Langsung ke konten
Selasa, 27 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Sapa Tokoh

Hasanuddin Wahid: Jangan Lelah Jadi Pendekar, Prestasi Harus Berpijak pada Tradisi

Silaturahmi Ketua Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam dengan Hasanuddin Wahid, pengurus pimpinan pusat Pagar Nusa di Kota Batu (26/10/2026).

Silaturahmi Ketua Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam dengan Hasanuddin Wahid, pengurus pimpinan pusat Pagar Nusa di Kota Batu (26/10/2026)./dok.Rofii

Silaturahmi Ketua Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam dengan Hasanuddin Wahid, pengurus pimpinan pusat Pagar Nusa di Kota Batu (26/10/2026)./dok.Rofii

KOTA BATU | JATIMSATUNEWS.COM: Silaturahmi terjalin antara Ketua Pagar Nusa Kabupaten Malang Saiful Anam dengan Hasanuddin Wahid, pengurus pimpinan pusat Pagar Nusa di Kota Batu, Senin (26/10).

Pada momen inilah terdapat pesan bermakna bahwa menjadi pendekar bukan sekadar perkara menguasai jurus, meraih medali, atau berdiri sebagai pemenang di gelanggang.

Lebih dari itu, pendekar dituntut mampu menjaga adab, merawat tradisi, dan mempertahankan nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.

Baca juga: Baiat 16 Santri Pagar Nusa Ampel Gading, Pengabdian Dimulai dari Akhlak

Silaturahmi Antarpengurus Pagar Nusa

Kunjungan Saiful Anam

Pesan bermakna mengemuka dalam silaturahmi Ketua Pimpinan Cabang (PC) Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kabupaten Malang, Saiful Anam, dengan Dr. Hasanuddin Wahid, pengurus Pimpinan Pusat (PP) Pagar Nusa.

Silaturahmi ini terjalin di kediaman Hasanuddin Wahid, di Jalan Kenongo Nomor 45, Dadaprejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, pada Senin (26/10) malam.

Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 19.00 WIB itu diwarnai perbincangan santai seputar dunia persilatan, tradisi, kebudayaan, hingga tantangan Pagar Nusa dalam menjaga jati diri di tengah modernitas.

Tidak ada gelanggang, tidak ada aba-aba pertandingan, apalagi wasit yang meniup peluit. Yang ada hanyalah percakapan hangat tentang bagaimana Pagar Nusa terus berkembang tanpa kehilangan akar nilai yang diwariskan para guru.

Dari obrolan tersebut, satu hal menjadi penting: prestasi harus terus dikejar, kemampuan harus terus diasah, tetapi nilai-nilai yang menjadi fondasi seorang pendekar tidak boleh ditinggalkan.

Tradisi, Sanad, dan Warisan Para Guru

Saiful Anam mengawali pembicaraan dengan menguraikan perbedaan tradisi dan budaya dalam perspektif pewarisan nilai.

Menurutnya, tradisi memiliki jalur pewarisan antargenerasi. Ilmu diwariskan dari guru kepada murid, dari guru kepada guru sebelumnya, bahkan dapat ditelusuri melalui hubungan keilmuan yang panjang. Dalam tradisi keilmuan Islam, jalur pewarisan ini dikenal sebagai sanad.

“Kalau tradisi, kita menerima warisan dari guru, gurunya guru, sampai guru-guru sebelumnya. Kalau ditarik lebih jauh, ada ayah, kakek, buyut, canggah, dan seterusnya. Ini transmisi vertikal, yang dalam dunia keilmuan kita kenal sebagai sanad,” tutur Saiful.

Ia menegaskan bahwa nilai merupakan tonggak utama tradisi. Bentuk dan ekspresinya mungkin berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi prinsip-prinsip dasarnya harus tetap dijaga.

Bagi Pagar Nusa, hal itu bukan perkara kecil. Organisasi pencak silat yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama ini tidak hanya mewariskan keterampilan bela diri, tetapi juga pendidikan karakter, penghormatan kepada guru, kedisiplinan, persaudaraan, dan pengabdian.

“Prestasi harus terus ditingkatkan. Kemampuan diri harus terus dilatih. Tetapi nilai-nilai yang menjadi pegangan santri Pagar Nusa harus tetap dipertahankan,” demikian pokok pemikiran yang disampaikan Saiful dalam perbincangan tersebut.

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, ilmu tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan atau keterampilan. Ilmu semestinya melahirkan adab, memperkuat tanggung jawab, dan mendekatkan seseorang pada kemaslahatan.

