Sebanyak 95 pelajar SMA/MA dari berbagai daerah berkompetisi dalam Saqoyyah VII Tahun 2026
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Sebanyak 95 pelajar SMA/MA dari berbagai daerah berkompetisi dalam Saqoyyah VII Tahun 2026 yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (HMPS PAI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Tidak sekadar menguji kemampuan akademik, kompetisi tingkat nasional ini menjadi ruang pembinaan generasi muda untuk memperdalam ilmu keislaman, membangun karakter, sekaligus mengasah keberanian menyampaikan dakwah.
Babak semifinal dan final Saqoyyah VII berlangsung pada Sabtu (3/10/2026) di Gedung C UIN Malang. Sebanyak 95 peserta tersebut merupakan pelajar yang sebelumnya telah melewati tahap penyisihan secara daring. Model kompetisi ini memungkinkan pelajar dari berbagai daerah berpartisipasi tanpa dibatasi jarak geografis, sebelum para semifinalis bertemu langsung dalam babak penentuan.
Baca juga: FTIK UIN Malang Soroti Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi untuk Pendidikan Karakter
Saqoyyah VII mempertandingkan tiga cabang kompetisi, yakni Olimpiade Pendidikan Agama Islam (OLPAI), Olimpiade Nahwu Shorof (ONS), serta lomba da’i dan da’iyah. Ketiganya merepresentasikan dimensi kompetensi keislaman yang saling melengkapi: pemahaman terhadap ajaran Islam, penguasaan perangkat keilmuan bahasa Arab untuk memahami literatur keislaman, serta keterampilan mengomunikasikan pesan dakwah kepada masyarakat.
Kepala Program Studi PAI UIN Malang, Dr. Laily Nur Arifa, M.Pd., membuka secara resmi rangkaian semifinal dan final sekaligus mengawali Stadium General. Momentum tersebut menandai dimulainya kompetisi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian juara, tetapi juga memberikan pengalaman pembelajaran dan pengembangan potensi bagi para pelajar.
Persaingan berlangsung melalui mekanisme penilaian sesuai karakter masing-masing cabang. Semifinal OLPAI dan ONS dilaksanakan melalui pengerjaan soal di ruang kelas, sementara cabang da’i dan da’iyah menguji kemampuan peserta dalam menyampaikan materi dakwah di hadapan dewan juri. Tahapan ini menuntut peserta tidak hanya memiliki penguasaan materi, tetapi juga ketelitian, kepercayaan diri, dan kemampuan berkomunikasi.
Setelah proses penilaian semifinal, peserta terbaik melanjutkan kompetisi ke babak final. Final ONS berlangsung pukul 12.20–13.50 WIB, disusul final OLPAI pada pukul 14.00–16.00 WIB di Aula Gedung C. Seluruh rangkaian kompetisi kemudian ditutup dengan pengumuman pemenang dari masing-masing cabang, mulai Juara 1, Juara 2, Juara 3, hingga Harapan 1 dan Harapan 2.
Pelaksanaan Saqoyyah VII memperlihatkan bahwa kompetisi keagamaan dapat menjadi instrumen pembelajaran di luar ruang kelas. Melalui olimpiade PAI, pelajar didorong memperkuat pemahaman keislaman. Melalui olimpiade Nahwu Shorof, mereka diperkenalkan pada pentingnya penguasaan perangkat bahasa untuk mendalami khazanah keilmuan Islam. Sementara itu, lomba da’i dan da’iyah menjadi ruang aktualisasi kemampuan menyampaikan nilai-nilai agama secara komunikatif dan bertanggung jawab.
Melalui penyelenggaraan Saqoyyah VII, HMPS PAI FTIK UIN Malang berupaya menghadirkan ruang kompetisi sekaligus pembinaan bagi generasi muda Muslim. Harapannya, lahir pelajar yang tidak hanya unggul dalam penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga memiliki akhlak, sportivitas, daya pikir kritis, dan keberanian menyampaikan nilai-nilai kebaikan di tengah masyarakat.
Sumber: ftik.uin-malang.ac.id



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.