Langsung ke konten
Kamis, 8 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Cuaca Panas Picu Emosi Meluap, Dosen UMM Ungkap Hubungannya dengan Hormon Stres

Fenomena yang turut dipicu oleh dinamika El Niño kuat serta fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) tersebut ternyata memiliki kaitan erat dengan stabilitas

Ilustrasi termometer menunjukkan suhu tinggi di bawah terik matahari.

Ilustrasi termometer menunjukkan suhu tinggi di bawah terik matahari. (Foto: Humas UMM)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Gelombang cuaca panas dan kondisi udara kering yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia belakangan ini, rupanya tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik semata. Fenomena yang turut dipicu oleh dinamika El Niño kuat serta fase positif Indian Ocean Dipole (IOD) tersebut ternyata memiliki kaitan erat dengan stabilitas emosi manusia.


Menanggapi fenomena alam ini, Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., memberikan pandangan ilmiahnya.

Ia menjelaskan bahwa rasa tidak nyaman yang ditimbulkan oleh suhu panas ekstrem dapat menjadi beban ganda bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis. Dalam dunia psikologi, kondisi ini dikenal sebagai teori beban stimulus, di mana tubuh menerima rangsangan dari lingkungan yang melampaui kapasitas normalnya.

“Kalau stimulus yang kita terima, kondisi yang kita terima itu melebihi kapasitas dari normalnya tubuh kita, itu akan berdampak pada meningkatnya hormon kortisol. Hormon kortisol itu salah satu pemicu stres,” ungkap Alifah saat dihubungi Humas UMM.

Baca juga: Faizah Salsabila Said, Mahasiswi FITK UIN Malang Raih Juara 3 Kategori Podcast Audio di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Baca juga: Konflik Timur Tengah, UMKM Kita yang ‘Berdarah Oleh: Firmanda Ibrahim, Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhammadiyah Malang

Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A.,
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Alifah Nabilah Masturah, S.Psi., M.A., (Foto: Humas UMM)

Suasana Hati Lebih Sensitif Akibat Tubuh Bekerja Ekstra

Lebih lanjut, Alifah menerangkan bahwa peningkatan hormon stres akibat lingkungan yang tidak nyaman akan berimbas langsung pada respons emosional seseorang. Ketika suhu udara melonjak tinggi, tubuh dipaksa bekerja lebih keras guna melakukan penyesuaian diri. Akibatnya, rasa lelah dan ketidaknyamanan meningkat secara signifikan, yang kemudian berujung pada menurunnya tingkat konsentrasi serta optimalisasi proses berpikir.

Kondisi tersebut membuat seseorang menjadi jauh lebih sensitif dalam menangkap setiap perkataan maupun tindakan orang lain di sekitarnya. Hal-hal yang mulanya bersifat netral sering kali salah diartikan dan dimaknai sebagai sesuatu yang mengganggu atau bernada negatif.

Iklan

“Hal-hal yang netral mungkin kita anggapnya suara keras, ‘kok nyolot’, atau bercanda tapi kok kayaknya kasar,” tutur Alifah memberikan contoh nyata dalam interaksi sosial sehari-hari.

Kualitas Tidur dan Cara Sederhana Redam Emosi

Ilustrasi seorang pria sedang kepanasan terkena terik matahari
Ilustrasi seorang pria sedang kepanasan terkena terik matahari (Foto: Humas UMM)

Selain faktor eksternal berupa suhu lingkungan yang menyengat, Alifah juga menekankan bahwa kondisi internal tubuh turut memegang kendali penuh terhadap kemampuan seseorang dalam mengelola emosi. Ancaman dehidrasi serta kekurangan waktu istirahat yang ideal diyakini mampu memperburuk kondisi fisik sekaligus mengacaukan kestabilan psikologis.

Oleh karena itu, ia mengingatkan pentingnya menjaga kebugaran tubuh sebagai langkah preventif menghadapi perubahan suasana hati yang drastis. Berbicara mengenai istirahat, Alifah menegaskan bahwa esensi utama dari tidur yang baik bukanlah terletak pada durasi atau lama waktunya, melainkan pada kualitas pemulihan yang didapatkan oleh otak dan tubuh.
“Tidur itu bukan perkara lamanya, tapi kualitasnya,” tegasnya.

Ia menambahkan, kebiasaan tidur yang sering terbangun di tengah malam atau tidur yang tidak nyenyak tidak akan memberikan hasil pemulihan yang optimal. Sebaliknya, tidur yang berkualitas akan membuat fisik dan pikiran kembali segar, sehingga seseorang jauh lebih siap menghadapi berbagai tekanan aktivitas sehari-hari.

Apabila seseorang mulai merasakan gejala emosi yang tersulut akibat teriknya cuaca panas, Alifah menyarankan agar segera dilakukan tindakan cepat guna mengurangi stimulus yang tidak nyaman tersebut. Langkah-langkah sederhana seperti berteduh di tempat sejuk, memperbanyak konsumsi air putih, atau sekadar mencuci muka dinilai cukup efektif untuk membantu merilekskan kembali sistem saraf tubuh.

“Kalau karena cuaca panas, berarti kita harus berteduh. Minum juga bisa jadi salah satu cara. Kalau memungkinkan, malah cuci muka itu nggak masalah sebenarnya,” ujar Alifah.

Di akhir penyataannya, ia juga mengajak seluruh lapisan masyarakat agar lebih peka dalam mengenali emosi diri sendiri serta menemukan strategi personal yang tepat dalam meredakan stres. Menurutnya, setiap individu memiliki mekanisme pertahanan dan pengelolaan tekanan yang berbeda, sehingga pemahaman yang baik terhadap kapasitas diri menjadi kunci utama.

“Yang pertama itu simple, kita kenal emosi kita. Kita tahu hal-hal apa yang bisa membuat kita senang sama membuat kita bete,” pungkasnya.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.