Langsung ke konten
Minggu, 13 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Baiturrahim Islamic Carnival 2026, Merawat Kerinduan Warga pada Karnaval yang Sarat Nilai

Ribuan warga Desa Poncokusumo mengikuti Baiturrahim Islamic Carnival 2026 pada Sabtu (12/9) malam di Poncokusumo, Kabupaten Malang.

Ribuan warga Desa Poncokusumo mengikuti Baiturrahim Islamic Carnival 2026 pada Sabtu (12/9) malam di Poncokusumo, Kabupaten Malang./dok.ROF

Ribuan warga Desa Poncokusumo mengikuti Baiturrahim Islamic Carnival 2026 pada Sabtu (12/9) malam di Poncokusumo, Kabupaten Malang./dok.ROF

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ribuan warga Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang, tumpah ruah mengikuti Baiturrahim Islamic Carnival, Sabtu (12/9/2026) malam.

Bukan sekadar parade kreativitas, karnaval ini menjadi ruang perjumpaan antara nilai-nilai Islam, budaya lokal, dan pesan moral di tengah kehidupan masyarakat yang semakin lekat dengan teknologi digital.

Kegiatan yang diselenggarakan Pengurus Masjid Baiturrahim Poncokusumo tersebut dimulai pukul 19.00 WIB.

Baca juga: Pagar Nusa Kabupaten Malang Tunjukkan Konsistensi Prestasi di Bupati Cup 2026

Baiturrahim Islamic Carnival Diikuti Warga dari Berbagai Usia

Peserta bergerak dari titik start di Dusun Trigu menuju garis finis di depan Masjid Baiturrahim Poncokusumo.

Mengusung tema “Akulturasi Akhlak Rasulullah di Era Digital: Bijak Berteknologi, Santun Berinteraksi”, karnaval menghadirkan peserta dari TPQ, Madrasah Diniyah (Madin), lembaga pendidikan, wali santri, serta masyarakat dari tujuh blok atau kelompok masyarakat di Desa Poncokusumo.

Takmir Masjid Baiturrahim Poncokusumo, Ustaz Angga Kusuma Putra, mengatakan kegiatan tersebut digelar dua tahun sekali bertepatan dengan bulan Maulid. Tahun ini merupakan pelaksanaan yang ketiga.

“Baiturrahim Islamic Carnival bukan hanya kegiatan seremonial. Ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu, bersilaturahmi, sekaligus menyampaikan pesan-pesan keislaman melalui kreativitas budaya,” ujarnya.

Antusiasme masyarakat terlihat dari jumlah peserta yang mencapai kurang lebih 3.000 orang.

Keterlibatan berbagai unsur masyarakat menunjukkan bahwa karnaval tersebut telah menjadi bagian dari ruang sosial dan budaya warga Poncokusumo.

Bagi masyarakat, karnaval juga menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi berkumpul dan mengekspresikan kreativitas secara bersama-sama.

Warga Poncokusumo Kangen Karnaval Kebudayaan

Kemeriahan Baiturrahim Islamic Carnival 2026 pada Sabtu (12/9) malam di Poncokusumo, Kabupaten Malang./dok.ROF

Kemeriahan Baiturrahim Islamic Carnival di Poncokusumo Malang 2026 (12/9)./dok.ROF

Tokoh masyarakat Desa Poncokusumo, Khoirul Anam, yang akrab disapa Embah, mengatakan masyarakat sebenarnya memiliki kerinduan terhadap kegiatan karnaval yang tidak berhenti pada kemeriahan visual, tetapi juga membawa pesan yang bermakna.

“Masyarakat kangen dengan adanya karnaval yang mengusung nilai-nilai dan kreativitas dari daerah masing-masing,” katanya.

Menurutnya, kekuatan sebuah karnaval tidak selalu ditentukan oleh kemegahan, kemeriahan, maupun kerasnya ekspresi. Yang jauh lebih penting adalah pesan yang dibawa dan nilai yang ditanamkan kepada masyarakat.

Iklan

“Kita tidak harus keras. Tetapi pesan moral, substansi, dan nilai yang ingin disampaikan harus jelas,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menemukan relevansinya dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini.

Di tengah derasnya arus informasi digital, ruang publik tidak lagi hanya berada di jalan, pasar, sekolah, atau tempat ibadah.

Media sosial telah menjadi ruang perjumpaan baru yang memungkinkan seseorang berinteraksi tanpa batas geografis.

Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan tantangan baru. Kecepatan menyampaikan informasi terkadang tidak diikuti dengan kedalaman berpikir dan kesantunan dalam berkomunikasi.

Akulturasi Akhlak Rasulullah di Era Digital

Tema “Akulturasi Akhlak Rasulullah di Era Digital” menjadi pesan penting.

Akulturasi dalam konteks ini bukan sekadar mempertemukan budaya lama dengan teknologi baru, melainkan bagaimana nilai-nilai luhur Islam tetap hidup dan menemukan bentuk ekspresinya dalam perubahan zaman.

Akhlak Rasulullah menjadi fondasi, sementara teknologi hanyalah sarana. Teknologi dapat memperluas manfaat ketika digunakan dengan kebijaksanaan, tetapi dapat pula menjadi sumber konflik ketika kehilangan kendali moral.

Karnaval kemudian menjadi semacam ruang pendidikan sosial yang berjalan.

Kreativitas masyarakat tidak hanya dipertontonkan, tetapi sekaligus menjadi medium untuk menyampaikan pesan agama, budaya, persaudaraan, dan kearifan lokal kepada generasi muda.

Di sinilah Baiturrahim Islamic Carnival menemukan maknanya. Jalan yang dilalui peserta bukan sekadar lintasan menuju garis finis.

Ia menjadi ruang simbolik tempat masyarakat menampilkan identitas, kreativitas, dan nilai-nilai yang ingin diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kerinduan masyarakat terhadap karnaval, dengan demikian, bukan semata kerinduan terhadap keramaian.

Lebih jauh, terdapat kerinduan terhadap ruang kebersamaan yang memiliki makna—ruang di mana agama tidak berjarak dengan budaya, kreativitas tidak kehilangan etika, dan kemajuan teknologi tetap berpijak pada akhlak.

Di tengah era digital yang bergerak cepat, pesan yang dibawa Baiturrahim Islamic Carnival menjadi sederhana tetapi mendasar: teknologi boleh semakin maju, tetapi akhlak tidak boleh tertinggal.

Sebab, kemajuan sebuah masyarakat pada akhirnya tidak hanya diukur dari seberapa canggih teknologi yang digunakannya, tetapi juga dari seberapa beradab manusia yang menggunakannya.(ROF)

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.