Sorotan
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pencak silat tidak selalu berada di gelanggang. Ia bisa hadir di ruang perjumpaan.
Ini seperti yang terjadi pada Senin (28/9) malam, ketika ratusan pendekar dari berbagai perguruan dan padepokan di Kabupaten Malang duduk bersama.
Mereka berbagi cerita, membaca kembali sejarah, dan membicarakan masa depan tradisi yang mereka warisi.
Baca juga: Raih Juara Umum 3 Kejurwil Banyuwangi, Pagar Nusa Kabupaten Malang Jaga Tradisi Juara
Mocopat Padang Bulan
Suasana harmoni itu terasa dalam Sarasehan dan Mocopat Padang Bulan, yang digelar Lembaga Adat Desa (LAD) Tumpang, Senin (28/9/2026) malam.
Kegiatan dimulai pukul 19.00 WIB di Mesem Cafe & Art Gallery, Rest Area De Fores, Jalan Wisnu Wardhana Nomor 1, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang.
Selain menjadi ruang silaturahmi kelompok pencak silat, kegiatan tersebut menjadi forum untuk merawat pencak silat sebagai bagian dari kebudayaan masyarakat.
Acara Mocopat Padang Bulan dibuka Irfan Muhlisin dari Lembaga Adat Desa Tumpang bersama Kamituo MKM.
Rangkaian kegiatan diawali atraksi pencak Asuro berkolaborasi dengan LAD Tumpang dan PSHT, kemudian dilanjutkan atraksi sejumlah sesepuh pencak dor dari Tumpang dan sekitarnya.
Di antara para hadirin terdapat Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang Gus Saiful Anam, sesepuh PSHT Kabupaten Malang Kang Mas Dondot, seniman jalanan Iwan Dongkel, sesepuh Tapak Suci, serta sejumlah sesepuh dari berbagai aliran pencak dor di Kabupaten Malang.
Kehadiran mereka membuat forum tersebut lebih dari sekadar pertunjukan. Ia menjadi pertemuan lintas tradisi dalam satu ruang kebudayaan.

Baca juga: Ketika Gelanggang Menjadi Ruang Khidmah
Pencak Silat sebagai Olah Raga dan Olah Rasa
Pimpinan PSMD Ki Sholeh AP dalam sarasehan menekankan pentingnya menjaga pencak silat sebagai budaya yang adiluhung.
Menurutnya, pencak silat tidak seharusnya dipahami sebatas kemampuan fisik.
Di balik gerak dan jurus terdapat proses pembentukan manusia melalui disiplin, pengendalian diri, dan kepekaan terhadap lingkungan.
“Pencak silat bukan hanya mengajarkan olah raga atau badan, tetapi juga olah rasa,” ujar Ki Sholeh.
Sementara itu, Mbah Agus Mbeluk, tokoh pencak silat Kabupaten Malang, menguraikan sejarah perkembangan pencak silat di wilayah Malang.
Paparan tersebut melihat pencak silat tidak hanya dari perjalanan perguruan, tetapi juga dari sisi filosofis dan sosial.
Pencak silat tumbuh melalui hubungan guru dan murid, padepokan, lingkungan masyarakat, serta tradisi yang diwariskan antargenerasi.
Karena itu, sejarah pencak silat sekaligus merupakan bagian dari sejarah sosial masyarakat Malang.
Baca juga: Dari Malang ke Banyuwangi, 35 Pesilat Pagar Nusa Bawa Misi Menjaga Tradisi Juara
Ketika Perguruan Berbeda Duduk dalam Satu Ruang
Ratusan pendekar yang hadir menunjukkan luasnya ekosistem pencak silat di Kabupaten Malang.
Mereka datang dari latar perguruan dan tradisi yang berbeda. Ada Pagar Nusa, PSHT, Tapak Suci, pencak dor, serta berbagai perguruan dan padepokan lainnya.
Perbedaan itu tidak menjadi alasan untuk menutup ruang perjumpaan. Dalam forum seperti Mocopat Padang Bulan, identitas perguruan tetap ada, tetapi silaturahmi ditempatkan sebagai titik temu.
Di situlah pelestarian budaya memperoleh bentuk yang konkret.
Pencak silat tidak cukup diwariskan melalui jurus. Yang juga harus diwariskan adalah nilai di balik jurus: penghormatan kepada guru, disiplin, pengendalian diri, persaudaraan, dan tanggung jawab.
Mocopat Padang Bulan Tumpang mempertemukan dua hal penting: ingatan tentang masa lalu dan tanggung jawab terhadap masa depan.
Para sesepuh membawa sejarah. Para pendekar menjaga tradisi. Generasi berikutnya akan menentukan bagaimana warisan itu tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Sebab pencak silat bukan hanya tentang kemampuan menggunakan kekuatan, melainkan juga tentang kemampuan mengendalikannya.
Di situlah pencak silat menemukan maknanya sebagai olah raga, olah rasa, sekaligus kebudayaan yang diwariskan dari generasi ke generasi.(ROF)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.