| Dokumentasi Kegiatan Sosialisasi Pengolahan Limbah Organik Dan Anorganik Oleh Kelompok 25 KKN SDGs Simomulyo Baru Bersama Warga Dan KSH RW 06 |
Baru, Kecamatan Sukomanunggal, Kota Surabaya, merupakan kawasan permukiman
padat penduduk yang menghasilkan timbulan limbah rumah tangga setiap harinya,
khususnya limbah organik dari aktivitas rumah tangga. Kondisi ini menjadi permasalahan
utama di lingkungan RW 06, karena keterbatasan lahan dan belum ada sistem
pengelolaan limbah menyebabkan penumpukkan serta berpotensi menimbulkan bau
tidak sedap yang dapat mengganggu kenyamanan serta kesehatan lingkungan. Selain
itu, limbah anorganik seperti botol plastik bekas juga cukup banyak dihasilkan
dari aktivitas konsumsi harian warga, apabila tidak dipilah dan dikelola dengan
benar dapat semakin memperburuk kondisi lingkungan. Permasalahan pengelolaan limbah
ini menunjukkan perlunya solusi yang sederhana, murah, dan ramah lingkungan di
tingkat rumah tangga. Sebagai bentuk dukungan terhadap upaya tersebut, Kelompok
25 KKN SDGs UPN “Veteran” Jawa Timur menyelenggarakan Sosialisasi
Pengolahan Limbah Organik dan Anorganik bersama warga dan Kader Surabaya Hebat
(KSH) RW 06. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai
pentingnya pemilahan dan pengolahan limbah sejak dari rumah dengan mengusung
konsep Zero Waste Program.
Pada pelaksanaan sosialisasi
yang berlangsung pada Kamis, 30 Juli 2026, peserta memperoleh materi mengenai
pengolahan limbah organik menjadi Eco-Enzyme menggunakan metode airlock
sederhana berbahan selang. Materi disampaikan oleh Ibu Yaning Mustika Ningrum,
beliau adalah Ketua Kampung Eduwisata Oase Songo sekaligus tokoh masyarakat
yang menjadi pelopor pengolahan limbah organik dan anorganik di Kelurahan
Simomulyo Baru, Beliau menjelaskan pentingnya pengolahan limbah organik dan
anorganik hasil rumah tangga.
“Pengelolaan limbah itu
dimulai dari niat dan kebiasaan. Kalau kita rutin memilah limbah sejak dari
rumah, limbah yang tadinya menjadi masalah bisa diolah menjadi sesuatu yang
bermanfaat dan bernilai,” ujar Ibu Yaning.
Pelaksanaan dibantu mahasiswa
KKN yakni Fatma Aulia Wulan Agustina sebagai pemateri yang menjelaskan
kuantitas optimal setiap bahan untuk fermentasi ecoenzym, resiko dan cara
mengatasi kendala ketika pengaplikasian airlock sederhana berbahan selang
selama proses fermentasi ecoenzym.
Proses pembuatan Eco-Enzyme menggunakan
basis perbandingan bahan 10:3:1, dikarenakan demonstrasi menggunakan skala
besar ukuran galon 15liter dengan menyisakan ¼ ruang kosong untuk gas hasil
fermentasi, sehingga “10 liter dari air bersih” ditambah “3 kg limbah organik
rumah tangga seperti kulit buah dan sisa sayuran”, serta “1 liter molase atau
gula merah”, EM4 sebagai starter fermentasi dapat ditambahkan 100ml atau
menggunakan perbandingan 1:100 terhadap jumlah kapasitas air bersih, seluruh
bahan dicampur melalui metode fermentasi anaerob atau dalam wadah kedap udara. Proses
fermentasi dilakukan menggunakan wadah bekas seperti galon atau botol yang
dipasang selang bening sebagai airlock sederhana sehingga gas hasil fermentasi
dapat keluar tanpa perlu membuka tutup wadah. Metode ini tidak menimbulkan bau
menyengat dan mengurangi risiko kontaminasi udara luar, sedangkan cairan
Eco-Enzyme yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pupuk
organik cair, penghilang bau, serta ampas fermentasinya masih dapat diolah
menjadi kompos padat. Kegiatan pengolahan limbah organik ini mendukung
pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 8 berupa Pekerjaan Layak dan
Pertumbuhan Ekonomi. Melalui edukasi dan praktik pembuatan Eco-Enzyme, Kelompok
25 KKN SDGs UPN “Veteran” Jawa Timur mendorong masyarakat untuk
mengolah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai guna dan berpotensi
memiliki nilai ekonomi. Selain dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga,
Eco-Enzyme juga dapat dikembangkan sebagai produk ramah lingkungan yang membuka
peluang umkm pupuk cair organik ataupun mengolah eco enzym sebagai sabun batang
yang memilki potensi pasar dan nilai jual yang lebih tinggi.
