MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mengapa sebagian orang memilih melukai diri untuk meredakan emosi yang berat, sementara yang lain tidak? Salah satu jawaban yang dikaji adalah keyakinan, yaitu apa yang menurut seseorang akan terjadi setelah ia melukai diri. Untuk membantu menjawab pertanyaan itu di Indonesia, tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang beranggotakan Laila Indra Lestari, S.Psi., MA., Linda Prastiawati Ramadani, S.Psi., Rizka Fibria Nugrahani, S.Psi, M.Si, dan Hilda Rosa Ainiyah, M.Psi., Psikolog mengadaptasi sebuah alat ukur internasional ke dalam bahasa Indonesia dan mengujinya pada 520 mahasiswa.
Alat ukur itu bernama Non-Suicidal Self-Injury Expectancy Questionnaire (NEQ), yang dikembangkan oleh peneliti dari Curtin University, Australia. Kuesioner ini mengukur harapan seseorang tentang akibat melukai diri tanpa niat bunuh, yakni: harapan bahwa tindakan itu dapat membantu mengatur emosi, harapan akan reaksi sosial yang negatif, harapan memperoleh perhatian dari orang lain, harapan akan rasa sakit, dan keyakinan negatif tentang diri sendiri seperti rasa malu atau gagal. Selama ini, penelitian tentang keyakinan semacam itu di Indonesia sulit dilakukan dengan akurat karena belum tersedia alat ukur yang sesuai dengan bahasa dan budaya setempat.
Penelitian dilakukan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, tim menerjemahkan 25 butir pernyataan kuesioner ke dalam bahasa Indonesia, lalu menerjemahkannya kembali ke bahasa Inggris untuk memastikan maknanya tetap setara. Terjemahan itu kemudian ditelaah panel ahli dan diujicobakan kepada 10 mahasiswa. Beberapa butir akhirnya diubah redaksinya agar lebih mudah dipahami dan lebih sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Pada tahap kedua, versi akhir diisi oleh 520 mahasiswa di Indonesia, dan datanya dianalisis untuk menguji apakah kuesioner layak untuk digunakan. Hasilnya menunjukkan bahwa kuesioner ini dapat dipakai sebagai alat ukur untuk penelitian tentang keyakinan terkait melukai diri pada populasi berbahasa Indonesia.
Baca juga: Makna Mendalam Indonesia Raya 3 Stanza, Sri Untari: Bukan Sekadar Seremoni
Para peneliti menegaskan batas hasil ini. Kuesioner tersebut layak dipakai untuk penelitian, tetapi belum dapat digunakan untuk menyaring, mendiagnosis, atau menilai risiko seseorang, karena bukti untuk penggunaan itu belum ada. Hal itu penting karena melukai diri tanpa niat bunuh sering dikaitkan dengan upaya mengatasi emosi yang sulit, dan sejumlah penelitian internasional menemukannya cukup banyak pada remaja dan dewasa muda. Dengan tersedianya versi Indonesia, peneliti kini punya alat untuk mengkaji bagaimana keyakinan itu berkaitan dengan cara orang mengelola emosi dan mencari bantuan.
Penelitian ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs) ke-3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, khususnya target 3.4 tentang peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan. Dengan menyediakan alat ukur yang teruji, penelitian ini mendukung studi-studi kesehatan jiwa yang menjadi dasar upaya pencegahan dan penanganan.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.