Langsung ke konten
Rabu, 7 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Kolaborasi Mahasiswa Sains Data UB dan UNAIR Raih Juara 2 Hackathon IFEST 2026 lewat “Nyambung”

BANDUNG | JATIMSATUNEWS.COM: Kolaborasi lima mahasiswa Sains Data angkatan 2024 dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil

Tim Teen Tensors yang beranggotakan mahasiswa Sains Data Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga seusai menerima penghargaan Juara 2 Hackathon IFEST 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung, Sabtu (19/9/2026).

Tim Teen Tensors yang beranggotakan mahasiswa Sains Data Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga seusai menerima penghargaan Juara 2 Hackathon IFEST 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Humas UB)

BANDUNG | JATIMSATUNEWS.COM: Kolaborasi lima mahasiswa Sains Data angkatan 2024 dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Airlangga (UNAIR) berhasil meraih Juara 2 dalam Hackathon Informatics Festival (IFEST) 2026 yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Teknik Informatika (HIMATIF) FMIPA Universitas Padjadjaran.

Prestasi tersebut diraih dalam final luring selama 24 jam pada 18–19 September 2026 di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung. Tim bernama Teen Tensors itu berhasil menempati posisi kedua dari 90 tim pendaftar setelah melewati seleksi proposal dan bersaing bersama 15 tim yang lolos ke babak final. Atas capaian itu, tim memperoleh hadiah senilai Rp3.750.000.

Teen Tensors terdiri atas Mikael Alexander Adikara Purnama, Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, dan Adinda Sekaring Wana dari Universitas Brawijaya, serta Timotius Christopher Patrick Sihombing dan Raphael Angelo Adikara Purnama dari Universitas Airlangga. Kelimanya merupakan mahasiswa Program Studi Sains Data angkatan 2024.

Baca juga: Luar Biasa, Wartawan JatimSatuNews Juara 2 Lomba Menulis Budaya HUT TNI

Baca juga: Band Mahasiswa TBI FTIK UIN Malang Raih Juara 2 Musik Promoxi XIII

Hadirkan “Nyambung”, Inovasi AAC Berbahasa Indonesia untuk Anak Autis

Mengangkat tema Tech for Human Connections dengan subtema Accessibility, tim tersebut menghadirkan Nyambung, sebuah ekosistem komunikasi augmentatif dan alternatif atau Augmentative and Alternative Communication (AAC) berbahasa Indonesia bagi anak autis dengan kebutuhan komunikasi kompleks, khususnya anak yang belum atau hanya sedikit menggunakan bahasa lisan.

Gagasan Nyambung berangkat dari kenyataan bahwa tantangan komunikasi tidak selesai hanya dengan memberikan perangkat kepada anak. Penelitian Helen Tager-Flusberg dan Connie Kasari pada 2013 memperkirakan sekitar 30 persen anak autis tetap minim verbal meskipun telah menerima beragam intervensi dan kesempatan pendidikan. Di sisi lain, keberhasilan AAC juga membutuhkan dukungan dari orang-orang yang berkomunikasi dengan anak setiap hari.

Karena itu, Nyambung dirancang sebagai satu rangkaian yang menghubungkan anak, keluarga, dan terapis. Anak menggunakan papan bicara bergambar pada aplikasi Android. Ketika simbol ditekan, aplikasi menyuarakan kata yang dipilih. Orang tua memperoleh pelajaran singkat dan misi harian untuk belajar memberi contoh penggunaan papan dalam rutinitas keluarga.

Iklan

Saat tersedia koneksi internet dan keluarga memberikan izin, catatan penggunaan dapat disinkronkan agar terapis melihat pola komunikasi di rumah dan mengirimkan usulan kata atau frasa yang tetap dapat diterima maupun ditolak oleh keluarga.

“Melalui Nyambung, kami tidak hanya ingin membuat papan komunikasi, tetapi membangun dukungan yang menghubungkan anak, keluarga, dan terapis. Bagi kami, teknologi seharusnya membantu suara anak sampai dan dipahami oleh orang-orang di sekitarnya,” ujar Bonfilio Renato Lawaziduhu Fau, mewakili Teen Tensors.

