Langsung ke konten
Rabu, 2 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

Intensif Turun ke Madura, Anggota DPD RI Ning Lia Soroti Resiliensi Diaspora Pascakonflik

MADURA | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia

Anggota DPD RI Dapil Jatim, Lia Istifhama (Ning Lia), tampak aktif menyampaikan pandangannya saat menghadiri forum diskusi dan penyerapan aspirasi bersama tokoh daerah.

Anggota DPD RI Dapil Jatim, Lia Istifhama (Ning Lia), tampak aktif menyampaikan pandangannya saat menghadiri forum diskusi dan penyerapan aspirasi bersama tokoh daerah. (Foto: Tim Lia Istifhama, istimewa)

MADURA | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Jawa Timur, Lia Istifhama atau yang akrab disapa Ning Lia, menunjukkan komitmen kuatnya dalam menyerap aspirasi warga. Sepanjang tahun 2026, senator ini tercatat semakin intensif melakukan kunjungan ke empat wilayah di Pulau Garam, yakni Sumenep, Pamekasan, Sampang, dan Bangkalan.

Agenda turun ke bawah tersebut rupanya tidak sekadar ditujukan untuk memenuhi kewajiban reses. Ning Lia menjadikan momen tersebut sebagai ruang dialog interaktif untuk bertatap muka langsung dengan berbagai elemen, mulai dari pemangku kebijakan, pemuda, aktivis, jurnalis, pengusaha, hingga para kiai dan ulama setempat.

Salah satu perjumpaan yang menyita perhatian adalah kehadiran Ning Lia dalam acara bedah buku bertajuk Diaspora Madura: Resiliensi, Strategi, dan Transformasi Pasca-konflik Etnik karya Prof. Dr. Abdur Rozaki. Dalam diskusi yang digelar di ruang VIP Rumah Makan Bebek Sinjay Baru pada Minggu (23/8/2026) lalu, ia terlibat aktif membedah proses masyarakat Madura dalam membangun kembali kehidupan sosial pascakonflik.

Baca juga: Muktamar NU Ke-35 Jombang: Ning Lia Istifhama Dorong Gen Z Aktif Jaga Marwah dan Khidmah

Baca juga: Jelang Muktamar NU ke-35, DPD RI Jatim Ning Lia Ajak Kopri PMII Kuasai Ruang Digital

Di hadapan para tokoh yang hadir, Ning Lia memberikan apresiasi khusus terhadap keberanian penulis yang membedah persoalan konflik dari perspektif jangka panjang.
“Konflik selalu menarik perhatian ketika darah masih mengalir. Setelah kekerasan berhenti dan masyarakat mulai menata kembali kehidupannya, perhatian pun perlahan menghilang. Seolah-olah sejarah berakhir ketika senjata diletakkan,” ungkap Ning Lia menyoroti fenomena sosial yang kerap terjadi.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa fase pascakonflik justru merupakan momentum yang paling krusial. Menurut penjelasannya, pada masa itulah masyarakat dituntut untuk membangun kembali kepercayaan yang sempat hilang, memperbaiki hubungan sosial yang retak, dan menciptakan ruang kehidupan bersama yang lebih damai.

Ning Lia turut mengaitkan resiliensi diaspora Madura dengan teori peacebuilding dari John Paul Lederach serta pemikiran Ashutosh Varshney mengenai pentingnya jejaring sipil. Ia menjelaskan bahwa perdamaian sejati tidak akan pernah cukup jika hanya dibangun berbekal slogan toleransi semata.

“Hubungan sosial yang berlangsung secara berkelanjutan menjadi bagian yang sangat penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang benar-benar damai,” tegasnya. Ia meyakini bahwa institusi seperti pesantren, ormas, dan forum lintas etnik merupakan ruang paling efektif untuk memulihkan kepercayaan publik.

Meski memberikan apresiasi tinggi terhadap gagasan resiliensi dan transformasi yang diusung, Ning Lia tetap menunjukkan kehati-hatian akademik. Ia mengaku masih harus mendalami isi literatur tersebut secara menyeluruh.

“Melihat optimisme buku ini, saya kira saya perlu membaca secara detail terlebih dahulu sebelum banyak berkomentar,” tuturnya merendah.

Keaktifan Ning Lia dalam berbagai forum kebudayaan ini mempertegas gaya komunikasinya sebagai wakil daerah. Baginya, fungsi representasi seorang senator tidak boleh berhenti di ruang sidang parlemen, melainkan harus terus hidup dalam setiap perjumpaan dan dialog bersama masyarakat di akar rumput.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.