Narasumber: Anis Hidayatie, S.Ag.
SMA NU KEPANJEN
Rabu, 14 Oktober 2026 | Pukul 08.00–selesai
Aula Utama SMA NU Kepanjen
“Saring Sebelum Sharing!”
ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: PENGANTAR
Setiap hari kita menerima banyak informasi melalui WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube, Facebook, dan berbagai portal berita. Dalam hitungan detik, informasi dapat menyebar kepada ratusan bahkan ribuan orang. Namun, informasi yang viral belum tentu benar.
Literasi digital bukan sekadar kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital juga berarti mampu memeriksa kebenaran informasi, memahami konteks, membedakan fakta dan opini, serta bertanggung jawab atas setiap informasi yang dibagikan.
Workshop ini disusun untuk membantu guru dan siswa mengenali hoaks, melakukan verifikasi, menulis berita secara baik dan sistematis, serta membangun budaya digital yang sehat.
TUJUAN WORKSHOP
- Memahami pengertian, ciri, dan dampak hoaks.
- Membedakan fakta, opini, informasi keliru, dan informasi yang menyesatkan.
- Menguasai langkah dasar verifikasi sumber, foto, video, dan isi berita.
- Memahami unsur 5W+1H dan struktur berita piramida terbalik.
- Menerapkan etika digital serta memahami tanggung jawab dalam menyebarkan informasi.
- Mendorong guru dan siswa menjadi pelopor literasi digital di lingkungan sekolah.
MATERI 1 — MENGENALI HOAKS DI ERA DIGITAL
1.Apa Itu Hoaks?
Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disajikan seolah-olah benar. Informasi semacam ini dapat dibuat atau disebarkan untuk menipu, memprovokasi, mencari keuntungan, atau merugikan pihak tertentu. Tidak semua informasi keliru dibuat dengan sengaja; ada pula orang yang meneruskannya karena percaya bahwa informasi itu benar.Hoaks dapat muncul dalam berbagai bentuk:
- Berita palsu tentang tokoh, sekolah, atau lembaga.
- Foto lama yang diklaim sebagai peristiwa baru.
- Video asli yang diberi keterangan tidak sesuai kejadian.
- Informasi kesehatan, pendidikan, atau bantuan yang belum terverifikasi.
- Pesan berantai yang mendesak penerima agar segera menyebarkannya.
- Konten manipulasi digital atau kecerdasan buatan (AI) yang dibuat seolah-olah nyata.
2. Mengapa Hoaks Mudah Menyebar?
- Judul provokatif: Judul mengejutkan memancing rasa penasaran, takut, marah, atau keinginan untuk segera membagikan.
- Kepercayaan terhadap pengirim: Pesan dari teman, keluarga, guru, atau tokoh yang dikenal sering langsung dipercaya.
- Emosi lebih cepat daripada logika: Rasa takut, marah, sedih, atau benci dapat membuat orang mengabaikan verifikasi.
- Budaya asal membagikan: Sebagian pengguna meneruskan informasi tanpa memastikan sumber dan kebenarannya.
MATERI 2 — TEKNIK VERIFIKASI INFORMASI
3. Bedakan Fakta, Opini, dan Hoaks

Opini tidak otomatis merupakan hoaks. Informasi yang belum terbukti juga tidak boleh langsung dinyatakan palsu. Sikap yang tepat adalah menunda penyebaran sampai informasi memperoleh verifikasi yang memadai.
4. Tujuh Hal yang Perlu Diperiksa
- Judul: apakah terlalu sensasional atau memancing kemarahan?
- Sumber: siapa yang menerbitkan informasi dan apakah identitasnya jelas?
- Penulis dan narasumber: apakah dapat diketahui dan dihubungi?
- Waktu: kapan informasi diterbitkan dan apakah foto/video berasal dari peristiwa lama?
- Bukti: apakah tersedia dokumen, data, pernyataan resmi, atau bukti lain?
- Konteks: apakah kutipan, foto, atau video ditampilkan secara utuh?
- Pembanding: apakah sumber kredibel lain melaporkan hal yang sama?
Satu ciri saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah berita adalah hoaks. Pemeriksaan harus dilakukan secara menyeluruh.
6. Rumus SARING
- S — Sumbernya periksa: Kenali media, penulis, pengirim, dan sumber asli informasi.
- A — Amati isi dan tanggal: Periksa waktu penerbitan, lokasi, konteks, serta kesesuaian foto dan video.
- R — Rujuk sumber pembanding: Cari keterangan dari sumber resmi atau media kredibel lainnya.
- I — Investigasi bukti: Telusuri foto, dokumen, kutipan, dan bukti pendukung.
- N — Nilai sebelum menyebarkan: Jika belum terverifikasi, jangan meneruskan. Jika terbukti salah, bantu hentikan penyebarannya dengan koreksi yang tepat.
Catatan: SARING merupakan mnemonik pembelajaran dalam workshop ini, bukan standar verifikasi resmi dari lembaga tertentu.
