MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) di kancah internasional. Melalui gagasan pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence / AI) untuk mendukung rehabilitasi ekosistem mangrove, delegasi UMM sukses membawa pulang Bronze Medal dalam ajang International Student Summit (ISS) ke-3 di Kuala Lumpur, Malaysia.
Kompetisi esai bertaraf internasional dengan subtema teknologi ini diselenggarakan oleh Sentosa Foundation pada 11–14 September 2026. Ajang bergengsi tersebut diikuti oleh peserta dari berbagai negara, mulai dari Indonesia, Malaysia, Thailand, hingga India.
Kolaborasi Lintas Program Studi Ciptakan “Mangrove Guard”
Tim UMM mengusung gagasan inovatif bertajuk Mangrove Guard. Konsep ini memadukan teknologi AI dan Geographic Information System (GIS) untuk membantu menganalisis data lingkungan secara akurat, sekaligus mengidentifikasi wilayah mana saja yang menjadi prioritas utama untuk rehabilitasi mangrove.
Baca juga: Mahasiswa Undip Teliti Potensi Daun Mangrove Lindur sebagai Kandidat Antikanker
Tim hebat ini digawangi oleh Wildan Noverliansyah Umasugi dan Julian Abi Mustofa Nabila dari Program Studi Informatika, Fakultas Teknik, serta Navila Mecca dari Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian dan Peternakan. Ketiganya merupakan mahasiswa angkatan 2024 yang dengan apik menggabungkan perspektif teknologi informasi serta ilmu kehutanan dalam menyusun gagasan tersebut.
Julian menjelaskan bahwa kolaborasi lintas program studi ini menjadi kunci penting dalam penyusunan karya mereka. Ia menuturkan, mahasiswa Informatika berkontribusi besar dalam merancang pendekatan teknologi serta pengolahan data, sementara mahasiswa Kehutanan memperkaya materi melalui sudut pandang karakteristik ekosistem dan kebutuhan nyata di lapangan.
“Kami membawakan gagasan Mangrove Guard dengan proses yang cukup kompleks. Mulai dari pengumpulan paper hingga pengumuman ke semifinal dengan mempresentasikan gagasan menggunakan poster dan PPT,” ungkap Julian saat menceritakan tahapan kompetisi.
Ia menambahkan, perpaduan antar-disiplin ilmu tersebut membuat gagasan yang mereka susun tidak hanya berorientasi pada kecanggihan teknologi digital semata, tetapi juga sangat memperhatikan aspek keberlanjutan konservasi lingkungan.
Integrasikan AI dan GIS Demi Rehabilitasi Tepat Sasaran
Gagasan Mangrove Guard lahir dari keprihatinan tim terhadap efektivitas rehabilitasi mangrove saat ini yang dinilai masih memerlukan pengembangan lebih lanjut. Menurut mereka, keberhasilan pelestarian tidak cukup hanya bertumpu pada aksi penanaman kembali, melainkan sangat bergantung pada ketepatan informasi kondisi lingkungan serta akurasi penentuan lokasi penanganan.
Melalui Mangrove Guard, tim mengusulkan integrasi sistem AI dan GIS untuk mengolah data lingkungan secara komprehensif dan memetakan wilayah prioritas secara presisi. Dalam rancangannya, salah satu sumber data utama yang dimanfaatkan adalah ERA5-Land dengan metode random forest sebagai pendekatan pengolahan datanya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya digunakan untuk mengembangkan sistem digital, tetapi juga bisa dimanfaatkan untuk mendukung pelestarian lingkungan dan pengelolaan ekosistem mangrove yang lebih berkelanjutan,” tegas Julian.
Tantangan Bahasa Inggris dan Kunci Menuju Keberhasilan
Perjalanan menuju panggung internasional tentu tidak ditempuh tanpa rintangan. Para mahasiswa mengaku sempat menemui tantangan besar, mulai dari kebutuhan untuk memperdalam pemahaman ekosistem mangrove, menyusun kerangka aplikasi dalam bentuk esai, hingga tuntutan untuk melakukan presentasi menggunakan bahasa Inggris yang menjadi pengalaman baru bagi mereka.
Meski demikian, semangat juang tim tidak surut. Mereka tetap memanfaatkan setiap kesempatan untuk berlatih secara intensif—mulai dari stasiun, bandara, hingga kamar hotel—sebelum akhirnya tampil percaya diri di hadapan dewan juri. Keberhasilan keikutsertaan mereka ini juga tidak lepas dari dukungan pendanaan penuh dari kemahasiswaan UMM, Program Studi Kehutanan, serta UKM Forum Diskusi Ilmiah.
Menutup pengalamannya, Julian berharap prestasi gemilang ini dapat menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lainnya untuk berani menelurkan gagasan kreatif, aktif mengikuti kompetisi global, serta tidak mudah patah semangat tatkala menghadapi rintangan.
“Perlu kalian ingat, bahwa kegagalan adalah langkah awal dalam berproses menuju keberhasilan,” pungkas Julian memotivasi. (Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.