Langsung ke konten
Rabu, 14 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Dosen UB Patenkan Metode Isolasi Mikroba Penghasil Siderofor untuk Atasi Tanah Tercemar Merkuri

Inovasi luar biasa ini berawal dari keprihatinan mendalam terhadap masifnya pencemaran logam berat merkuri akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin

Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. saat menjelaskan temuan patennya

Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. saat menjelaskan temuan patennya (Foto: Humas UB)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Tiga dosen Universitas Brawijaya (UB) sukses menorehkan prestasi membanggakan dengan memperoleh hak paten atas metode isolasi bakteri endofit penghasil siderofor dari famili rumput-rumputan (Poaceae). Inovasi luar biasa ini berawal dari keprihatinan mendalam terhadap masifnya pencemaran logam berat merkuri akibat aktivitas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ketiga penemu tersebut terdiri dari Dr. Reni Ustiatik, S.P., M.P. dan Prof. Dr. Ir. Yulia Nuraini, M.S. dari Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK), serta Prof. Dr. Suharjono, M.S. dari Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika (FSTeM).

Pendekatan Biologis Atasi Limbah Amalgamasi Emas

Suasana riset isolasi mikroba di laboratorium
Suasana riset isolasi mikroba di laboratorium (Foto: Humas UB)

Dr. Reni Ustiatik menjelaskan bahwa pencemaran tersebut bersumber dari teknik amalgamasi yang digunakan dalam pertambangan emas skala kecil, yakni mencampurkan merkuri untuk memisahkan emas dari material batuan. Limbah berbahaya ini kerap terbuang bebas, terbawa air hujan, hingga akhirnya mengendap dan mencemari area persawahan warga.
“Kami mencoba melakukan pendekatan secara biologis dengan memanfaatkan mikroba dan tanaman lokal, yaitu rumput belulang dan rumput Bermuda,” ungkap Reni.

Baca juga: Kolaborasi Dosen dan Mahasiswa UIN Malang Tampil di Borneo International Academic Forum 2026, Raih Dua Penghargaan

Iklan

Baca juga: Merajut Harmoni Global, MTs Almaarif 01 Singosari Kembali menJadi tuan Rumah International Youth Education Sharing 2026

Riset ini berada di bawah naungan kelompok riset International Research Center for the Management of Degraded and Mining Land.

Cegah Merkuri Masuk ke Rantai Makanan

Peneliti saat melakukan uji coba skala pot di lapangan
Peneliti saat melakukan uji coba skala pot di lapangan (Foto: Humas UB)

Dari hasil penelusuran tim di lapangan, kadar merkuri di dalam tanah tercemar terdeteksi mencapai ribuan ppm, sementara pada jaringan tanaman berkisar antara belasan hingga puluhan ppm. Angka ini tentu sangat mengkhawatirkan mengingat ambang batas aman merkuri untuk produk sereal menurut BPOM hanya 0.05 ppm.

“Tujuan produksi siderofor dari mikroba ini ketika diaplikasikan untuk remediasi di lokasi tercemar adalah agar merkuri tidak terserap oleh tanaman dan tidak terakumulasi di bahan pangan,” tegas Reni. Senyawa siderofor terbukti efektif mengikat logam berat merkuri sehingga aman bagi hasil pertanian.

Potensi Ganda sebagai Pupuk Hayati

Tim peneliti memeriksa sampel akar rumput lokal
Tim peneliti memeriksa sampel akar rumput lokal (Foto: Humas UB)

Perjalanan panjang riset yang dimulai sejak tahun 2018 ini akhirnya berbuah manis setelah paten resmi dikantongi pada tahun 2026. Selain menghasilkan siderofor pengikat merkuri, mikroba isolat tersebut juga memiliki keunggulan lain seperti mampu mengikat nitrogen, melarutkan fosfat, serta memproduksi hormon pertumbuhan tanaman asam indol-3-asetat (IAA).

“Karakteristik tersebut memungkinkan mikroba dikembangkan sebagai pupuk hayati yang dapat diaplikasikan pada berbagai jenis tanaman,” pungkasnya. Melalui inovasi ini, lahan bekas tambang yang tercemar diharapkan bisa dipulihkan kembali dan dimanfaatkan produktif untuk budi daya pangan secara aman.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.