Langsung ke konten
Senin, 28 September 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Pendidikan

Kuliah ke Luar Negeri, Ini Pesan Prof Umi Sumbulah agar Mahasiswa Indonesia Tak Kehilangan Jati Diri

Dekan Fakultas Syariah UIN Malang, Prof Umi Sumbulah beri pesan kepada mahasiswa yang hendak kuliah ke luar negeri.

Dekan Fakultas Syariah UIN Malang, Prof Umi Sumbulah beri pesan kepada mahasiswa yang hendak kuliah ke luar negeri./dok.UIN Malang

Dekan Fakultas Syariah UIN Malang, Prof Umi Sumbulah beri pesan kepada mahasiswa yang hendak kuliah ke luar negeri./dok.UIN Malang

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kuliah ke luar negeri bukan hanya soal mengejar prestasi akademik.

Mahasiswa Indonesia juga membawa identitas bangsa sehingga perlu memiliki kemampuan beradaptasi, wawasan kebangsaan, serta pemahaman moderasi beragama.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag.

Baca juga: Umi Sumbulah Menembus Sekat Tradisi: Membaca Ulang Epistemologi Hukum Islam dan Keadilan Gender

Pesan Prof Umi kepada Calon Mahasiswa Kuliah ke Luar Negeri

Dekan Umi Sumbulah memberikan materi bertema Moderasi Beragama, Nilai-nilai Kebangsaan, dan Identitas Nasional kepada 13 peserta Language and Academic Preparation Program (LAPP), Senin (28/9/2026).

Kegiatan berlangsung di Pusat Pengembangan Bahasa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Program LAPP merupakan program Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (PUSPENMA) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama RI bekerja sama dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.

Dalam pembekalan tersebut, Umi menekankan pentingnya mahasiswa memahami moderasi beragama sebagai nilai yang tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi diwujudkan dalam pola pikir, sikap, dan perilaku sehari-hari.

“Sebagai calon mahasiswa, mereka harus memiliki pola pikir, pola sikap, dan perbuatan yang mencerminkan moderasi beragama, bukan pola pikir, sikap, dan perilaku yang bertentangan dengan moderasi beragama,” ujar Umi.

Menurut Umi, mahasiswa yang kuliah ke luar negeri akan berinteraksi dengan masyarakat yang memiliki latar belakang budaya, agama, dan kebiasaan yang beragam. Karena itu, kemampuan beradaptasi menjadi bekal penting.

Ia meminta para peserta—yang akan kuliah ke luar negeri—memiliki sikap fleksibel dan terbuka, namun tetap mampu menjaga identitas sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

“Mereka harus memiliki sikap yang fleksibel, mudah menyesuaikan diri, dan menampilkan Islam yang ramah sehingga mudah diterima di negeri orang,” katanya.

Baca juga: Fakultas Syariah UIN Malang Ekspos Hasil AMI 2026, Perkuat Budaya Mutu Program Studi

Kuliah ke Luar Negeri Bawa Nama Kampus hingga Indonesia

Umi juga mengingatkan bahwa mahasiswa yang mendapat kesempatan belajar di luar negeri tidak hanya membawa nama pribadi.

Mereka juga membawa nama kampus, Kementerian Agama, dan Indonesia.

“Para awardee ini adalah representasi dari Kementerian Agama, negara, dan juga kampus mereka,” tegasnya.

Iklan

Dalam materinya, Umi turut membahas karakter masyarakat Indonesia yang multikultural serta hubungan moderasi beragama dengan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Ia berharap para peserta mampu menerapkan nilai-nilai tersebut ketika menghadapi berbagai persoalan sosial dan perbedaan yang mereka temui selama menempuh pendidikan di luar negeri.

Baca juga: Guest Lecture Dosen Fakultas Syariah UIN Malang Antusias Bahas Ilmu Hukum

13 Peserta LAPP

Sebanyak 13 peserta LAPP berasal dari berbagai perguruan tinggi dan daerah di Indonesia, di antaranya Aceh, Jambi, Kudus, dan Salatiga.

Mereka akan melanjutkan studi pada jenjang S1, S2, dan S3 di sejumlah negara, termasuk Kanada, Australia, serta negara-negara Eropa.

Saat ini, para peserta mengikuti program persiapan bahasa di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang selama tiga bulan dan telah memasuki pekan ketiga.

Melalui pembekalan tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya siap menghadapi tuntutan akademik di perguruan tinggi luar negeri.

Tetapi, juga mampu memperkenalkan wajah Islam Indonesia yang moderat, ramah, dan menghargai keberagaman.

Di akhir penyampaian materi, Prof. Umi mengajak para peserta meneguhkan komitmen bersama dengan semangat:

“Beragama dengan Teguh, Berkebangsaan dengan Kokoh, dan Hidup Bersama dengan Saling Menghormati.”

Menurutnya, moderasi beragama merupakan bagian dari upaya menjaga keadilan, kemaslahatan, dan persatuan Indonesia demi membangun kehidupan bangsa yang harmonis.(MFT)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.