KALIMANTAN BARAT | JATIMSATUNEWS.COM: Kayong Utara Kalimantan Barat- Relawan Lembaga Manajemen Infaq (LMI) turun langsung merespons kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat. Tim diterjunkan sejak 19 September 2026 untuk membantu penanganan kebakaran sekaligus memberikan dukungan kepada relawan dan masyarakat terdampak.
Regional Manajer LMI Kalbar, Rapanca Indra Mukti, mengatakan keterlibatan LMI dilakukan melalui bantuan logistik, dapur umum, layanan kesehatan, serta distribusi air bersih.
“LMI hadir untuk memperkuat respons kemanusiaan. Karhutla tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga kesehatan, aktivitas masyarakat, kebutuhan air bersih dan penghidupan warga,” kata Rapanca, Senin (21/9/2026).
Baca juga: Relawan UM Turun Tangan, Pulihkan Fisik dan Trauma Korban Gempa NTT
Baca juga: Perjuangan Relawan UM Tembus Jalur Longsor Demi Korban Bencana di Manggarai Timur
Sebanyak 9 personel LMI diterjunkan, terdiri dari 3 amil LMI Kalbar, 3 relawan kesehatan, dan 3 relawan kemanusiaan. Mereka berkolaborasi dengan masyarakat, BPBD, Manggala Agni, TNI, dan Yayasan Gunung Palung.
Respons dilakukan di Desa Tanjung Belimbing, Kecamatan Sukadana; Desa Medan Jaya, Kecamatan Simpang Hilir; serta Desa Sungai Paduan, Kecamatan Teluk Batang. Pos dapur umum LMI didirikan di Desa Tanjung Belimbing.
LMI Buka Layanan Kesehatan
Tim kesehatan LMI terdiri dari dr. Aisyah serta dua perawat, Sri Wahyuni dan Yunita. Layanan diberikan kepada relawan dan masyarakat yang membutuhkan di tengah aktivitas penanganan karhutla.
Layanan tersebut meliputi pemeriksaan tekanan darah, pemberian vitamin C dan injeksi sesuai kebutuhan, obat tetes mata, serta dukungan oksigen portabel.
Selain layanan kesehatan, LMI menyalurkan sembako untuk kebutuhan dapur umum dan air bersih bagi masyarakat yang terdampak kekeringan.
Di lapangan, relawan juga ikut membantu tim gabungan menangani titik api. Pemadaman manual dilakukan dengan peralatan sederhana ketika akses dan peralatan pendukung terbatas.
Keterbatasan APD Jadi Kendala
Salah satu tantangan yang dihadapi relawan adalah keterbatasan alat pelindung diri (APD) dan peralatan pemadaman seperti selang, nozzle, serta kolam terpal. Kondisi lahan gambut juga membuat penanganan lebih sulit karena api dapat menjalar di bawah permukaan dan kembali muncul meski bagian atas terlihat padam.
Salah satu sumber air yang digunakan untuk mendukung pemadaman berada di kaki Bukit Peramas, Kecamatan Sukadana. Pada saat terdapat informasi titik api, terutama siang hari, tim melakukan koordinasi untuk menentukan lokasi intervensi.
Humanitarian Program Laznas LMI, Susanto, mengatakan respons tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan relawan sekaligus masyarakat yang terdampak.
“Kami tidak hanya menyalurkan bantuan, tetapi juga mendukung relawan yang bekerja di lapangan melalui layanan kesehatan, logistik, air bersih dan oksigen portabel. Keselamatan relawan tetap menjadi perhatian dalam setiap penugasan,” ujar Susanto.
Penugasan tim LMI berlangsung selama empat hari, dengan koordinasi keselamatan berada di bawah Manajer LMI Kalbar.” pungkasnya.(snt)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.