Langsung ke konten
Minggu, 8 November 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Menanti Hoegeng di Era Modern: Oase Kapolri Suyudi

Anomali itu datang dari pucuk pimpinan Polri, Kapolri Suyudi. Publik menangkap citra yang belakangan terasa langka.

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

AA LaNyalla Mahmud Mattalitti (Foto: Dok.pri)

Oleh: AA LaNyalla Mahmud Mattalitti

Kekuasaan adalah ujian paling telanjang bagi karakter manusia. Semakin tinggi jabatan, semakin besar godaan untuk angkuh. Melihat ke bawah dengan dagu terangkat.

Namun, ada anomali yang menyegarkan hari-hari ini. Anomali itu datang dari pucuk pimpinan Polri, Kapolri Suyudi.

Baca juga: Ketum Perkumpulan Rumah Juang Rampas Setia 08 Berdaulat, Mengucapkan Selamat Kepada Kapolri Baru Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto

Baca juga: DPR Setujui Pergantian Kapolri, Suyudi Gantikan Listyo Sigit

Publik menangkap citra yang belakangan terasa langka.

Seorang jenderal bintang empat yang begitu santun. Nada bicaranya tenang. Tertata. Jauh dari kesan sombong. Sikap ini memanen apresiasi luas. Di tengah lelahnya kita melihat pameran kekuasaan, gaya Kapolri Suyudi hadir laksana oase.

Melihat sosoknya, ingatan bangsa ini ditarik mundur. Pada satu nama legendaris: Jenderal Hoegeng Iman Santoso.

Bagi kita, Hoegeng bukan sekadar mantan Kapolri. Ia adalah monumen integritas.

Kita ingat gurauan abadi Gus Dur. Hanya ada tiga polisi jujur: patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng.

Iklan

Beliau dikenang bukan hanya karena anti-suap. Ia dikenang karena memanusiakan manusia. Ia memperlakukan rakyat kecil dan pejabat dengan kesantunan yang setara. Ia tegas tanpa perlu beringas. Berwibawa tanpa harus ditakuti.

Kesantunan dan kerendahan hati Kapolri Suyudi hari ini adalah modal berharga. Ini menunjukkan kecerdasan emosional. Menunjukkan empati. Dua pilar utama penyangga keadilan.

Namun, publik tentu menyimpan harapan lebih. Lebih dari sekadar sikap santun.

Harapan terbesar kita saat ini adalah melihat kesantunan tersebut bertransformasi. Menjadi keberanian tanpa kompromi. Kita berharap Kapolri Suyudi bisa menjadi Hoegeng di era saat ini.

Menjadi Hoegeng masa kini butuh nyali baja di balik tutur kata lembut. Berani membersihkan institusi dari oknum yang menciderai. Berani menolak intervensi politik. Menjadikan hukum murni sebagai panglima, bukan alat tawar-menawar.

Kesantunan Kapolri Suyudi harus jadi pelindung bagi rakyat kecil. Sekaligus menjadi palu godam bagi para mafia hukum.

Zaman memang telah berubah. Tantangan Polri hari ini jauh lebih rumit dibanding era 70-an. Kejahatan siber. Konflik kepentingan. Hingga sorotan tajam media sosial. Kursi Tri Brata Satu kini menjadi salah satu kursi paling panas di republik ini.

Namun, esensi harapan rakyat tidak pernah berubah. Kita merindukan sosok pengayom sejati. Kesantunan Kapolri Suyudi telah merebut hati publik di langkah awalnya. Kini, doa rakyat menyertai langkah selanjutnya.

Semoga kelak sejarah mencatat dengan tinta emas. Suyudi bukan sekadar sebagai Kapolri yang santun. Tetapi sebagai “Hoegeng Modern” yang berhasil mengembalikan muruah Polri ke puncak tertingginya.

Jakarta, 8 Nopember 2026

Penulis adalah Anggota DPD-MPR RI/ Ketua DPD RI ke-5.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.