Langsung ke konten
Senin, 21 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Inovasi Allium Dye Mahasiswa PPG UMM: Ubah Sampah Kulit Bawang Jadi Pewarna Batik Ramah Lingkungan

Karya inovatif yang lahir dari agenda Proyek Kepemimpinan PPG UMM ini langsung dipraktikkan di tengah masyarakat dengan menggandeng 25 anggota Kelompok Tani

Sinergi Kreatif: Mahasiswa PPG PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berfoto bersama anggota KWT Putri Pandan Wangi sembari memamerkan hasil kain batik jumputan menggunakan pewarna alami 'Allium Dye' dari limbah kulit bawang merah di Balai Dusun Klerek, Torongrejo, Kota Batu.

Sinergi Kreatif: Mahasiswa PPG PGSD Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) berfoto bersama anggota KWT Putri Pandan Wangi sembari memamerkan hasil kain batik jumputan menggunakan pewarna alami 'Allium Dye' dari limbah kulit bawang merah di Balai Dusun Klerek, Torongrejo, Kota Batu.

BATU | JATIMSATUNEWS.COM: Limbah kulit bawang merah yang lazimnya dibuang begitu saja ke tempat sampah disulap menjadi produk bernilai ekonomi tinggi oleh mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Melalui inovasi bertajuk Allium Dye by Nafuma, para mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) tersebut berhasil menciptakan formulasi pewarna alami untuk kain batik jumputan.

Karya inovatif yang lahir dari agenda Proyek Kepemimpinan PPG UMM ini langsung dipraktikkan di tengah masyarakat dengan menggandeng 25 anggota Kelompok Tani Wanita (KWT) Putri Pandan Wangi. Pelatihan dan praktik pembuatan pewarna alami tersebut digelar langsung di Balai Dusun Klerek, Desa Torongrejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, pada Rabu (16/9/2026).

Ketua Kelompok PPG UMM, Aminatus Zuhriah, menerangkan bahwa kulit bawang merah sejatinya menyimpan potensi pigmen alami yang sangat kuat, khususnya senyawa antosianin dan flavonoid. Ia membeberkan bahwa pigmen antosianin dapat menghasilkan spektrum warna merah hingga keunguan yang dipengaruhi oleh tingkat keasaman (pH), sedangkan flavonoid berperan mengikat warna sekaligus menyumbang sifat antioksidan.

Baca juga: Faizah Salsabila Said, Mahasiswi FITK UIN Malang Raih Juara 3 Kategori Podcast Audio di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Baca juga: OBOR Universitas Ma Chung Bentuk Mahasiswa Berkarakter Lewat Refleksi Nilai Diri, Anti-kekerasan, Relasi Pertemanan hingga Kepemimpinan

“Hasil ekstraksinya dapat menghasilkan warna kecokelatan hingga kemerahan yang kemudian kami aplikasikan langsung pada kain menggunakan teknik jumputan,” papar Aminatus saat mendampingi para ibu-ibu KWT mempraktikkan proses pewarnaan.

Iklan

Ia menambahkan, pemilihan nama produk Allium Dye memiliki filosofi yang kuat terhadap identitas bahan dasarnya. Kata Allium diambil dari nama genus ilmiah keluarga bawang-bawangan, sedangkan Dye berarti pewarna dalam bahasa Inggris.

“Nama ini kami pilih karena ingin menunjukkan bahwa bahan utama produk berasal dari bawang-bawangan dan hasil akhirnya berupa pewarna alami,” imbuh Aminatus lugas.

Inovasi tersebut dikembangkan Aminatus bersama sembilan rekannya, yakni Ahmad Al Hafidz Ibnu Ruhanis, Faradia Syahfitri, Mila Rosalia Almahgfiro, Muhamad Mahrus Ali, Muhammad Nurudin Wicaksono, Muhammad Rizky Firmansyah, Nabila Aulia Rahma, Nishfatul Lailiyah, dan Siti Fatimatuh Zahro.
Mengusung semboyan “From Waste to Art”, tim mahasiswa PPG UMM tersebut tidak hanya mengedukasi warga terkait tata cara pengolahan limbah dapur dan pertanian, melainkan juga membekali ibu-ibu lokal dengan keterampilan seni kriya yang memiliki prospek ekonomi kreatif.

Melalui sinergi ini, produk kain jumputan yang dihasilkan tampil dengan nuansa warna alami khas dan ramah lingkungan, sekaligus menjadi peluang usaha baru yang berkelanjutan bagi anggota kelompok tani setempat.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.