Langsung ke konten
Sabtu, 26 September 2026
Headline Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Ketika Gelanggang Menjadi Ruang Khidmah

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, mengajak pesilat (atlet) dan orang di sekitarnya menjaga khidmah NU bersama.

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, mengajak pesilat (atlet) dan orang sekitarnya menjaga khidmah NU bersama./dok.ROF

Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, mengajak pesilat (atlet) dan orang sekitarnya menjaga khidmah NU bersama./dok.ROF

OPINI | JATIMSATUNEWS.COM: Ketika Gelanggang Menjadi Ruang Khidmah oleh: Saiful Anam, Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang

Sebagai Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Malang, saya tidak pernah melihat seorang pesilat hanya dari menang atau kalahnya di gelanggang.

Bagi saya, tiap anak yang kita kirim bertanding membawa amanah yang jauh lebih besar daripada sekadar target medali.

Di pundaknya ada doa orang tua, keringat pelatih, harapan perguruan, nama Kabupaten Malang, dan marwah Pagar Nusa.

Karena itu, ketika 35 pesilat Pagar Nusa Kabupaten Malang bertanding dalam Kejurwil X Pagar Nusa Jawa Timur di Banyuwangi, 23–27 September 2026, yang kami titipkan kepada mereka bukan hanya kemampuan bertanding.

Kami menitipkan karakter.

Baca juga: Dari Malang ke Banyuwangi, 35 Pesilat Pagar Nusa Bawa Misi Menjaga Tradisi Juara

Pesilat Pulang dengan Kematangan Diri

Saya ingin mereka pulang sebagai pesilat yang lebih matang daripada ketika berangkat.

Kalau membawa medali, tentu itu menjadi kebanggaan. Tetapi kalau tidak membawa medali sekalipun, saya ingin mereka tetap membawa pulang sesuatu yang lebih panjang umurnya: kedewasaan, sportivitas, disiplin, kerendahan hati, dan pengalaman menaklukkan dirinya sendiri.

Sebab bagi saya, kemenangan pertama seorang pesilat bukan ketika lawannya jatuh, melainkan ketika egonya mampu ia tundukkan.

Di situlah saya melihat hubungan antara pencak silat, pendidikan karakter, dan laku batin.

Kita melatih tubuh agar kuat, tetapi pada saat yang sama kita harus melatih hati agar tidak dikuasai oleh kekuatan itu sendiri.

Seorang pesilat harus belajar mengosongkan dirinya dari kesombongan, amarah, dendam, dan keangkuhan. Dalam bahasa tasawuf, inilah semangat takhalli.

Setelah itu, ia harus mengisi dirinya dengan sabar, disiplin, tawadhu, keberanian, sportivitas, dan tanggung jawab. Inilah semangat tahalli.

Ketika semua nilai itu tidak lagi berhenti sebagai nasihat, tetapi menjadi kebiasaan dan laku—ketika seorang pesilat tetap rendah hati setelah menang, tetap teguh setelah kalah.

Kemudian, mampu mengendalikan kekuatan, dan memilih menggunakan ilmunya untuk memberi manfaat—di situlah proses pembentukan dirinya menemukan bentuk yang lebih dalam.

Bagi saya, itulah ruh kependekaran. Kekuatan yang dikendalikan oleh akhlak.

Sebab saya tidak ingin Pagar Nusa hanya melahirkan anak-anak yang kuat secara fisik.

Kita membutuhkan pesilat yang kuat menahan amarah, kuat menundukkan ego, kuat memegang prinsip, dan kuat menjalankan amanah.

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya. Semakin kuat tubuhnya, seharusnya semakin terkendali perilakunya.

Semakin banyak prestasinya, seharusnya semakin besar tanggung jawabnya untuk memberi manfaat.

Itulah yang ingin saya tanamkan dalam pembinaan Pagar Nusa Kabupaten Malang.

Gelanggang sebagai Sekolah Kehidupan

Gelanggang sesungguhnya adalah sekolah kehidupan dalam bentuk yang lebih kecil.

Di sana seorang pesilat belajar bahwa tidak semua usaha berakhir dengan kemenangan.

Ia belajar bahwa keputusan tidak selalu sesuai keinginan. Ia belajar bahwa tekanan tidak boleh membuatnya kehilangan kendali.

Karena itu, saya selalu mengingatkan: lawan di gelanggang bukan musuh. Ia adalah bagian dari proses kita belajar.

Tanpa lawan, kita tidak tahu sejauh mana kemampuan kita. Tanpa tekanan, kita tidak tahu seberapa kuat mental kita.

Tanpa kekalahan, kita mungkin tidak pernah belajar menerima kekurangan diri.

Maka bertandinglah dengan sungguh-sungguh, tetapi jangan kehilangan persaudaraan.

Kita boleh keras dalam pertandingan, tetapi tidak boleh keras hati. Kita boleh mengejar kemenangan, tetapi tidak boleh merendahkan lawan.

Iklan

Kita boleh memiliki ambisi menjadi juara, tetapi tidak boleh menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk kehilangan adab.

Keras dalam latihan, kuat dalam pertandingan, rendah hati dalam kemenangan, dan lapang dada dalam kekalahan.

Bagi saya, itulah kultur yang harus dibangun Pagar Nusa.

Prestasi dan Khidmah

Sebagai ketua, tentu saya memiliki tanggung jawab untuk memastikan pembinaan prestasi berjalan serius. Atlet harus dipersiapkan.

Pelatih harus ditingkatkan kualitasnya. Program harus dievaluasi. Kompetisi harus diikuti.

Kita tidak boleh romantis terhadap kekurangan dengan mengatasnamakan khidmah.