Selain membahas pengolahan limbah organik, Kelompok
25 KKN SDGs juga memperkenalkan inovasi berupa Teknologi Tepat Guna (TTG) alat
press botol plastik untuk pengelolaan limbah anorganik. alat press botol
plastik dibuat menggunakan bahan-bahan sederhana seperti papan kayu, sekrup,
batang kayu sebagai tuas, serta peralatan pendukung lain. Melalui demonstrasi
penggunaan alat, peserta diajarkan cara memadatkan botol plastik agar volumenya
berkurang sehingga lebih mudah disimpan, diangkut, dan disalurkan ke bank limbah.
kegiatan
ini juga mendorong masyarakat untuk lebih aktif dalam memilah dan mengelola limbah
anorganik dari sisa aktivitas rumah tangga, sehingga tidak hanya berfokus pada
aspek ekonomi, tetapi juga pada peningkatan kesadaran lingkungan. Dengan adanya
kebiasaan tersebut, diharapkan tercipta pola pengelolaan limbah yang lebih
berkelanjutan di tingkat rumah tangga serta memperkuat peran bank limbah
sebagai wadah pengelolaan limbah yang produktif di lingkungan RW 06. Hal ini
sejalan dengan pencapaian SDGs 1
Menyatakan Tanpa Kemiskinan, karena pengelolaan limbah
anorganik melalui bank limbah dapat memberikan nilai tambah ekonomi yang
berpotensi menjadi sumber pendapatan tambahan bagi masyarakat.
Kegiatan yang diikuti oleh 25 peserta ini
berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi, diskusi, dan praktik
langsung pembuatan Eco-Enzyme serta penggunaan alat press botol plastik.
Antusiasme warga dan KSH RW 06 terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi
tanya jawab.
“Jadi
tidak perlu dibuka setiap hari untuk mengeluarkan gas didalam galon tersebut ya
kak?”
“Apakah boleh dipanen dahulu jika
sudah fermentasi selama sebulan atau harus nunggu 3 bulan?”
“Apakah Eco-enzym ada kadaluwarsanya
kak?”
“Wah kalau begitu saya jadi tidak
khawatir meledak dan pastinya mudah dipraktekkan” ujar warga RW 06.
Pertanyaan tersebut kemudian dijawab
oleh pemateri dengan menjelaskan bahwa gas hasil fermentasi tidak perlu
dikeluarkan setiap hari karna sudah otomatis dari selang tersebut, Eco-Enzyme
sebaiknya dipanen setelah tiga bulan fermentasi namun jika ingin dipanen untuk
digunakan sisa nya bisa dilanjutnya fermentasi ulang, dan produk yang telah
matang dapat disimpan dalam waktu lama selama kondisi penyimpanannya baik. Melalui
program ini, Kelompok 25 KKN SDGs UPN “Veteran” Jawa Timur berharap
masyarakat semakin terbiasa menerapkan pengelolaan limbah organik dan anorganik
secara mandiri sebagai langkah nyata dalam menjaga kebersihan lingkungan dan
mendukung pembangunan berkelanjutan.
Penulis : Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 25 Simomulyo
Baru Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.