MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tengah mengalami tren penurunan yang signifikan hingga menyentuh titik terparahnya di level 4.900. Menanggapi fenomena downtrend tersebut, Dosen Program Studi Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Muhammad Jihadi, M.Si., secara blak-blakan menyoroti bahwa akar permasalahan lesunya pasar modal domestik bermula dari sentimen negatif internasional, khususnya teguran keras dari Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Jihadi menjelaskan kepada Humas UMM bahwa pelemahan drastis bursa saham belakangan ini dipicu oleh temuan MSCI terkait ketidaksesuaian struktur kepemilikan saham publik atau free float di Indonesia. Menurutnya, pangkal masalah ini adalah hilangnya kepercayaan pengindeks global akibat batas free float lima persen yang ternyata hanya dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang terafiliasi dengan emiten besar.
Akibat temuan tersebut, ia menyebutkan bahwa MSCI melayangkan ancaman serius untuk mencabut indeks Indonesia dan menurunkannya ke kelas Frontier atau Standalone, setara dengan posisi Zimbabwe dan Palestina. Ancaman penurunan level ini sontak menciptakan kepanikan masif di pasar, yang berujung pada penarikan dana asing atau capital outflow secara besar-besaran hingga menyentuh angka Rp132 triliun. Kondisi pelik ini kian diperparah oleh aksi panic selling dari investor ritel domestik yang melepas kepemilikan saham mereka tanpa memperhitungkan nilai fundamental, membuat saham-saham unggulan seperti BCA, Telkom, dan BRI langsung terseret menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB).
Proyeksi Suram IHSG dan Dampak Domino ke Sektor Riil
Lebih lanjut, Jihadi memproyeksikan bahwa IHSG masih memiliki ruang koreksi yang cukup dalam ke depannya. Ia mengungkapkan bahwa saat ini mayoritas pelaku pasar lebih memilih bersikap wait and see atau hit and run, bahkan ada prediksi indeks bisa terus merosot hingga di bawah level 4.000. Ia menambahkan bahwa Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri sebenarnya telah membuat simulasi stress test di angka 4.200 pada beberapa bulan lalu.
Tidak hanya berhenti di pasar modal, anjloknya bursa saham ini dipastikan membawa efek domino yang nyata hingga ke sektor riil. Beralihnya dana investasi memicu pelemahan nilai tukar rupiah, yang menurut proyeksinya akan berantai pada kelangkaan bahan bakar minyak (BBM), lonjakan biaya transportasi, hingga bermuara pada naiknya harga-harga komoditas pangan di tengah masyarakat.
Strategi Rasional bagi Investor Ritel di Tengah Pasar Memerah
Menghadapi kondisi portofolio yang serba memerah, Jihadi menyarankan para investor ritel agar tidak mengambil keputusan secara gegabah. Bagi investor dengan modal terbatas, ia menilai langkah paling rasional untuk saat ini adalah menahan atau hold saham yang dimiliki, serta mengingatkan agar tidak terburu-buru melakukan averaging down.
“Jika investor memutuskan mengambil opsi cut loss, dana tersebut sebaiknya dialihkan ke instrumen yang lebih aman seperti pasar uang atau obligasi ritel seperti ORI dan SBR,” tegasnya, sembari meyakinkan bahwa secara fundamental saham-saham perbankan nasional sebenarnya masih sangat kuat dan penurunan harga saat ini murni akibat kepanikan pasar.
Sebagai penutup, akademisi UMM ini mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk segera berbenah. Pemerintah dinilai harus serius melakukan negosiasi dengan MSCI yang pengumuman resminya masih bersifat wait and see hingga Juni 2027 mendatang, di samping menegakkan aturan ketat terkait kepemilikan free float demi memberantas praktik manipulasi pasar dan insider trading.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.