6. Sumber dan Alat Verifikasi
- CekFakta dan TurnBackHoax untuk menelusuri pemeriksaan fakta yang telah dipublikasikan.
- Situs dan akun resmi lembaga yang terkait dengan informasi, seperti sekolah, pemerintah, atau kepolisian.
- Media massa kredibel yang mencantumkan sumber, waktu, dan bukti pemberitaan.
- Google Lens atau pencarian gambar terbalik untuk memeriksa kemungkinan penggunaan foto lama atau konteks yang berbeda.
Mesin pencari dan AI dapat membantu menemukan petunjuk, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa. Jangan menjadikan jawaban AI sebagai satu-satunya bukti kebenaran berita.
MATERI 3 — MENULIS DAN MENGANALISIS BERITA
7. Apa Itu Berita yang Baik?
Berita adalah laporan mengenai peristiwa atau fakta yang memiliki nilai informasi bagi masyarakat. Berita yang baik perlu akurat, berimbang, jelas, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Berita tidak harus bombastis; yang utama adalah membantu pembaca memahami peristiwa berdasarkan fakta.
8. Unsur 5W+1H

9. Struktur Berita: Piramida Terbalik
- Judul: Ringkas, jelas, menarik, dan sesuai fakta.
- Teras berita: Memuat informasi paling penting dan inti peristiwa.
- Tubuh berita: Berisi kronologi, data, kutipan, dan penjelasan.
- Penutup: Memuat informasi tambahan atau tindak lanjut yang relevan.
10. Contoh Naskah Berita
SMA NU Kepanjen Gelar Workshop Literasi Digital, Ajak Guru dan Siswa Tolak Hoaks
KEPANJEN — SMA NU Kepanjen menjadwalkan workshop literasi digital bertema “Menolak Menyebarkan Berita Hoaks” pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung mulai pukul 08.00 WIB di Aula Utama SMA NU Kepanjen ini ditujukan kepada seluruh dewan guru dan siswa.
Workshop menghadirkan Anis Hidayatie, S.Ag., sebagai narasumber. Materi yang disiapkan mencakup keterampilan menulis, mengulas, dan menganalisis berita, sekaligus menyusun berita secara baik dan sistematis.
Melalui kegiatan tersebut, peserta diharapkan memahami pentingnya memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya melalui media sosial maupun aplikasi percakapan.
Kemampuan mengenali sumber informasi, membedakan fakta dan opini, serta memeriksa kesesuaian isi berita dengan bukti menjadi bagian penting dalam membangun budaya literasi digital di lingkungan sekolah.
Catatan redaksi: Contoh ini disusun berdasarkan informasi poster dan merupakan naskah pra-acara. Tambahkan kutipan narasumber, tanggapan peserta, dan hasil kegiatan setelah diperoleh langsung di lokasi.
MATERI 4 — ETIKA DIGITAL DAN TANGGUNG JAWAB HUKUM
11. Dampak Penyebaran Hoaks
- Merusak nama baik seseorang atau lembaga.
- Memicu perundungan, konflik, dan permusuhan.
- Menimbulkan kepanikan di sekolah atau masyarakat.
- Membuat orang mengambil keputusan berdasarkan informasi keliru.
- Mengurangi kepercayaan terhadap media, institusi, dan sesama warga.
- Menimbulkan konsekuensi hukum sesuai perbuatan, konteks, dan peraturan yang berlaku.
12. Prinsip Hukum yang Perlu Dipahami
- Kebebasan berekspresi harus dijalankan dengan tanggung jawab.
- Kritik, pendapat, dan laporan faktual tidak otomatis merupakan pelanggaran hukum.
- Penilaian hukum perlu mempertimbangkan isi, konteks, bukti, unsur perbuatan, dan ketentuan yang relevan.
- Informasi pribadi, foto, dan identitas orang lain tidak boleh disebarkan sembarangan.
- Jika terjadi dugaan pelanggaran, simpan bukti dan mintalah bantuan orang dewasa tepercaya atau pihak berwenang.
Sebagai rujukan awal, peserta dapat mengenal UU Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas UU Informasi dan Transaksi Elektronik. Penerapan hukum harus memperhatikan perubahan peraturan dan putusan pengadilan yang berlaku. Tidak setiap informasi keliru otomatis merupakan tindak pidana.
13. Etika Bermedia Sosial: BERETIKA
- B — Berpikir sebelum mengunggah.
- E — Evaluasi sumber informasi.
- R — Rahasiakan data pribadi yang sensitif.
- E— Empati terhadap pihak yang terdampak.
- T — Teliti sebelum membagikan.
- I — Ingat jejak digital.
- K — Koreksi informasi salah dengan cara santun.
- A — Ambil tanggung jawab atas tindakan digital.
