Langsung ke konten
Kamis, 22 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Dari Pesantren untuk Negeri: Merawat Nilai Kesantrian, Menguatkan Masa Depan Indonesia

Pada 1989, setelah menyelesaikan pendidikan MTs di Karawang, saya melangkahkan kaki menuju Malang untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren

Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., MA (Wakil Rektor IV UIN Malang)

Prof. Dr. H. M. Abdul Hamid, S.Ag., MA (Wakil Rektor IV UIN Malang)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pada 1989, setelah menyelesaikan pendidikan MTs di Karawang, saya melangkahkan kaki menuju Malang untuk melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Daruttauhid. Saat itu, saya belum tahu ke mana kehidupan akan membawa saya. Saya belum membayangkan amanah apa yang kelak harus diemban, apalagi sejauh mana ilmu yang dipelajari akan menentukan perjalanan hidup.

Yang saya pahami saat itu sederhana: belajar, menjalani proses, dan mempersiapkan diri menghadapi masa depan yang belum saya kenal.

Selama sepuluh tahun, sejak 1989 hingga 1999, saya menjalani kehidupan sebagai santri. Kini, ketika menoleh ke belakang, saya semakin memahami bahwa pesantren bukan sekadar tempat menuntut ilmu. Lebih dari itu, pesantren merupakan ruang pembentukan karakter dan tempat belajar memahami kehidupan: tentang kesabaran ketika hasil belum terlihat, ketangguhan ketika keadaan tidak mudah, serta kedisiplinan ketika cita-cita menuntut pengorbanan.

Baca juga: Doktor MPI UIN Malang Hasilkan HDSL Model: Kepemimpinan Kepala Madrasah Berbasis Integrasi Data Digital dan Nilai-Nilai Pesantren

Baca juga: UIN Malang Serahkan Aplikasi E-Sarpras ke Nurul Qodim, Dorong Digitalisasi Tata Kelola Pesantren

Saya memang telah meninggalkan pesantren, tetapi nilai-nilai kehidupan yang diajarkannya tetap melekat dan menjadi bekal dalam menjalani perjalanan berikutnya.

Refleksi ini menemukan relevansinya ketika kita memperingati Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026, dengan tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Tema tersebut bukan sekadar slogan peringatan, melainkan pengingat sekaligus panggilan untuk menjawab pertanyaan mendasar: setelah memperoleh ilmu, menjalani perjuangan, dan mencapai berbagai keberhasilan, sejauh mana kita telah memberikan manfaat bagi negeri?

Kesulitan Bukan Alasan untuk Menyerah

Ketika masih menjadi santri, kita mungkin belum sepenuhnya memahami makna dari proses panjang yang sedang dijalani. Kita belajar, berdisiplin, memperbaiki diri, dan bertahan menghadapi berbagai keterbatasan. Namun, justru melalui proses itulah karakter perlahan terbentuk.

Ada sebuah ungkapan yang kerap saya renungkan: Lawlā al-masyaqqah, lasaʿida al-nāsu kulluhum. Tanpa kesulitan dan perjuangan, setiap orang akan dengan mudah mencapai kemuliaan dan kedudukan tinggi.

Ungkapan ini tentu bukan ajakan untuk mencari penderitaan atau menganggap bahwa setiap kesulitan dengan sendirinya akan mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa kedewasaan dan keberhasilan membutuhkan kesediaan untuk menghadapi tantangan melalui ikhtiar, kesabaran, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Kita sering menyaksikan keberhasilan seseorang tanpa benar-benar mengetahui panjangnya perjuangan yang telah dilalui. Karena itu, jangan terlalu cepat menilai masa depan seseorang hanya berdasarkan keadaannya hari ini. Santri yang tumbuh dalam kesederhanaan bukan berarti harus memiliki masa depan yang sederhana. Keterbatasan hari ini tidak pernah menjadi keputusan akhir atas kemampuan dan masa depan seseorang.

Iklan

Ketangguhan bukan berarti tidak pernah mengalami kegagalan. Ketangguhan justru tercermin dari kesediaan untuk bangkit, mengevaluasi diri, memperbaiki langkah, dan terus bergerak menuju tujuan.

Ilmu Harus Menemukan Maknanya

Ketangguhan saja tidak cukup. Ia harus berjalan beriringan dengan ilmu yang bermanfaat dan tanggung jawab moral. Pendidikan pesantren semestinya tidak hanya melahirkan manusia yang cerdas dan mampu bersaing, tetapi juga pribadi yang memahami tujuan dari ilmu dan perjuangan yang dijalaninya.
Ilmu bukan sekadar pengetahuan yang dikuasai atau gelar yang berhasil diraih. Lebih dari itu, ilmu harus menjadi kemampuan untuk menjawab persoalan, menghadirkan solusi, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Ketika seseorang memasuki kehidupan masyarakat, nilai-nilai yang dipelajari di pesantren menemukan ruang pengujian sekaligus pembuktiannya. Nilai tersebut tercermin dalam cara seseorang bekerja, membangun keluarga, menjalankan kepemimpinan, mengambil keputusan, dan memperlakukan orang lain.

