Langsung ke konten
Sabtu, 3 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Tabuh Gong, Menag Nazaruddin Umar Tandai Peluncuran Maliki Pesantren Metric 2026 di UIN Malang

Di hadapan sivitas akademika, Menag sekaligus mendorong UIN Malang berkembang bukan hanya sebagai kampus unggul secara akademik, tetapi juga sebagai kampus

Menag sedang menyampaikan sambutan

Menag sedang menyampaikan sambutan (Foto: Humas UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Menteri Agama Nazaruddin Umar menabuh gong sebagai penanda dimulainya Maliki Pesantren Metric (MPM) 2026 di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Jumat (2/10/2026). Di hadapan sivitas akademika, Menag sekaligus mendorong UIN Malang berkembang bukan hanya sebagai kampus unggul secara akademik, tetapi juga sebagai kampus mubarakah dan kampus cinta.

MPM 2026 merupakan sistem yang dikembangkan UIN Malang untuk memetakan, mengukur, merekognisi, membandingkan, dan memeringkat kinerja pesantren di Indonesia.

Rektor UIN Malang Prof. Dr. Ilfi Nur Diana, M.Si. menjelaskan, MPM memadukan rekognisi sejawat dengan penilaian kinerja kelembagaan berbasis data dan bukti yang dapat diverifikasi.

Baca juga: UIN Malang Perkuat Internasionalisasi melalui Keikutsertaan dalam NLKH Indonesia Members Meeting 2026

Baca juga: Berawal dari Magang, Mahasiswa MPI UIN Malang Dipercaya Jadi Pegawai Kontrak di Kementerian Haji dan Umrah

“MPM bukan akreditasi, mekanisme perizinan, pengganti pendataan resmi Kementerian Agama, ataupun instrumen administratif pemerintah,” kata Ilfi.

Menurutnya, MPM dirancang sebagai ruang refleksi bagi pesantren untuk melihat kembali pengelolaan kelembagaan sekaligus mengenali praktik baik yang telah dijalankan.

Proses MPM 2026 mencakup registrasi dan aktivasi akun, pengisian data serta kuesioner, penyampaian bukti, survei rekognisi sejawat, verifikasi, hingga pengumuman hasil.

Ilfi menegaskan, orientasi MPM tidak berhenti pada pemeringkatan.

“Keikutsertaan ini tidak semata-mata ditujukan untuk memperoleh peringkat, tetapi juga menjadi sarana refleksi, dokumentasi praktik baik, penguatan tata kelola, pembelajaran bersama, dan peningkatan mutu secara berkelanjutan,” ujarnya.

Ia mengajak pesantren di seluruh Indonesia berpartisipasi dalam MPM 2026 sekaligus menyampaikan apresiasi kepada para pengasuh dan pengelola pesantren, akademisi, praktisi, tim penyusun, serta pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangannya.

Menag Dorong UIN Malang Jadi Kampus Mubarakah

Usai menandai peluncuran MPM, Nazaruddin menggeser perhatian pada persoalan yang lebih mendasar dalam pendidikan tinggi: apa yang dihasilkan perguruan tinggi setelah seluruh proses pendidikan berlangsung?

Iklan

Menurutnya, keberhasilan perguruan tinggi tidak cukup dilihat dari input dan output. Pengukuran juga harus memperhatikan outcome dan impact.

“Cara mengukur perguruan tinggi adalah lihat input, output, outcome, impact. Apakah anak-anak kita lahir sebagai seorang ilmuwan, intelektual, atau cendekiawan?” ujar Nazaruddin.

Dari kerangka tersebut, Nazaruddin mendorong UIN Malang membangun karakter sebagai kampus mubarakah, yakni kampus yang tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga menghadirkan keberkahan dalam proses pendidikan.

Ia melihat UIN Malang memiliki sejumlah modal untuk menuju arah tersebut, mulai dari keberadaan mahasiswa penghafal Al-Qur’an, dukungan pembiayaan pendidikan, hingga program beasiswa bagi mahasiswa luar negeri.

“Bagaimana menjadikan kampus ini kampus mubarakah. Tapi saya yakin betul, namanya saja Kampus Ar-Rahman, Kampus Iqra, kampus mana yang lebih berkah dari ini?” katanya.

Nazaruddin juga menekankan pentingnya sinergi sebagai bagian dari keberkahan lembaga pendidikan. Ia mengutip prinsip al-barakatu fil jama’ah untuk menggambarkan bahwa keberkahan dapat tumbuh melalui kebersamaan.

“Di mana ada sinergi, di situ ada energi,” ujarnya.

Dari Kampus Mubarakah ke Kampus Cinta

Tidak berhenti pada gagasan kampus mubarakah, Nazaruddin juga mengajak UIN Malang mengembangkan pendidikan yang berorientasi pada nilai cinta dan kemanusiaan.

Ia menilai pesan Al-Qur’an memiliki dimensi cinta yang luas dan berharap nilai tersebut menjadi bagian dari karakter pendidikan di lingkungan kampus.

Iklan

“Jadi, 6.666 ayat itu kalau dipadatkan menjadi hanya satu kata, maka kosakata itu adalah: cinta,” katanya.

Menurut Nazaruddin, agama tidak semestinya dipahami atau disampaikan melalui kebencian.

“Kalau ada orang bicara agama tetapi kebencian, itu bukan membicarakan agama, lawan agama yang dibicarakan. Maka dari itu, UIN Malang ini harus menjadi pelopor kampus cinta,” ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya penguasaan bahasa untuk memahami kandungan Al-Qur’an. Kekayaan bahasa Arab dalam Al-Qur’an, menurutnya, membutuhkan kemampuan kebahasaan yang kuat agar pesan yang terkandung di dalamnya dapat dipahami secara mendalam.

Bagi Nazaruddin, keberkahan lembaga pendidikan juga tidak dapat disederhanakan menjadi persoalan fasilitas, teknologi, atau capaian statistik.

“Keberkahan itu tidak berbanding lurus dengan kehebatan statistik, alat canggih, dan sebagainya. Tapi keberkahan itu bisa diperoleh langsung dari Allah SWT,” katanya.

Ia berharap UIN Malang dapat berkembang menjadi Al-Buq’atul Mubarakah, kampus yang memadukan keunggulan ilmu pengetahuan dengan nilai spiritual dan kemanusiaan.

“Kita bermimpi, mudah-mudahan mimpi itu menjadi kenyataan. Ini akan menjadi kampus Al-Buq’atul Mubarakah,” pungkasnya.

Peluncuran MPM 2026 dalam rangkaian Lustrum ke-13 UIN Malang dengan demikian tidak hanya menjadi penanda dimulainya sebuah sistem pemetaan pesantren. Momentum tersebut juga menjadi ruang bagi UIN Malang untuk memperluas percakapan tentang mutu pendidikan tinggi, keberkahan, sinergi, dan nilai kemanusiaan dalam kehidupan akademik.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.