MATERI 5 — PRAKTIK DAN DISKUSI
14. Simulasi Verifikasi
Kasus 1: Pesan berantai sekolah
Beredar pesan WhatsApp yang menyatakan bahwa besok semua sekolah diliburkan. Pesan tidak mencantumkan tanggal maupun tautan pengumuman resmi.Tindakan tepat: periksa kanal resmi sekolah atau dinas pendidikan sebelum meneruskan.
Kasus 2: Foto kejadian viral
Foto kecelakaan beredar dengan keterangan bahwa peristiwa terjadi hari ini di Kepanjen, tetapi sumbernya tidak jelas.Tindakan tepat: periksa tanggal, lokasi, sumber asli, dan konteks foto.
Kasus 3: Berita dari situs tidak dikenalSebuah situs menuduh seorang guru melakukan pelanggaran berat tanpa bukti dan tanpa tanggapan pihak terkait.Tindakan tepat: periksa sumber dan bukti, cari konfirmasi, serta jangan menyebarkan dugaan sebagai fakta.
15. Latihan Kelompok: Menulis Berita
Pilih satu peristiwa nyata di lingkungan sekolah, misalnya kegiatan literasi, kebersihan sekolah, prestasi siswa, atau kegiatan sosial. Kemudian lakukan langkah berikut:
- Tentukan fakta utama yang akan diberitakan.
- Kumpulkan informasi melalui wawancara dan observasi.
- Periksa nama, jabatan, tanggal, lokasi, dan data pendukung.
- Tulis judul dan teras berita.
- Kembangkan berita menggunakan unsur 5W+1H.13. Periksa kembali naskah sebelum dipublikasikan.
Evaluasi hasil kelompok berdasarkan akurasi, kelengkapan informasi, struktur tulisan, bahasa, dan etika jurnalistik.
16. Menulis Judul yang Menarik Tanpa Menyesatkan
Contoh judul kurang baik: “HEBOH! Sekolah Akan Ditutup Besok, Semua Siswa Wajib Waspada!”
Masalah: Sensasional, tidak jelas sumbernya, dan menyatakan sesuatu yang belum terbukti.
Alternatif yang lebih bertanggung jawab: “Informasi Libur Sekolah Perlu Dikonfirmasi melalui Pengumuman Resmi”.
Judul boleh menarik perhatian, tetapi tidak boleh menipu pembaca atau melebih-lebihkan fakta.
MATERI 6 — GURU DAN SISWA SEBAGAI AGEN LITERASI DIGITAL

17. Guru sebagai Teladan Literasi
Guru dapat membiasakan pemeriksaan sumber, mengajarkan perbedaan fakta dan opini, serta mendorong diskusi terbuka dan santun. Informasi meragukan dapat dijadikan bahan belajar tentang verifikasi, bukan langsung diteruskan ke grup sekolah.
18. Siswa sebagai Pelopor Anti-Hoaks
- Tidak menyebarkan pesan yang belum terverifikasi.
- Mengingatkan teman secara sopan ketika menemukan informasi meragukan.
- Menggunakan media sosial untuk berbagi pengetahuan dan karya positif.
- Menghormati privasi serta martabat orang lain.
- Melaporkan konten berbahaya melalui kanal yang sesuai.
- Mengembangkan budaya membaca, menulis, dan memeriksa fakta.
19. Deklarasi Anti-Hoaks SMA NU Kepanjen
Kami, keluarga besar SMA NU Kepanjen, berkomitmen untuk:
- Mengutamakan kebenaran dan kejujuran dalam menerima maupun menyampaikan informasi.
- Memeriksa sumber, fakta, dan konteks sebelum membagikan berita.
- Tidak membuat, menyebarkan, atau memperkuat informasi palsu dan menyesatkan.
- Menghormati privasi, menjaga etika, serta bertanggung jawab atas jejak digital.
- Menggunakan media digital untuk belajar, berkarya, menginspirasi, dan menebarkan kebaikan.
SARING SEBELUM SHARING!Cerdas Bermedia, Bijak Berkata, Bertanggung Jawab dalam Berkarya.
NASKAH PENUTUP NARASUMBER
Bapak/Ibu guru dan adik-adik siswa yang saya banggakan,
Kita mungkin tidak bisa menghentikan seluruh informasi palsu yang beredar di internet. Namun, kita bisa memilih untuk tidak menjadi bagian dari penyebarannya.
Jadilah pembaca yang kritis, penulis yang jujur, dan pengguna media sosial yang bertanggung jawab. Jangan sampai keinginan menjadi yang pertama membagikan berita membuat kita mengabaikan kebenaran.
Satu informasi yang salah dapat merugikan orang lain, sedangkan satu klarifikasi yang tepat dapat membantu menghentikan kesalahpahaman. Mari kita bangun budaya literasi dari ruang kelas, lingkungan sekolah, dan diri kita sendiri.
Jangan hanya cerdas menggunakan teknologi. Jadilah cerdas dalam menilai informasi, bijak dalam berkomunikasi, dan bertanggung jawab dalam menyebarkan berita.
Terima kasih. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.