SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: HUT ke-81 RI tahun ini jadi ajang refleksi bagi Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Dr. Sri Untari Bisowarno, M.AP. Politisi senior PDI Perjuangan itu mengapresiasi harmoni sosial yang masih terjaga di Jatim. Tapi ia juga mengingatkan, masih ada sederet pekerjaan rumah besar yang mendesak dituntaskan pemerintah dan masyarakat.
Sorotan pertamanya soal maraknya kekerasan terhadap perempuan dan anak. Ironisnya, ancaman itu justru kerap muncul di rumah dan sekolah, tempat yang semestinya paling aman. “Rumah dan sekolah yang dianggap aman ternyata masih terdapat hal demikian. Diperlukan komitmen seluruh komponen untuk menjaga dan mengawasi agar tumbuh kembang anak dan perempuan terjamin,” tegas Sri Untari.
Bukan cuma kekerasan fisik. Paparan digital yang tak terkontrol juga jadi alarm tersendiri. Dari rapat kerja bersama RSJ Menur, ditemukan banyak anak usia dini di Jatim mengalami depresi hingga penyimpangan perilaku seksual akibat gadget. “Yang paling memprihatinkan adalah ketika anak umur 5 tahun sudah menunjukkan ketergantungan pada hal-hal terkait seks. Keluarga adalah benteng utama untuk mengurangi proses ini, didukung oleh lingkungan sekolah serta edukasi yang terus-menerus,” ungkap Sri Untari.
Soal ketenagakerjaan, Komisi E DPRD Jatim juga memasang sinyal waspada. Disnakertrans Jawa Timur mencatat sekitar 2.000 pekerja saat ini di ambang PHK dari laporan awal yang masuk, angka yang bisa lebih besar lagi karena banyak perusahaan belum melapor. Sri Untari mendesak Disnakertrans Provinsi dan pemerintah kabupaten/kota memperketat pengawasan serta bersinergi memitigasi dampaknya di kawasan-kawasan industri.
Isu lingkungan juga tak lepas dari sorotan. Menurut Sri Untari, perubahan iklim jadi pemicu utama tingginya risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di kawasan Gunung Bromo dan pegunungan lain di Jatim. Ia meminta BPBD Jawa Timur proaktif menggandeng pemerintah daerah dan pakar kehutanan dari perguruan tinggi untuk merumuskan mitigasi bencana yang permanen.
Terakhir, Sri Untari menyoroti pentingnya iklim usaha yang kondusif bagi UMKM. Di tengah lesunya ekonomi dan menurunnya daya beli masyarakat, UMKM menurutnya adalah tulang punggung ekonomi kerakyatan yang harus terus ditopang. “Dirgahayu Republik Indonesia ke-81. Indonesia Berdaulat, Indonesia Makmur,” tutup Sri Untari.