Pendekar yang semakin tinggi ilmunya idealnya semakin matang sikapnya. Bukan sebaliknya, semakin kuat kemampuan fisiknya, semakin mudah pula ia meremehkan orang lain.

Iklan

Baca juga: Raih Juara Umum 3 Kejurwil Banyuwangi, Pagar Nusa Kabupaten Malang Jaga Tradisi Juara

Ketika TikTok Bertemu Sanad Keilmuan

Percakapan Saiful Anam bersama Hasanuddin Wahid kemudian bergerak ke ranah budaya modern, termasuk perkembangan media sosial seperti TikTok, Facebook, dan Twitter yang kini dikenal sebagai X.

Saiful menjelaskan bahwa budaya populer umumnya menyebar secara horizontal melalui pergaulan, komunitas, dan perkembangan teknologi. Cara penyebarannya berbeda dari tradisi keilmuan yang diwariskan melalui hubungan antargenerasi.

Penjelasan itu kemudian diselingi sebuah gurauan ringan.

“Kalau budaya sekarang, misalnya TikTok, Facebook, atau Twitter, saya yakin tidak ada yang belajar itu dari kakeknya,” ujar Saiful.

Hasanuddin Wahid pun menyambut pernyataan tersebut dengan tawa.

Gurauan itu sederhana, tetapi mengena. Sulit membayangkan seorang anak belajar membuat konten TikTok dari kakeknya pada masa ketika aplikasi tersebut bahkan belum ada.

Kakek mungkin mewariskan petuah kehidupan, mengajarkan tata krama, atau menurunkan ilmu kepada cucunya. Sementara itu, media sosial tumbuh melalui perkembangan teknologi dan interaksi antarmanusia pada zamannya.

Di balik tawa tersebut, tersimpan persoalan yang relevan bagi Pagar Nusa: bagaimana menyikapi perubahan tanpa kehilangan jati diri?

Jawabannya bukan dengan menolak modernitas, melainkan menempatkannya secara proporsional.

Media sosial dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan prestasi atlet, memperluas silaturahmi, menyampaikan dakwah, dan menyebarkan nilai-nilai Pagar Nusa. Teknologi menjadi sarana yang bermanfaat selama penggunaannya tetap berpijak pada etika dan tanggung jawab.

Prinsip ini sejalan dengan nilai Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah, yakni tawasuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (adil dan tegak lurus).

Terbuka terhadap perkembangan zaman tidak berarti semua hal harus ditiru. Memegang tradisi juga tidak berarti menutup pintu perubahan.

Pagar Nusa perlu bergerak maju tanpa kehilangan akar.

Jangan sampai pesilat semakin mahir membuat konten, tetapi justru lupa memperbaiki perilaku. Jangan sampai pengikut di media sosial bertambah, tetapi penghormatan kepada guru berkurang.

Sebab, kualitas seorang pendekar tidak hanya terlihat ketika berada di depan kamera, tetapi juga dari sikapnya ketika tidak ada orang yang menyaksikan.

Baca juga: Pagar Nusa Khidmah di Muskercab III NU Kabupaten Malang 2026

Hasanuddin Wahid: Oke Prestasi, Oke Tradisi

Di tengah perbincangan yang cair tersebut, Hasanuddin Wahid menyampaikan pesan kepada seluruh santri Pagar Nusa Kabupaten Malang.

Pesannya singkat, lugas, dan penuh penekanan.

“Oke prestasi, oke tradisi, memegang nilai-nilai. Jangan pernah lelah jadi pendekar. Karena manusia sejati harus jadi pendekar,” pesan Hasanuddin Wahid.

Iklan

Pernyataan itu menjadi inti perbincangan malam tersebut. Hasanuddin Wahid menempatkan prestasi, tradisi, dan nilai sebagai tiga hal yang semestinya berjalan beriringan.

Prestasi penting karena menunjukkan hasil latihan, kedisiplinan, dan kesungguhan. Tradisi penting karena menjadi mata rantai yang menghubungkan generasi sekarang dengan para guru dan pendahulunya. Sementara itu, nilai menjadi penuntun agar prestasi dan tradisi tidak kehilangan arah.

Hasanuddin Wahid juga menekankan bahwa kehebatan pendekar terletak pada kemampuannya menempatkan diri secara tepat dan menjalankan berbagai tanggung jawab sesuai posisi serta kebutuhannya.

