pembiayaan tetap sehat,” ucap Sri Untari.