Langsung ke konten
Jumat, 2 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

OSHIKA MABA Pascasarjana UNISMA, Dr. Faruq Ubaidillah Ungkap 3 Kunci Publikasi Ilmiah Internasional

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa pascasarjana dituntut tidak hanya mampu menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga memiliki kesiapan untuk membawa hasil

Dr. Faruq Ubaidillah memberikan materi pembuka sebelum seremoni pembukaan OSHIKA Maba Pascasarjana Unisma

Dr. Faruq Ubaidillah memberikan materi pembuka sebelum seremoni pembukaan OSHIKA Maba Pascasarjana Unisma (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Mahasiswa pascasarjana dituntut tidak hanya mampu menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga memiliki kesiapan untuk membawa hasil penelitian ke ranah publikasi ilmiah internasional.

Pesan tersebut disampaikan Dr. M. Faruq Ubaidillah, M.Pd., Kepala Divisi Publikasi Artikel Ilmiah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Islam Malang (Unisma). Disampaikan sesi pembuka saat memberikan orientasi dalam kegiatan OSHIKA di Gedung Pascasarjana Unisma, Jumat (2/10/2026).

Dalam paparannya yang mengangkat tema “Orientasi Percepatan Publikasi Ilmiah Internasional: Jejak Akademik dan Kontribusi Global”, Faruq menekankan pentingnya mahasiswa pascasarjana memiliki kesiapan akademik yang lebih matang dibandingkan mahasiswa jenjang sarjana.

Baca juga: Writing Camp 5 FITK UIN Malang Hadirkan Pakar Bereputasi Internasional, Bekali Peserta Kuasai Interpretasi Data hingga Finalisasi Manuskrip Ilmiah

Baca juga: Tadris Matematika FITK UIN Malang Gelar Bimtek Penulisan Karya Ilmiah Berbasis Referensi Internasional

Menurutnya, mahasiswa pascasarjana yang berasal dari berbagai bidang keilmuan harus mulai membangun tradisi akademik yang kuat, terutama dalam membaca, menelusuri, dan memahami perkembangan literatur ilmiah internasional.

“Mahasiswa pascasarjana itu isinya sudah siap. Berbeda dengan mahasiswa S1 yang mungkin masih belajar. Kesiapan itu yang akan kita pelajari dan saya orientasikan pagi hari ini,” ujarnya.

Ia juga mendorong peserta untuk tidak hanya menjadi pendengar selama kegiatan orientasi. Diskusi dan pertanyaan, menurutnya, justru menjadi bagian penting untuk memperdalam pemahaman.

Peserta orientasi berasal dari beragam program studi, di antaranya S3 Pendidikan Agama Islam (PAI), S2 Manajemen, Pendidikan Bahasa Indonesia, Pendidikan Bahasa Inggris, Kenotariatan, Hukum Islam, Matematika, dan bidang keilmuan lainnya.

Tiga Hal yang Harus Disiapkan Mahasiswa Pascasarjana


Faruq menjelaskan, setidaknya ada tiga hal utama yang harus dipersiapkan mahasiswa pascasarjana untuk mempercepat publikasi ilmiah.


Ketiganya adalah topik, sumber bacaan jurnal, dan target jurnal.

Mahasiswa harus mampu menentukan topik penelitian yang baik dan relevan.


Topik tidak harus selalu mengikuti isu yang sedang ramai diperbincangkan. Yang lebih penting, topik tersebut memiliki relevansi akademik, membuka ruang perdebatan atau diskusi, serta memiliki kontribusi terhadap bidang keilmuan.


“Topik yang bagus itu relevan, ada perdebatan, ada diskusi. Apapun topiknya,” jelasnya.

Iklan


Ia kemudian memperkenalkan tiga pertimbangan dalam memilih topik, yakni relevance, currency, dan sustainable.


Relevance berarti topik memiliki keterkaitan dengan perkembangan keilmuan dan kebutuhan penelitian. Sementara currency berkaitan dengan kemampuan topik memberikan informasi yang menarik serta mengikuti perkembangan pengetahuan.
Sedangkan sustainable berarti topik memiliki keberlanjutan untuk dikembangkan dalam jangka panjang.

