PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Semangat pengabdian tidak mengenal batas ruang dan profesi. Hal inilah yang tercermin dalam perjalanan Risdiyan Tri Wahyudi, M.Pd., Kepala SDN Ngadirejo I Tutur, Kabupaten Pasuruan, yang juga aktif menggerakkan Kelompok Tani Sumber Makmur 2 di Desa Sumberngepoh, Kecamatan Lawang, Kabupaten Malang.
Di satu sisi, ia mengemban amanah mencerdaskan generasi muda melalui dunia pendidikan. Di sisi lain, ia turut mengambil bagian dalam membangun kemandirian petani melalui penguatan kelompok dan pertukaran pengetahuan di sektor pertanian.
Kiprahnya bersama Kelompok Tani Sumber Makmur 2 semakin mendapat ruang ketika kelompok binaan Bank Indonesia Malang tersebut menerima kunjungan petani binaan Bank Indonesia dari Papua. Pertemuan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus forum berbagi pengalaman mengenai pengelolaan pertanian dan pengembangan kelompok tani.
Baca juga: Kabiro UIN Malang Ikuti Arahan Sekjen Kemenag, AI dan Kemandirian Kampus Jadi Fokus
Suasana hangat dan penuh keakraban mewarnai pertemuan antarpelaku pertanian lintas daerah tersebut. Para petani saling bertukar cerita, pengalaman, serta wawasan mengenai aktivitas pertanian yang dijalankan di wilayah masing-masing.
Bagi Risdiyan, pertemuan ini memiliki makna lebih dari sekadar kunjungan kelembagaan. Kehadiran petani dari Papua menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, membangun persaudaraan, dan memperkaya wawasan melalui pengalaman nyata sesama petani.
“Pertanian akan semakin berkembang apabila para petani memiliki semangat untuk terus belajar, saling berbagi pengalaman, dan membangun kerja sama. Setiap daerah memiliki potensi dan pengalaman yang dapat menjadi inspirasi bagi daerah lainnya,” demikian semangat yang tercermin dalam kegiatan tersebut.
Menghubungkan Pengetahuan dan Pengalaman
Kelompok Tani Sumber Makmur 2 merupakan bagian dari kelompok binaan Bank Indonesia Malang yang memperoleh pendampingan dalam pengembangan kapasitas dan potensi pertanian.
Dalam perannya sebagai penggerak kelompok, Risdiyan turut mendorong tumbuhnya semangat kebersamaan dan keterbukaan terhadap pengetahuan baru. Ia meyakini bahwa kemajuan pertanian membutuhkan keterlibatan aktif petani, kelembagaan yang kuat, serta kolaborasi berbagai pihak.
Kunjungan petani binaan BI Papua menjadi salah satu wujud nyata pertukaran pengetahuan tersebut. Pengalaman yang dibagikan diharapkan dapat memperkaya wawasan peserta sekaligus membuka peluang kerja sama antarkelompok tani.
Pertemuan ini juga memperlihatkan bahwa hubungan antarpelaku pertanian tidak harus dibatasi oleh jarak geografis. Petani dari Jawa Timur dan Papua dapat bertemu dalam satu semangat yang sama, yakni meningkatkan kapasitas dan mengembangkan pertanian yang berkelanjutan.
Pengabdian yang Melampaui Ruang Kelas
Menariknya, aktivitas Risdiyan di bidang pertanian berjalan berdampingan dengan tanggung jawabnya sebagai kepala sekolah di SDN Ngadirejo I Tutur.
Dalam dunia pendidikan, ia berupaya membangun sekolah yang unggul, berkarakter, berlandaskan nilai-nilai Pancasila, serta memiliki kepedulian terhadap lingkungan.
Semangat membangun manusia dan lingkungan tersebut juga tercermin dalam aktivitas pemberdayaan petani. Baginya, pendidikan dan pertanian memiliki keterkaitan erat karena keduanya membutuhkan pengetahuan, kedisiplinan, kerja sama, dan keberlanjutan.
Pengalaman menggerakkan kelompok tani menjadi ruang pembelajaran sosial yang mempertemukan berbagai latar belakang masyarakat. Sementara pengalaman memimpin sekolah memperkuat komitmennya untuk terus menumbuhkan budaya belajar dan semangat gotong royong.
Dua peran tersebut menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang pendidik dapat hadir dalam berbagai bentuk dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Dari Sumberngepoh untuk Pertanian Indonesia
Kunjungan petani binaan Bank Indonesia Papua ke Kelompok Tani Sumber Makmur 2 menjadi momentum berharga dalam mempererat hubungan antarkelompok tani binaan Bank Indonesia.
Dari Desa Sumberngepoh, Lawang, terbangun semangat berbagi yang mempertemukan pengalaman petani dari berbagai wilayah Indonesia.
Bersama para petani, Risdiyan terus mengambil bagian dalam perjalanan membangun pertanian yang berdaya, berpengetahuan, dan berorientasi pada keberlanjutan.
Sebab baginya, keberhasilan sebuah pengabdian bukan hanya diukur dari apa yang dicapai secara pribadi, tetapi juga dari seberapa banyak orang yang dapat tumbuh, belajar, dan memperoleh manfaat dari kebersamaan.
Dari sekolah ia menanamkan ilmu, dari lahan pertanian ia menumbuhkan kemandirian. Dua jalan pengabdian yang berbeda, tetapi bertemu dalam satu tujuan: menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan masa depan Indonesia.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.