Malang |JATIMSATUNEWS.COM: Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan YOMA) melakukan kunjungan benchmarking ke Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBiPK) Universitas Brawijaya (UB), Kamis (5/11/2026).
Kunjungan tersebut menjadi momentum pertukaran pengalaman dalam memperkuat sistem penjaminan mutu pendidikan tinggi, sekaligus mempelajari praktik baik pengelolaan kelembagaan yang diterapkan Universitas Brawijaya.
Sejumlah isu strategis menjadi fokus pembahasan, mulai dari tata kelola akademik, pengembangan sumber daya manusia (SDM), pengelolaan kerja sama industri, hingga optimalisasi layanan alumni dan pengembangan karier lulusan.
Dalam kegiatan tersebut, FBiPK UB menghadirkan sejumlah pimpinan dan pengelola unit strategis. Di antaranya Ketua Gugus Jaminan Mutu (GJM) Dr. Riyanti Isaskar, S.P., M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik Prof. Dr. Afifuddin Latif Adiredjo, S.P., M.Sc., Staf Ahli Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan Mahasiswa Dwi Retnoningsih, S.P., M.P., Ph.D., Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya Dr. Fahriyah, S.P., M.Si., serta Kepala Tata Usaha Evi Hayati, S.Ag., MAB.
Ketua GJM FBiPK UB, Dr. Riyanti Isaskar, menegaskan bahwa benchmarking bukan sekadar agenda kunjungan antarlembaga, melainkan sarana membangun budaya mutu melalui pertukaran pengetahuan dan pengalaman.
Menurutnya, penjaminan mutu perguruan tinggi tidak cukup hanya berorientasi pada pemenuhan standar administratif. Lebih dari itu, diperlukan tata kelola kelembagaan yang terencana, terukur, dan konsisten melakukan perbaikan.
“Penguatan sistem penjaminan mutu membutuhkan komitmen bersama dari seluruh unsur perguruan tinggi. Melalui kegiatan benchmarking ini, kita dapat saling berbagi praktik baik, mengidentifikasi peluang perbaikan, serta memperkuat tata kelola kelembagaan agar semakin adaptif terhadap perkembangan pendidikan tinggi,” ungkap Riyanti.
Kerja Sama Industri hingga Tracer Study Alumni
Salah satu materi yang menarik perhatian peserta adalah pengelolaan kerja sama industri dan mitra strategis di lingkungan Universitas Brawijaya.
Wakil Dekan Bidang Akademik, Prof. Dr. Afifuddin Latif Adiredjo, menjelaskan bahwa inisiasi kerja sama dapat berasal dari komunikasi langsung pihak eksternal dengan Badan Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (BPPM), maupun melalui usulan departemen yang kemudian ditindaklanjuti oleh unit terkait.
Dalam pengelolaan keuangan, UB menerapkan sistem virtual account untuk mendukung transparansi administrasi dan pengelolaan dana kegiatan. Setelah pemotongan institutional fee sesuai ketentuan, dana selanjutnya dikelola oleh tim penanggung jawab kerja sama.
Afifuddin menekankan pentingnya mekanisme kerja sama yang jelas, transparan, dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak.
“Kerja sama dengan industri dan mitra strategis perlu dibangun melalui mekanisme yang jelas, transparan, dan saling memberikan manfaat. Dengan tata kelola yang baik, kolaborasi tidak hanya menghasilkan dokumen kesepakatan, tetapi juga mampu mendukung kegiatan pendidikan, penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta penguatan kapasitas institusi,” jelasnya.
Sementara itu, Dwi Retnoningsih memaparkan strategi pengelolaan alumni melalui tracer study dan pengembangan career center.
Universitas Brawijaya telah mengembangkan sistem pelacakan alumni untuk mengetahui kondisi lulusan setelah menyelesaikan pendidikan. Pelaksanaannya didukung sistem informasi serta pengiriman pengingat secara berkala guna meningkatkan partisipasi alumni dalam pengisian data.
Hasil tracer study tersebut menjadi bahan evaluasi untuk mengukur relevansi kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja. Data yang diperoleh juga dimanfaatkan program studi dalam mengevaluasi kurikulum, meningkatkan layanan kemahasiswaan, serta mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia profesional.
