Dekan FSTeM UB, Prof. Dr. Sukir Maryanto bersama Jajaran berfoto dengan Mahasiswa.
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB) resmi berganti nama sejak Mei 2026. Perubahan tersebut bukan sekadar pergantian nomenklatur, tetapi menjadi penanda arah baru pengembangan keilmuan yang menggabungkan kekuatan basic science dengan applied science untuk menjawab kebutuhan masyarakat dan industri.
Hal tersebut disampaikan Dekan FSTeM UB, Prof. Dr. Sukir Maryanto, saat menyambut mahasiswa baru dalam rangkaian PK2Maba FSTeM UB, Kamis (13/8/2026).Prof. Sukir menegaskan, mahasiswa perlu memahami filosofi di balik nama baru tersebut. Salah satu hal yang menurutnya penting diluruskan adalah penggunaan huruf “e” kecil pada FSTeM.
“E kecil itu bukan engineering, tetapi technology,” jelas Prof. Sukir.
Menurutnya, penggunaan istilah technology menunjukkan bahwa fakultas tidak hanya bergerak pada pengembangan ilmu pengetahuan dasar, tetapi juga mendorong agar ilmu tersebut dapat diterapkan dan menghasilkan inovasi yang memberikan manfaat nyata.
“Perubahan nama ini membawa filosofi pengembangan yang tidak hanya berfokus pada basic science, tetapi juga applied science. Kami ingin teknologi itu menjadi lebih fluid, lebih dinamis, sehingga proses hilirisasi dapat berlangsung lebih cepat,” ujarnya.
Karena itu, FSTeM UB mendorong seluruh departemen untuk mulai mengembangkan program studi berbasis applied science. Departemen yang belum memiliki program studi dengan orientasi tersebut diharapkan dapat segera menyusul.
“Ini bagian dari upaya mempercepat hilirisasi teknologi. Jadi ilmu yang dikembangkan tidak berhenti pada teori, tetapi dapat diterapkan dan memberikan solusi,” katanya.
Di hadapan mahasiswa baru, Prof. Sukir juga mengajak mereka memiliki semangat belajar tanpa batas. Ia menekankan bahwa cita-cita besar hanya dapat dicapai melalui kemauan untuk terus belajar, berani mencoba, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.
“Apa yang kalian cita-citakan ketika kalian tidak berhenti untuk belajar?” tutur Prof. Sukir, memotivasi mahasiswa baru.
Di tengah kondisi ekonomi nasional yang turut memengaruhi tren penerimaan mahasiswa di sejumlah perguruan tinggi, FSTeM UB mencatatkan jumlah mahasiswa baru yang relatif stabil.Tahun ini, FSTeM UB menerima 1.138 mahasiswa baru, dibandingkan 1.159 mahasiswa pada tahun sebelumnya.Fakultas juga berupaya memberikan ruang bagi mahasiswa yang menghadapi kendala ekonomi. Sejumlah skema keringanan biaya disiapkan, mulai dari pembebasan pada skema tertentu hingga pembayaran secara bertahap atau angsuran.
Menurut Prof. Sukir, kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya fakultas memastikan persoalan ekonomi tidak serta-merta menjadi penghalang mahasiswa untuk menjalani pendidikan tinggi.Selain memperkenalkan bidang akademik, FSTeM UB juga membekali mahasiswa baru dengan pemahaman mengenai tata kelola dan kehidupan kampus.
Berbagai layanan diperkenalkan, termasuk Unit Layanan Konseling, Pencegahan Kekerasan Seksual (ULKPKKS), layanan kesehatan mental, hingga sosialisasi mengenai Zona Integritas.Prof. Sukir mengatakan, pengenalan tersebut penting agar mahasiswa sejak awal memahami lingkungan akademik yang akan menjadi bagian dari kehidupan mereka selama menempuh pendidikan di FSTeM UB.
“Administrasi kita kenalkan, suasana kita sosialisasikan, kemudian program-program juga kita sampaikan. Harapannya mereka mengenal lingkungan kampus, bisa menyatu dan betah menjadi bagian dari keluarga besar FSTeM,” jelasnya.
Penerapan tata kelola fakultas, lanjut dia, diarahkan mengikuti standar nasional dan kebijakan pemerintah, termasuk agenda reformasi birokrasi serta mandat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Kementerian Pertanian yang berkaitan dengan tata kelola. Transformasi digital dalam administrasi juga terus didorong agar pelayanan kepada mahasiswa dan civitas akademika semakin cepat, transparan, dan efisien.
FSTeM UB juga memberikan perhatian terhadap kebutuhan mahasiswa penyandang disabilitas. Berdasarkan data yang dimiliki fakultas, terdapat mahasiswa disabilitas yang telah mendapatkan perhatian dalam proses penerimaan dan penyediaan fasilitas pendukung. Namun, Prof. Sukir menyebut data final mengenai jumlah mahasiswa disabilitas yang telah melakukan daftar ulang masih perlu dikonfirmasi kembali.
“Informasi detailnya masih perlu kami peroleh. Saat proses seleksi memang ada fasilitas untuk mahasiswa disabilitas, tetapi untuk data setelah daftar ulang perlu kami pastikan kembali,” ujarnya.
Di sisi lain, seluruh rangkaian PK2Maba FSTeM UB dirancang dengan pendekatan edukatif dan humanis. Kegiatan pengenalan mahasiswa baru diarahkan untuk membangun rasa memiliki terhadap fakultas sekaligus menciptakan lingkungan kampus yang aman dan nyaman. FSTeM UB tetap membawa semangat “Honoring the Legacy and Shaping the Future”, sebagai upaya menjaga warisan keilmuan yang telah dibangun sekaligus mempersiapkan generasi baru untuk menghadapi masa depan. Prof. Sukir berharap mahasiswa baru tidak hanya menjadi pembelajar di ruang kelas, tetapi juga mampu menjadi generasi yang memiliki keberanian untuk mengembangkan ilmu, menghasilkan inovasi, serta ikut menyelesaikan berbagai persoalan bangsa.
“Yang paling penting adalah jangan berhenti belajar. Karena ketika terus belajar, selalu ada kemungkinan untuk berubah, berkembang, dan menghasilkan sesuatu yang baru,” pungkasnya.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.