Mahasiswa internasional menyaksikan Tari Bapang, melukis Topeng Malangan, hingga memainkan angklung dan jimbe bersama mahasiswa Indonesia.
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa internasional peserta International Students Summit (ISS) 2026 tidak hanya menikmati Pantai Balekambang. Pada hari kedua kegiatan, mereka diajak mengenal budaya Malang dengan cara yang berbeda: menyaksikan Tari Bapang, melukis Topeng Malangan, hingga memainkan angklung dan jimbe bersama mahasiswa Indonesia.
Mengusung tema “Exploring Nature through Culture”, agenda yang digelar International Office and Student Affairs (IOSA) bersama Himpunan Mahasiswa International Class Program (ICP) tersebut menjadikan kawasan Balekambang sebagai ruang pembelajaran lintas budaya.
Baca juga: Bekali Mahasiswa Tembus Program Internasional, UIN Malang Gelar Sharing Session YSEALI
Peserta tidak ditempatkan sebagai penonton. Mereka terlibat langsung dalam berbagai aktivitas seni sehingga pengenalan budaya berlangsung melalui pengalaman, interaksi, dan kolaborasi.
Agenda tersebut turut dihadiri dan didampingi Prof. Dr. Muhammad Walid, M.A., Dekan FTIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang; Dr. Fitrotul Uyun, M.Pd., Kepala Laboratorium Al-Qur’an FTIK; serta Harir Mubarok, M.Pd., Sekretaris Program Studi Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Malang.
Dari Tari Bapang ke Topeng Malangan
Pengalaman budaya peserta diawali dengan penampilan Tari Bapang, salah satu bagian dari Tari Topeng Malangan, yang dibawakan Kanza Ayomi Negara, mahasiswa Program Studi Tadris Bahasa Inggris FTIK UIN Malang.

Melalui penampilan tersebut, mahasiswa internasional diperkenalkan pada salah satu bentuk seni tradisional yang menjadi bagian dari identitas budaya Malang.
Pengenalan kemudian berlanjut dari panggung pertunjukan ke aktivitas kreatif. Peserta diajak melukis Topeng Malangan menggunakan warna dan bentuk sesuai kreativitas masing-masing.
Aktivitas tersebut membuat peserta tidak hanya mengetahui Topeng Malangan sebagai produk budaya, tetapi juga berinteraksi langsung dengan salah satu bentuk seni tradisional tersebut.
Setiap peserta menghasilkan karya dengan karakter berbeda. Dari sini, budaya hadir bukan sekadar sebagai sesuatu yang dilihat, tetapi sesuatu yang dapat disentuh, dikerjakan, dan diekspresikan kembali.
Belajar Harmoni dari Angklung dan Jimbe
Setelah seni tari dan rupa, peserta kemudian masuk ke sesi musik tradisional yang dipandu Joko Prihatin Gusindra, M.Pd., dosen UIN Malang yang juga berkecimpung sebagai musisi, komposer, dan praktisi seni.
Peserta diperkenalkan dengan angklung dan jimbe. Mereka belajar mengenali karakter bunyi, mengikuti ritme, sekaligus memahami bagaimana setiap alat musik dapat menghasilkan harmoni ketika dimainkan bersama.
Sesi tersebut kemudian berkembang menjadi kolaborasi antara mahasiswa Indonesia dan mahasiswa internasional. Mereka memainkan alat musik, membangun ritme, dan merespons satu sama lain melalui musik dan gerakan.
Dari proses tersebut lahir penampilan kolaboratif yang memadukan angklung, jimbe, dan tari.
Di titik ini, bahasa tidak lagi menjadi satu-satunya alat komunikasi. Musik dan gerak menjadi medium yang memungkinkan peserta dari latar negara berbeda membangun pengalaman bersama.
Budaya sebagai Pengalaman, Bukan Sekadar Pertunjukan
Rangkaian kegiatan ISS 2026 di Balekambang memperlihatkan pendekatan pembelajaran budaya yang menempatkan peserta sebagai pelaku.
Mereka melihat tari, melukis topeng, memainkan alat musik, membangun ritme, hingga tampil bersama. Proses tersebut membuat budaya hadir sebagai pengalaman yang hidup, bukan sekadar materi yang dijelaskan kepada peserta.
Mahasiswa internasional memperoleh kesempatan mengenal Indonesia melalui pengalaman langsung. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia juga mendapatkan ruang untuk memperkenalkan budaya lokal sekaligus melihat kebudayaan sendiri dari perspektif teman-teman dari negara lain.
Pertemuan tersebut menunjukkan bahwa perbedaan latar budaya dapat menjadi ruang kolaborasi. Seni menyediakan medium yang relatif universal untuk mempertemukan orang-orang yang berbeda bahasa dan kebiasaan.
Kehadiran pimpinan dan sivitas akademika FTIK dalam agenda tersebut turut memperlihatkan bahwa pengalaman internasional mahasiswa tidak hanya berlangsung melalui aktivitas akademik di ruang kelas. Interaksi lintas budaya juga dapat dibangun melalui seni, lingkungan, dan pengalaman bersama.
Balekambang dalam agenda ISS 2026 akhirnya berfungsi lebih dari sekadar destinasi. Alam menjadi ruang belajar, sementara seni tradisional menjadi jembatan perjumpaan.
Dari Tari Bapang, Topeng Malangan, angklung, hingga jimbe, mahasiswa internasional mendapatkan pengalaman mengenal Malang dengan cara yang lebih dekat: bukan hanya melihat budaya, tetapi ikut menjadi bagian di dalamnya.
Dan di tengah perbedaan negara serta latar belakang, mereka menemukan satu bahasa yang sama—kolaborasi.
Sumber: ftik.uin-malang.ac.id



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.