“Tracer study bukan sekadar kegiatan pengumpulan data alumni, tetapi menjadi salah satu instrumen penting untuk mengevaluasi kualitas lulusan dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja,” terang Dwi.
Pemetaan Jabatan Fungsional Dosen Jadi Perhatian
Pembahasan berikutnya menyentuh aspek pengembangan SDM, khususnya strategi peningkatan jenjang karier dosen melalui kenaikan jabatan fungsional menuju Lektor Kepala.
Wakil Dekan Bidang Umum, Keuangan, dan Sumber Daya FBiPK UB, Dr. Fahriyah, menjelaskan bahwa fakultas menerapkan pemetaan jabatan fungsional untuk mengidentifikasi dosen yang telah memenuhi persyaratan atau eligible mengajukan kenaikan jabatan.
Pembaruan data dilakukan secara berkala setiap tiga bulan. Dengan mekanisme tersebut, bagian kepegawaian dapat mengetahui dosen yang berpotensi mengajukan kenaikan jabatan sekaligus memberikan pendampingan administratif secara proaktif.
Pendampingan mencakup pemahaman ketentuan angka kredit, kelengkapan dokumen, hingga penggunaan Sistem Informasi Sumber Daya Terintegrasi (SISTER) sesuai regulasi yang berlaku.
“Pengembangan karier dosen harus direncanakan dan dikawal secara sistematis. Melalui pemetaan jabatan yang diperbarui secara berkala, fakultas dapat mengidentifikasi kebutuhan pengembangan kompetensi sekaligus memastikan dosen yang memenuhi persyaratan memperoleh pendampingan dalam proses kenaikan jabatan fungsional,” paparnya.
Dukungan terhadap pengembangan karier dosen juga diperkuat peran tenaga kependidikan.
Kepala Tata Usaha FBiPK UB, Evi Hayati, menyampaikan bahwa layanan administrasi kepegawaian harus berjalan efektif dan responsif terhadap perubahan kebijakan.
Menurutnya, tenaga kependidikan tidak cukup hanya menunggu pengajuan dari dosen. Diperlukan identifikasi berkala, penyampaian informasi mengenai persyaratan terbaru, serta pendampingan selama proses pengusulan kenaikan jabatan.
Peningkatan kompetensi tenaga kependidikan juga menjadi perhatian melalui pelatihan, rotasi, mutasi, dan sosialisasi regulasi terbaru.
Evaluasi Pembelajaran sebagai Instrumen Perbaikan
Selain pengembangan SDM, benchmarking turut membahas evaluasi kinerja dosen melalui penilaian mahasiswa.
Universitas Brawijaya telah menerapkan sistem evaluasi pembelajaran yang memberikan ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan penilaian maupun keluhan melalui platform yang tersedia.
Hasil evaluasi tersebut kemudian ditindaklanjuti di tingkat program studi dan menjadi bagian dari monitoring serta evaluasi di tingkat universitas.
Mekanisme ini menempatkan evaluasi sebagai instrumen peningkatan kualitas pembelajaran secara berkelanjutan, bukan semata-mata sebagai dasar pemberian sanksi.
Melalui sistem tersebut, pengelola program studi dapat mengidentifikasi berbagai persoalan pembelajaran, melakukan evaluasi, serta merumuskan langkah perbaikan sesuai kebutuhan.
Kunjungan benchmarking Polbangtan YOMA menghasilkan sejumlah pembelajaran strategis, terutama dalam pemetaan karier dosen, pendampingan kenaikan jabatan fungsional, penguatan evaluasi pembelajaran, optimalisasi tracer study, serta tata kelola kerja sama eksternal.
Pertukaran pengalaman ini diharapkan tidak berhenti pada diskusi dan berbagi informasi, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penerapan praktik baik yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing institusi.
FBiPK Universitas Brawijaya berharap kegiatan tersebut menjadi langkah awal penguatan kolaborasi ant perguruan tinggi dalam membangun tata kelola pendidikan tinggi yang berkualitas, akuntabel, dan berorientasi pada perbaikan berkelanjutan. (Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.