Fitur Unggulan dan Cara Kerja Aplikasi Nyambung Secara Luring

Berbeda dari aplikasi yang bergantung pada koneksi internet, fungsi utama papan bicara Nyambung dapat berjalan sepenuhnya secara luring. Aplikasi ini memuat 120 kata Bahasa Indonesia dalam 13 halaman, dengan 12 kata inti yang menempati posisi tetap agar lebih mudah dipelajari. Sistem tersebut dikembangkan untuk perangkat mulai Android 8 dengan RAM 2 GB sehingga dapat digunakan pada telepon seluler berspesifikasi sederhana.

Nyambung juga menawarkan fitur “Papan dari Foto”. Orang tua dapat mengubah foto kegiatan sehari-hari, seperti meja makan atau ruang belajar, menjadi papan komunikasi interaktif. Area tertentu pada foto dapat dipasangkan dengan kata dan suara sehingga anak dapat menekan objek yang dikenali untuk menyampaikan maksudnya. Kecerdasan buatan dapat membantu menyusun draf area pada foto, tetapi hasilnya tetap harus diperiksa dan diputuskan oleh keluarga.

Fitur lain yang dikembangkan adalah suara keluarga dan jembatan terapis. Keluarga dapat merekam suara untuk kata-kata tertentu, sedangkan dasbor terapis menampilkan pola penggunaan papan dari rumah, bukan skor kemampuan anak. Terapis kemudian dapat mengusulkan kosakata yang sesuai dengan kebutuhan komunikasi anak. Dengan mekanisme tersebut, keputusan tetap berada di tangan keluarga dan tenaga profesional, sementara teknologi berfungsi sebagai penghubung.

Iklan

Dalam mengembangkan Nyambung selama hackathon, Teen Tensors membagi pekerjaan ke dalam empat jalur, yaitu aplikasi papan bicara, pendampingan orang tua, server dan sinkronisasi data, serta dasbor terapis dan materi presentasi. Produk yang dibangun mencakup aplikasi Android, server, dasbor web, dan purwarupa fitur berbasis kecerdasan buatan.

Komitmen Terhadap Privasi dan Keamanan Pengguna

Momen penyerahan penghargaan Juara 2 Hackathon IFEST 2026 kepada Teen Tensors di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung, Sabtu (19/9/2026).
Momen penyerahan penghargaan Juara 2 Hackathon IFEST 2026 kepada Teen Tensors di Kampus Universitas Padjadjaran Dipati Ukur, Bandung, Sabtu (19/9/2026). (Foto: Humas UB)

Tim juga menempatkan privasi sebagai bagian dari rancangan. Aplikasi tidak merekam percakapan di ruangan, video, maupun lokasi anak. Foto yang dipakai untuk membuat kartu personal tetap berada di perangkat, sedangkan penggunaan analisis foto berbasis kecerdasan buatan memerlukan persetujuan khusus dari orang tua. Nyambung juga tidak diposisikan sebagai alat diagnosis maupun pengganti penilaian klinis terapis.

Capaian Teen Tensors menunjukkan bahwa kolaborasi lintas perguruan tinggi dapat menghasilkan inovasi teknologi yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga berangkat dari kebutuhan sosial. Melalui Nyambung, kelima mahasiswa menerjemahkan keilmuan sains data dan pengembangan perangkat lunak ke dalam purwarupa aksesibilitas yang dibangun dalam waktu terbatas.

Bagi kelima mahasiswa tersebut, Juara 2 IFEST 2026 menjadi pengalaman berharga dalam merancang teknologi secara kolaboratif, kritis, dan berorientasi pada kebutuhan pengguna.

Prestasi ini sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa Sains Data mampu memadukan kemampuan teknis dengan kepedulian sosial untuk menghadirkan gagasan digital yang inklusif bagi masyarakat.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.