Dengan kata lain, pendekar tidak cukup hanya pandai bertarung. Ia juga harus mampu bekerja sama, mengendalikan diri, membaca keadaan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Kehidupan tidak selalu membutuhkan orang yang pandai menghadapi lawan. Ada kalanya masyarakat membutuhkan orang yang mampu mendamaikan.

Ada saatnya organisasi memerlukan orang yang mau bekerja tanpa banyak bicara. Dan ada waktunya seorang pendekar justru harus menahan diri ketika emosinya mendorong untuk bertindak berlebihan.

Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekuatan. Tidak setiap perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran.

Terkadang, kemenangan terbesar seorang pendekar justru terjadi ketika ia mampu mengalahkan egonya sendiri.

Baca juga: Menuju 2 Dekade: Bedah Sejarah Pagar Nusa Donomulyo, Dari Latihan di Masjid hingga Kaderisasi Atlet

Pendekar Sejati Menjaga Adab

Dalam tradisi pesantren dan nilai-nilai Aswaja an-Nahdliyah, penghormatan kepada guru merupakan bagian penting dari proses menuntut ilmu. Namun, menjaga tradisi bukan berarti berhenti belajar atau menutup diri dari perkembangan.

Justru, tradisi yang hidup harus mampu melahirkan generasi yang berilmu, berakhlak, dan sanggup menjawab tantangan zamannya.

Bagi Pagar Nusa, prinsip itu dapat diterjemahkan dalam berbagai bentuk: meningkatkan kualitas latihan, memperkuat pembinaan atlet, membangun organisasi yang sehat, menjaga persaudaraan, dan menanamkan tanggung jawab kepada setiap santri.

Prestasi di gelanggang harus berjalan bersama kedewasaan di luar gelanggang. Keberanian harus disertai kebijaksanaan. Kekuatan harus dibatasi oleh pengendalian diri.

Pendekar yang memahami nilai-nilai tersebut tidak akan menggunakan kemampuannya untuk menakut-nakuti orang lain. Ia justru akan menjadikan kemampuannya sebagai sarana menjaga kehormatan, melindungi yang membutuhkan, dan membantu menciptakan kehidupan yang damai.

Iklan

Di sinilah makna pendekar melampaui pengertian fisik. Pendekar adalah pribadi yang terus melatih diri, bukan hanya agar semakin kuat, tetapi juga agar semakin mampu mengendalikan kekuatannya.

Baca juga: Menata Standar dan Menjaga Tradisi Pagar Nusa Kabupaten Malang

Menjaga Akar, Menatap Masa Depan

Silaturahmi Saiful Anam dan Hasanuddin Wahid pada malam itu menunjukkan bahwa masa depan Pagar Nusa tidak cukup dibangun melalui capaian medali atau peningkatan kemampuan teknis semata.

Organisasi membutuhkan pesilat berprestasi, kader yang memahami tanggung jawab, dan santri yang mampu menjaga nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan Hasanuddin Wahid menjadi dorongan bagi Pagar Nusa Kabupaten Malang untuk terus bergerak maju. Prestasi harus diperjuangkan, tradisi harus dirawat, dan nilai-nilai harus menjadi pegangan.

Sebab, kemajuan tanpa nilai berisiko kehilangan arah. Sebaliknya, tradisi tanpa kemauan untuk berkembang dapat kehilangan daya hidupnya.

Keduanya perlu dipertemukan melalui pendidikan, keteladanan, dan pengabdian.

Obrolan yang sesekali diselingi tawa itu akhirnya menyisakan pesan yang serius: seorang pendekar harus mampu menyesuaikan diri dengan zaman tanpa kehilangan jati diri.

Dan mungkin, di situlah letak kehebatan pendekar yang sesungguhnya. Ia bisa belajar teknologi tanpa melupakan guru, meraih prestasi tanpa menjadi sombong, serta memiliki kemampuan tanpa merasa berhak merendahkan orang lain.

“Jangan pernah lelah jadi pendekar.”

Pesan Hasanuddin Wahid itu bukan semata-mata ajakan untuk terus berlatih pencak silat.

Lebih jauh, pesan Hasanuddin Wahid merupakan panggilan untuk terus memperbaiki diri, menjaga adab, merawat tradisi, dan menghadirkan manfaat bagi kehidupan.

Karena pendekar sejati bukan hanya mereka yang mampu mengalahkan lawan, melainkan mereka yang mampu menjaga kehormatan diri, menghormati sesama, dan tetap teguh memegang nilai-nilai luhur di tengah perubahan zaman.***

Kontributor: Rofii

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.