Seseorang boleh mencapai kedudukan tinggi, tetapi jabatan harus dijalankan sebagai amanah. Seseorang boleh memiliki pengetahuan luas, tetapi ilmu harus disertai kerendahan hati dan keterbukaan untuk terus belajar.

Pada titik inilah keberhasilan memperoleh makna yang lebih mendalam. Keberhasilan bukan semata-mata tentang seberapa jauh seseorang melangkah atau setinggi apa kedudukan yang berhasil diraih, melainkan tentang bagaimana seluruh pencapaian tersebut digunakan untuk menghadirkan kebaikan bagi kehidupan.

Menguatkan Negeri Tidak Harus Menjadi Pejabat

Pengalaman menjadi santri merupakan bagian penting dalam perjalanan hidup saya. Kini, ketika menjalankan amanah di lingkungan perguruan tinggi, saya semakin menyadari bahwa pendidikan seharusnya membawa manusia melampaui kepentingan dirinya sendiri. Pendidikan harus membentuk manusia yang tidak hanya mampu meraih keberhasilan personal, tetapi juga memiliki kesadaran untuk berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa.

Mengabdi kepada negeri tidak selalu harus diwujudkan dengan menduduki jabatan tinggi atau berada di lingkaran kekuasaan. Indonesia membutuhkan guru yang mendidik dengan penuh tanggung jawab, petani yang bekerja dengan jujur, pengusaha yang menjunjung keadilan, tenaga kesehatan yang amanah, ilmuwan yang tekun mengembangkan pengetahuan, serta warga masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap sesamanya.

Setiap profesi memiliki ruang pengabdian. Setiap orang mempunyai kesempatan untuk mengambil bagian dalam membangun negeri. Menguatkan Indonesia berarti menjalankan peran masing-masing dengan ilmu, kesungguhan, integritas, dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung begitu cepat, santri juga dituntut untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, terbuka terhadap perkembangan dunia, serta memiliki keberanian untuk bersaing. Kedalaman ilmu agama harus berjalan beriringan dengan keluasan wawasan dan kemampuan menjawab berbagai persoalan nyata di tengah masyarakat.

Iklan

Kita tentu tidak ingin santri hanya bangga pada kejayaan masa lalu, tetapi gagap menghadapi tantangan masa depan. Indonesia Emas membutuhkan generasi yang berilmu sekaligus beradab, berdaya saing sekaligus bertanggung jawab, serta mampu beradaptasi dengan perubahan tanpa kehilangan pijakan moral dan nilai-nilai keislaman.

Dengan demikian, kontribusi santri bagi negeri tidak cukup diukur dari seberapa banyak mereka berhasil menempati posisi strategis, tetapi juga dari seberapa besar nilai-nilai yang mereka bawa mampu memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat.
Jangan Berhenti Menjadi Santri

Pada akhirnya, menjadi santri bukan sekadar tentang masa ketika seseorang tinggal di pesantren, mengikuti pengajian, atau mempelajari kitab-kitab klasik. Makna kesantrian tidak semestinya berakhir ketika seseorang meninggalkan gerbang pesantren.

Menjadi santri berarti terus bersedia belajar, menjaga adab, menghormati ilmu, merawat kerendahan hati, dan menempatkan pengabdian di atas kesombongan pribadi. Nilai-nilai inilah yang seharusnya tetap hidup, sekalipun seseorang telah menempuh jalan kehidupan yang berbeda.

Kepada para santri, jangan pernah takut menjalani proses panjang. Teruslah belajar, bangun kapasitas diri, kuatkan karakter, dan
persiapkan diri untuk memikul tanggung jawab yang lebih besar. Jadikan setiap tantangan sebagai kesempatan untuk bertumbuh, tanpa kehilangan nilai-nilai yang selama ini menjadi pegangan.

Suatu hari, mungkin kita akan meninggalkan gerbang pesantren. Kita menempuh jalan yang berbeda, menjalani profesi yang beragam, dan memikul tanggung jawab yang tidak sama. Namun, jangan pernah meninggalkan nilai-nilai yang telah ditanamkan pesantren. Sebab, masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh mereka yang berhasil mencapai puncak, tetapi juga oleh jutaan orang yang menjalankan amanah dengan sungguh-sungguh di tempat masing-masing.

Ukuran kemuliaan seorang santri bukan semata-mata seberapa tinggi ia berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang tumbuh dari tempat ia berpijak.

Di situlah makna sesungguhnya dari menguatkan negeri. Di situlah tanggung jawab kesantrian menemukan relevansinya. Dan di situlah nilai-nilai pesantren harus terus dirawat, bukan hanya sebagai kenangan masa lalu, melainkan sebagai bekal untuk membangun masa depan Indonesia.

Selamat Hari Santri Nasional, 22 Oktober 2026.

Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.