Khidmah justru menuntut kesungguhan.

Kalau kita diberi amanah membina atlet, maka kita harus membinanya dengan profesional.

Kalau kita diberi amanah membawa nama organisasi, maka kita harus menjaganya dengan penuh tanggung jawab.

Kalau kita diberi amanah bertanding, maka kita harus memberikan kemampuan terbaik.

Tetapi saya juga tidak ingin prestasi dipersempit menjadi angka dan medali.

Saya akan lebih khawatir melihat seorang atlet pulang membawa medali tetapi kehilangan kerendahan hati, daripada seorang atlet pulang tanpa medali tetapi membawa pulang kedewasaan.

Sebab, medali bisa disimpan di lemari. Sedangkan, karakter dibawa sepanjang hidup.

Itulah mengapa saya memaknai khidmah bukan sekadar kehadiran ketika organisasi membutuhkan.

Khidmah adalah kesediaan memberikan kemampuan terbaik yang kita miliki untuk sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Atlet berkhidmah melalui prestasinya. Pelatih berkhidmah melalui ilmunya.

Pengurus berkhidmah melalui waktunya. Orang tua berkhidmah melalui doa dan dukungannya.

Dan, Pagar Nusa harus menjadi ruang yang menyatukan seluruh pengabdian itu.

Kepada 35 Pesilat Kami

Kepada 35 pesilat Pagar Nusa Kabupaten Malang yang bertanding di Banyuwangi, pesan saya tidak panjang.

Jangan hanya berusaha menjadi juara. Jadilah pesilat yang layak membawa nama Pagar Nusa.

Bertandinglah dengan seluruh kemampuan. Jangan takut kepada lawan. Jangan meremehkan lawan. Hormati wasit.

Dengarkan pelatih. Jaga emosi. Jaga ucapan. Jaga sikap.

Dan apa pun hasilnya, jangan kehilangan adab. Kalau menang, jangan jumawa. Kalau kalah, jangan menyerah.

Kalau dipuji, tetap mawas diri. Kalau dikritik, bersedia memperbaiki diri.

Karena yang sedang kalian hadapi di gelanggang bukan hanya lawan di depan kalian.

Kalian sedang diuji oleh diri kalian sendiri. Apakah kalian mampu tetap tenang ketika tertekan?

Iklan

Apakah kalian mampu tetap rendah hati ketika menang? Apakah kalian mampu tetap teguh ketika kalah?

Dan apakah kalian mampu menggunakan ilmu yang kalian miliki untuk kebaikan?

Jika jawabannya iya, maka kalian telah membawa pulang kemenangan yang sesungguhnya.

Baca juga: Kita Ber-NU atau Menjadi NU? Mencari Alasan Baru Ke-NU-an di Abad Kedua

Yang Ingin Kita Wariskan

Kejurwil akan selesai. Gelanggang akan kembali sunyi. Medali akan berpindah tangan. Nama-nama juara akan tercatat.

Tetapi saya berharap ada sesuatu yang jauh lebih lama tinggal di dalam diri para pesilat kita.

Nilai.

Karena tugas kita sebagai pengurus bukan hanya mencetak juara untuk hari ini. Kita sedang menyiapkan generasi untuk hari esok.

Kita ingin anak-anak Pagar Nusa ketika kelak meninggalkan gelanggang tetap membawa disiplin dalam kehidupannya.

Kemudian membawa adab dalam pergaulannya, membawa keberanian dalam menghadapi persoalan, dan membawa semangat khidmah di tengah masyarakat.

Itulah sebabnya saya percaya bahwa gelanggang bukan tujuan akhir. Gelanggang hanyalah tempat menempa. Kehidupanlah tempat membuktikan.

Di gelanggang kita belajar menjatuhkan lawan. Dalam kehidupan kita belajar mengangkat sesama.

Di gelanggang kita belajar mempertahankan diri. Dalam kehidupan kita belajar mempertahankan nilai.

Di gelanggang kita mengejar kemenangan. Dalam kehidupan kita belajar menjadi manusia yang bermanfaat.

Pada akhirnya, mungkin inilah hakikat seorang pendekar yang ingin kita bangun di Pagar Nusa:

Kuat tanpa sombong, berani tanpa arogan, tegas tanpa kehilangan kasih sayang, berilmu tanpa kehilangan adab, dan berprestasi tanpa melupakan khidmah.

Saya ingin Pagar Nusa Kabupaten Malang tumbuh dengan tradisi prestasi yang kuat, tetapi juga dengan tradisi akhlak yang kokoh.

Sebab kita tidak sedang membangun manusia yang hanya mampu memenangkan pertandingan.

Kita sedang membangun manusia yang mampu memenangkan dirinya sendiri.

Dan bagi saya, itulah kemenangan yang lebih sulit, lebih panjang, dan lebih bermakna.

La ilaha ghalib illa Billah. Kita berlatih dengan ikhtiar.

Kita bertanding dengan keberanian. Kita menjaga adab dalam setiap keadaan.

Setelah itu, hasil kita serahkan kepada Allah. Karena kekuatan adalah amanah.

Ilmu adalah amanah. Prestasi adalah amanah. Dan jabatan pun adalah amanah.

Pada akhirnya semua akan kembali kepada pertanyaan yang sama:

Untuk apa kekuatan itu kita miliki, dan untuk siapa kita mengabdikan diri?

Jika jawabannya adalah untuk menjaga kehormatan, memberi manfaat, dan menjalankan amanah, maka di situlah gelanggang tidak lagi sekadar menjadi tempat bertanding. Ia telah menjadi ruang khidmah.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.