ARTIKEL | JATIMSATUNEWS.COM: Hari ini, 22 Oktober, kita kembali memperingati Hari Santri. Bagi sebagian orang, ia hanyalah tanggal merah yang diisi upacara dan kirab. Padahal di balik peringatan itu ada kisah besar: Resolusi Jihad yang diserukan KH. Hasyim Asy’ari 1945, yang menggerakkan para kiai dan santri membela tanah air hingga meletuslah pertempuran 10 November di Surabaya. Jawa Timur bukan hanya saksi sejarah itu, tetapi juga rumah bagi pesantren-pesantren besar seperti Tebuireng, Lirboyo, Sidogiri, dan Gontor.Kini medan juangnya berbeda. Tidak ada lagi senjata yang harus diangkat, tetapi ada kebodohan, kemiskinan, kerusakan lingkungan, dan krisis akhlak yang harus dilawan. Di sinilah santri dipanggil kembali untuk menguatkan negeri menuju Indonesia Emas 2045.
Kekuatan Pertama: Akhlak yang Menjadi Pondasi
Pesantren mendidik santri dengan cara yang tidak ditemukan di ruang kelas biasa. Santri belajar antre makan, berbagi kamar, mengurus keperluannya sendiri, dan menghormati guru dengan penuh adab. Pelajaran itu terlihat sederhana, tetapi di sanalah karakter dibentuk. Bangsa yang besar tidak cukup bermodal kecerdasan. Ia membutuhkan kejujuran, kesabaran, dan rasa tanggung jawab.
Rasulullah ﷺ bersabda dalam hadis yang masyhur (diriwayatkan antara lain oleh Ahmad dan al-Thabrani):
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Maknanya: sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat bagi sesama.
Baca juga: REFLEKSI HARI SANTRI 2026 “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri”
Ukuran kemuliaan bukan pada jabatan atau gelar, tetapi pada seberapa besar kehadiran kita meringankan beban orang lain. Santri yang tumbuh dengan pemahaman ini akan menjadi warga yang peduli, di mana pun ia berada.
Kekuatan Kedua: Ilmu yang Mencerahkan Santri akrab dengan tradisi ilmu.
Mereka mengaji kitab, menghafal, berdiskusi, dan berguru langsung kepada kiai. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
Maknanya: orang-orang beriman dan berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah ﷻ. Artinya, iman dan ilmu tidak boleh dipisahkan. Iman tanpa ilmu mudah tersesat, ilmu tanpa iman mudah kehilangan arah.
Di tengah derasnya arus informasi, kemampuan memilah mana yang benar dan mana yang menyesatkan menjadi sangat berharga. Santri yang terbiasa menelusuri sanad dan mengecek sumber sebenarnya sedang berlatih menjadi warga digital yang cerdas. Mereka tidak mudah terprovokasi oleh hoaks dan ujaran kebencian, dan dapat menjadi penyejuk di ruang-ruang maya yang kian gaduh.
Kekuatan Ketiga: Kemandirian dan Kepedulian Sosial
Banyak pesantren kini tumbuh menjadi pusat kemandirian ekonomi. Ada yang mengelola pertanian, peternakan, koperasi, usaha kuliner, hingga kewirausahaan berbasis digital. Santri tidak hanya dibekali ilmu agama, tetapi juga keterampilan hidup. Inilah yang dibutuhkan agar santri tidak sekadar menjadi pencari kerja, melainkan pencipta lapangan kerja.
Kepedulian sosial juga hidup kuat di lingkungan pesantren. Ketika bencana datang, santri sering menjadi yang pertama turun tangan. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka terbiasa gotong royong. Nilai-nilai ini adalah modal sosial yang sangat mahal untuk membangun bangsa.
Kekuatan Keempat: Menjaga Bumi sebagai Amanah
Menguatkan negeri tidak cukup dengan membangun gedung dan jalan. Kita juga wajib merawat bumi yang dipijak. Allah ﷻ berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 30:
إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً
Maknanya: manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, yaitu pengelola yang memikul amanah, bukan penguasa yang boleh berbuat sewenang-wenang.
Santri dapat memulai dari hal yang dekat: menjaga kebersihan pesantren, mengelola sampah, menanam pohon, dan menghemat air. Teladan kecil dari lingkungan pesantren dapat menular ke masyarakat sekitar.
Perubahan Dimulai dari Diri Sendiri
Allah ﷻ mengingatkan dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11:
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
Maknanya: Sesungguhnya Allah ﷻ tidak akan merubah kenikmatan bagi kaum senantiasa taat kepada-Nya, hingga kaum tersebut ingkar kepada Allah maka Allah akan merubah kenikmatan yang ada dengan rasa takut, kelaparan dan kemiskinan.
Pesan ini sangat dekat dengan semangat santri. Indonesia Emas tidak akan datang sebagai hadiah, melainkan hasil kerja panjang yang dimulai dari perbaikan diri, keluarga, dan lingkungan.
Karena itu, tugas kita bersama adalah memberi ruang dan dukungan bagi santri untuk tumbuh. Pemerintah perlu memastikan pesantren mendapat perhatian yang adil sesuai amanat Undang-Undang Pesantren. Masyarakat perlu menghargai peran pesantren, tidak hanya saat peringatan Hari Santri. Dan para santri sendiri perlu terus belajar, memperluas wawasan, serta berani berkontribusi di bidang apa pun yang digeluti, baik sebagai guru, pengusaha, peneliti, tenaga kesehatan, maupun pemimpin masyarakat.
Selamat Hari Santri. Semoga para santri menjadi cahaya bagi negeri, menjaga warisan para pendahulu, dan melangkah mantap menuju Indonesia Emas yang adil, berilmu, dan berakhlak mulia.
Wallahu A’lam wa Ahkam.
OLEH : Dr. Nur Hasaniyah, S.Ag., M.A., Dosen Prodi Bahasa dan Sastra Arab S1 & S2, Magister Pendidikan Bahasa Arab & Magister Informatika.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.