Langsung ke konten
Jumat, 6 November 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Modal Rp100 Ribu, Mahasiswa UM Kadek Krisna Bangun Bisnis Ratusan Juta

Hal tersebut berhasil dibuktikan oleh Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Program Magister Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) asal Desa Gesing

Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Magister Psikologi UM yang sukses membangun bisnis beromzet ratusan juta rupiah dari modal minim.

Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Magister Psikologi UM yang sukses membangun bisnis beromzet ratusan juta rupiah dari modal minim. (Foto: Humas UM)

SAPA TOKOH | JATIMSATUNEWS.COM: Keterbatasan ekonomi tidak selalu menjadi akhir dari sebuah perjalanan hidup. Hal tersebut berhasil dibuktikan oleh Kadek Krisna Dewa Anggana, mahasiswa Program Magister Psikologi Universitas Negeri Malang (UM) asal Desa Gesing, Kabupaten Buleleng, Bali, yang sukses merintis bisnis beromzet ratusan juta rupiah per bulan dengan modal awal hanya Rp100 ribu.

Kadek Krisna Dewa Anggana bersama tim bisnisnya di kantor usaha yang telah mempekerjakan tujuh karyawan.
Kadek Krisna Dewa Anggana bersama tim bisnisnya di kantor usaha yang telah mempekerjakan tujuh karyawan. (Foto: Humas UM)

Perjuangan Masa Kecil di Tengah Keterbatasan

Krisna tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh dengan tantangan ekonomi dan konflik rumah tangga. Ibunya harus bekerja keras sebagai penjual sayur, tukang cuci, hingga pembantu rumah tangga, sementara ayahnya mengalami gangguan kejiwaan. Sejak kecil, ia kerap akrab dengan kesulitan hidup, mulai dari keterbatasan biaya sekolah hingga rasa minder yang sempat menyelimutinya.

Kendati demikian, ia tetap aktif berorganisasi dan dipercaya menjadi ketua kelas serta pengurus OSIS. Titik balik dalam hidupnya mulai terlihat ketika ia duduk di kelas VI SD berkat bimbingan seorang guru yang tegas dan perhatian, sehingga ia berhasil membangkitkan semangat belajarnya kembali. Setelah lulus SMP, ia diterima di SMKN Bali Mandara, sebuah sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Di sekolah tersebut, Krisna menempa kedisiplinan dan mengembangkan kemampuannya hingga berhasil menorehkan berbagai prestasi akademik maupun non-akademik.

Baca juga: Guru Besar PBA UIN Malang Perkenalkan Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis AI di Universitas Jambi

Iklan

Baca juga: Lulus 100% Ujian Kompetensi Nasional, Apoteker Baru Universitas Ma Chung Angkatan III Resmi Diambil Sumpah Profesi

Merintis Usaha dari Titik Nol hingga Punya Tujuh Karyawan

Usai lulus dari SMK, tantangan hidup kembali diuji ketika ia bekerja di perkebunan kelapa sawit di Sumatera Selatan dengan kondisi finansial yang sempat terpuruk akibat musibah dan kepergian sang ayah. Ia pun memutuskan kembali ke Bali dan mencoba peruntungan dengan berjualan berbagai produk secara daring, mulai dari masker, rempah-rempah, hingga tas.

Keberuntungan menghampirinya ketika seorang pelanggan menanyakan aksesori perhiasan. Dari modal awal Rp100 ribu untuk membeli beberapa aksesori, produk tersebut ludes terjual dalam sehari. Keuntungan itu ia putar kembali hingga dalam waktu sekitar sepuluh bulan, ia mampu menyewa toko, merekrut karyawan, dan memanfaatkan platform digital. Kini, usaha yang dirintisnya telah berkembang pesat dengan mempekerjakan tujuh orang karyawan serta meraup omzet hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Ilmu Psikologi UM sebagai Landasan Bisnis

Di tengah kesibukannya mengelola bisnis, Krisna memantapkan langkah untuk melanjutkan studi magister di Universitas Negeri Malang. Menurutnya, ilmu psikologi yang ia pelajari di kampus memberikan sudut pandang yang sangat luas, terutama dalam memahami pola pikir manusia, perilaku konsumen, komunikasi, hingga cara mengelola hubungan kerja dengan timnya di kantor.

Bagi Krisna, pendidikan tinggi bukan sekadar sarana mengejar gelar akademik semata, melainkan wadah untuk membentuk pola pikir, ketahanan mental, serta cara mencari solusi atas setiap persoalan hidup. Ia berpesan kepada generasi muda agar tidak pernah takut menghadapi keterbatasan, sebab proses belajar dan keberanian untuk terus mencoba adalah kunci utama dalam menjemput impian.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.