Langsung ke konten
Rabu, 21 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Laut Bercerita: Menjaga Ingatan Sejarah Lewat Film

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Film “Laut Bercerita” karya Yosep Anggi Noen telah menempuh perjalanan ke panggung perfilman internasional melalui Busan

Sampul novel dan poster resmi film "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori yang diadaptasi ke layar lebar untuk merawat ingatan sejarah bangsa

Sampul novel dan poster resmi film "Laut Bercerita" karya Leila S. Chudori yang diadaptasi ke layar lebar untuk merawat ingatan sejarah bangsa (Foto: Istimewa)

ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Film “Laut Bercerita” karya Yosep Anggi Noen telah menempuh perjalanan ke panggung perfilman internasional melalui Busan International Film Festival (BIFF) 2026 di Korea Selatan. Film adaptasi novel Leila S. Chudori ini menjalani pemutaran perdana dunia pada 11 Oktober dengan judul internasional “The Sea Speaks His Name”.Menurut RRI, film ini dijadwalkan menjadi penutup Jakarta Film Week pada 25 Oktober sebelum tayang serentak di bioskop Indonesia pada 29 Oktober 2026. Perjalanan tersebut bukan sekadar pencapaian perfilman Indonesia, tetapi juga membuka kesempatan untuk membicarakan kembali sejarah yang menjadi latar ceritanya.

“Laut Bercerita” mengisahkan Biru Laut, seorang mahasiswa aktivis yang terlibat dalam gerakan perlawanan terhadap ketidakadilan sejak awal 1990-an hingga menjelang Reformasi 1998. Meskipun tokoh dan alur ceritanya merupakan fiksi, kisah tersebut berhubungan dengan kenyataan sejarah mengenai penculikan aktivis dan penghilangan paksa. Melalui pengalaman Biru Laut dan keluarganya, pembaca maupun penonton diajak melihat bahwa sejarah tidak hanya terdiri atas tanggal dan peristiwa politik, tetapi juga menyangkut kehidupan manusia, kehilangan, dan penantian yang tidak selalu berujung pada kepastian.

Perpindahan cerita dari novel ke layar lebar menghadirkan cara berbeda untuk mendekati pengalaman tersebut. Novel membangun suasana melalui kata-kata dan imajinasi pembaca, sedangkan film menyampaikan pengalaman melalui gambar, ekspresi, suara, dan keheningan. Keduanya memiliki kekuatan masing-masing dalam menyampaikan pesan. Karena itu, keberhasilan adaptasi tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak bagian novel yang dipertahankan, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga inti cerita dan persoalan kemanusiaan yang melatarbelakanginya.

Baca juga: Adnan Aziz, Dari Benin Menuju Peluang Global: Perjalanan Seorang Pesepak Bola Yang Belum Selesai

Baca juga: Adnan Aziz: Dari Benin, Menempuh Perjalanan Panjang Demi Meraih Impian Sepak Bola Internasional

Pemutaran “Laut Bercerita” di Busan juga memberi kesempatan untuk melihat kisah Indonesia dalam percakapan yang lebih luas. Dalam katalog resminya, BIFF menggambarkan tokoh Laut sebagai mahasiswa yang terinspirasi gerakan prodemokrasi di Korea Selatan dan Filipina. Gambaran itu memperlihatkan bahwa persoalan kebebasan berekspresi, perjuangan demokrasi, dan kekerasan terhadap mereka yang menyuarakan perubahan tidak hanya berkaitan dengan satu negara. Meski setiap negara memiliki konteks sejarah yang berbeda, pengalaman tersebut dapat menjadi ruang untuk saling memahami pentingnya kebebasan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Bagi generasi yang lahir setelah Reformasi, karya seperti “Laut Bercerita” dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal masa lalu yang tidak dialami secara langsung. Reformasi mungkin hanya dikenal lewat buku pelajaran, berita, atau cerita dari orang-orang yang mengalaminya. Novel dan film dapat membuat peristiwa tersebut terasa lebih dekat melalui pengalaman para tokohnya. Namun, kedekatan emosional belum tentu berarti pemahaman sejarah yang utuh. Tokoh fiktif tidak dapat menggantikan kesaksian korban nyata, dan alur cerita tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar untuk memahami peristiwa sejarah.

Iklan

Karena itu, ketertarikan terhadap film ini sebaiknya tidak berhenti pada pembahasan mengenai pemain, adegan, atau popularitas novelnya. Penonton juga dapat menjadikan film sebagai alasan untuk mencari tahu lebih jauh tentang penculikan aktivis 1997–1998, membaca laporan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), serta mempelajari kesaksian dan dokumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Langkah ini penting agar ingatan sejarah tidak hanya bertahan sebagai emosi setelah menonton, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang didukung fakta. Di tengah arus informasi media sosial, kebiasaan memeriksa sumber juga membantu generasi muda membedakan fakta, interpretasi, dan cerita fiksi.

Pada akhirnya, perjalanan “Laut Bercerita” dari Busan menuju penonton Indonesia menunjukkan bahwa sebuah karya dapat melintasi batas negara sekaligus membuka kembali percakapan tentang masa lalu. Sebagian besar penonton Indonesia baru bisa menontonnya mulai 29 Oktober, tetapi tema yang diangkatnya sudah relevan untuk direnungkan.

Menjaga ingatan sejarah bukan berarti terus hidup dalam masa lalu, melainkan memastikan pengalaman manusia di dalamnya tidak diabaikan. Laut mungkin terus bercerita melalui buku dan layar lebar. Tantangannya bagi kita bukan hanya mendengarkan, tetapi juga bersedia mencari kebenaran di balik cerita tersebut.

Oleh Naya Bawon Trisnawati

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.