“Pastikan bukan topik yang hangat-hangat kuku,” tegasnya.


Menurut Faruq, relevansi sebuah topik dapat diketahui melalui kebiasaan membaca jurnal-jurnal internasional yang sesuai dengan bidang keilmuan.

Mahasiswa Harus Rajin Melakukan Navigasi Literatur


Yang tidak kalah penting adalah sumber bacaan.
Mahasiswa pascasarjana dituntut memilih referensi yang valid, reliabel, dan mutakhir. Ia mengingatkan bahwa ide penelitian yang menarik tidak akan cukup apabila tidak didukung oleh sumber bacaan ilmiah yang kuat.


“Kadang di kepalanya punya ide sangat menarik, sayangnya tidak didukung oleh sumber bacaan yang valid dan reliabel,” ungkapnya.


Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan melakukan navigasi literatur ilmiah secara rutin.


Faruq juga menyinggung pentingnya memahami jurnal-jurnal ilmiah sesuai bidang masing-masing, termasuk mengenali kualitas jurnal melalui berbagai indikator, salah satunya SCImago Journal Rank (SJR).


“Semua bidang ilmu harus hafal jurnal ilmiah masing-masing. Sering melakukan navigasi literatur ilmiah,” pesannya.


Mahasiswa juga disarankan mengenali para peneliti yang aktif dan memiliki reputasi dalam bidang keilmuannya.

Iklan


Caranya, dengan membaca sumber bacaan yang luas kemudian membuat daftar nama peneliti, artikel, serta jurnal yang relevan dengan bidang penelitian.


Tidak Perlu Takut dengan Bahasa Inggris


Dalam kesempatan tersebut, Faruq juga mengingatkan mahasiswa agar tidak menjadikan kendala bahasa sebagai alasan untuk menghindari jurnal internasional.
Ia menyampaikan bahwa Unisma memfasilitasi tim penerjemah untuk membantu kebutuhan mahasiswa dalam memahami maupun mempersiapkan naskah ilmiah.


“Jadi jangan khawatir untuk menterjemahkan,” ujarnya.

Menurutnya, kemampuan membaca literatur internasional harus terus dibangun karena perkembangan ilmu pengetahuan tidak hanya terjadi dalam publikasi berbahasa Indonesia.

Target Jurnal Harus Dipersiapkan Sejak Awal

Yang tak kalah penting adalah menentukan target jurnal.


Faruq menyarankan mahasiswa tidak terburu-buru membidik jurnal yang dianggap paling tinggi atau berasal dari negara-negara besar. Yang lebih penting adalah memahami karakter jurnal dan memastikan artikel sesuai dengan ruang lingkup serta ketentuan jurnal yang dituju.


“Pilih jurnal yang paling bawah dulu. Jangan pilih jurnal dari negara besar. Yang penting bisa terbit,” pesannya.


Strategi tersebut, menurutnya, dapat menjadi langkah awal bagi mahasiswa untuk membangun rekam jejak publikasi secara bertahap.


Mahasiswa juga diminta tidak ragu berkonsultasi apabila mengalami kendala dalam proses publikasi.
“Tidak paham, langsung ke LPPM Unisma. Gratis,” katanya.

Membangun Jejak Akademik dan Kontribusi Global


Melalui orientasi tersebut, mahasiswa pascasarjana Unisma diharapkan mulai melihat publikasi ilmiah bukan sekadar kewajiban akademik untuk menyelesaikan studi.


Publikasi menjadi bagian dari jejak akademik sekaligus sarana untuk menyebarluaskan hasil penelitian dan memberikan kontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan secara lebih luas.


Dengan menguasai topik yang relevan, memperkuat sumber bacaan jurnal internasional, serta menentukan target jurnal secara strategis, mahasiswa diharapkan mampu menghasilkan karya ilmiah yang tidak berhenti di ruang kelas maupun perpustakaan.


Semangat itulah yang ditekankan dalam orientasi publikasi ilmiah tersebut: membangun kesiapan akademik, memperluas jejaring pengetahuan, dan membawa hasil penelitian mahasiswa pascasarjana menuju panggung publikasi ilmiah internasional.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.