MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak akan menghilangkan peran guru dalam dunia pendidikan. Justru, calon pendidik perlu mampu memanfaatkan teknologi tersebut tanpa kehilangan kemampuan membangun relasi, memberikan keteladanan, serta menanamkan nilai kepada peserta didik.
Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. H. Muhammad Walid, M.A., saat membuka PBAK FITK 2026 NIRWAKARSA – PELOPOR DUNIA di Gedung Soeharto/Sport Center Lantai 2 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (20/8/2026).
Di hadapan mahasiswa baru yang disebut “Gatotkaca Muda”, Prof. Muhammad Walid mengajak mahasiswa menjadikan masa perkuliahan sebagai proses untuk membangun kompetensi, karakter, kreativitas, dan keberanian mengambil peran dalam perubahan.
“Welcome to FITK!” sapanya kepada mahasiswa baru.
Ia menyampaikan bahwa keberhasilan mahasiswa diterima di FITK setelah melewati persaingan dengan ribuan calon mahasiswa bukanlah akhir dari perjalanan. Sebaliknya, status sebagai mahasiswa menjadi awal dari tanggung jawab untuk terus mengembangkan diri.
Menurutnya, mahasiswa FITK dipersiapkan tidak hanya untuk menyelesaikan pendidikan dan memperoleh gelar akademik. Mereka diharapkan mampu menjadi calon pendidik yang memiliki kapasitas untuk memberikan dampak bagi masyarakat dan perkembangan pendidikan.
Untuk itu, Prof. Muhammad Walid mengingatkan mahasiswa agar meninggalkan pola belajar “SKS” atau Sistem Kebut Semalam. Menurutnya, proses akademik membutuhkan konsistensi dan perencanaan, terutama dalam menyelesaikan tugas, proyek, penelitian, presentasi, maupun berbagai kegiatan pembelajaran.
“Stop belajar dengan sistem SKS—Sistem Kebut Semalam,” pesannya.
Ia juga meminta mahasiswa membangun lingkungan pergaulan yang positif. Menurutnya, perjalanan akademik tidak hanya ditentukan oleh proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga oleh relasi dan lingkungan sosial yang dibangun mahasiswa selama berada di kampus.
Mahasiswa didorong aktif berorganisasi, mengikuti berbagai kegiatan, memperluas jaringan, serta berinteraksi dengan lingkungan kampus. Berbagai pengalaman tersebut dinilai dapat membantu mahasiswa mengembangkan kapasitas sekaligus menghadapi tantangan selama menempuh pendidikan.
Memasuki era digital, Prof. Muhammad Walid juga menyoroti pentingnya kemampuan mahasiswa dalam memanfaatkan teknologi AI. Kehadiran berbagai perangkat AI, termasuk ChatGPT dan Copilot, menurutnya perlu disikapi secara adaptif, bukan dengan kekhawatiran berlebihan.
AI dapat digunakan sebagai mitra dan asisten dalam proses pembelajaran, termasuk untuk mengembangkan gagasan dan mendorong inovasi pendidikan.
Namun, ia menekankan adanya batas yang tidak dapat digantikan oleh teknologi.
“Sampai kapan pun AI tidak akan pernah menggantikan seorang guru,” tegasnya.
Menurut Prof. Muhammad Walid, AI memang dapat membantu manusia mencari informasi, mengolah gagasan, dan mempercepat pekerjaan. Namun, pendidikan membutuhkan aspek kemanusiaan yang tidak dapat sepenuhnya direplikasi teknologi, seperti keteladanan, relasi dengan peserta didik, penanaman nilai, serta kemampuan memahami kondisi dan kebutuhan manusia.
Karena itu, FITK memiliki posisi strategis dalam menyiapkan calon guru yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus tetap memiliki karakter dan orientasi kemanusiaan.
Selain kompetensi akademik dan teknologi, Dekan FITK juga menekankan pentingnya character development selama mahasiswa menjalani pendidikan. Menurutnya, beberapa tahun ke depan mahasiswa baru akan berada di berbagai ruang pendidikan sebagai pendidik dan berhadapan langsung dengan generasi baru.
Karakter yang dibangun selama berada di kampus, lanjutnya, akan menjadi bagian dari bekal ketika mahasiswa memasuki dunia profesional.
Prof. Muhammad Walid juga memastikan bahwa mahasiswa tidak menjalani proses tersebut sendirian. Pimpinan fakultas, dosen, tenaga kependidikan, serta unsur SEMA dan DEMA FITK, kata dia, siap mendampingi mahasiswa dalam menjalani perjalanan akademiknya.
“Kami siap mendampingi kalian. Kami siap menjadi mentor. Kami siap menjadi motivator,” ujarnya.
Ia bahkan membuka ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan, termasuk ide-ide yang kritis dan tidak biasa, selama konstruktif dan dapat mendorong perkembangan FITK.
Di sisi lain, mahasiswa juga diajak membangun relasi sejak awal dengan mengenal panitia, mahasiswa senior, maupun pengurus organisasi kemahasiswaan. Interaksi sederhana tersebut diharapkan dapat berkembang menjadi jaringan pertemanan, kolaborasi, hingga karya.

Seluruh pesan tersebut kemudian diarahkan pada semangat NIRWAKARSA – PELOPOR DUNIA. Mahasiswa baru FITK diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi mampu menggunakan ilmu, teknologi, dan pengalaman yang diperoleh untuk menghasilkan karya serta memberikan manfaat.
Bagi Prof. Muhammad Walid, perjalanan para Gatotkaca Muda di FITK bukan sekadar proses menuju gelar akademik. Mereka sedang dipersiapkan menjadi pendidik yang memiliki kompetensi, karakter, kreativitas, kemampuan beradaptasi, dan kepedulian terhadap masa depan pendidikan.
Di tengah perkembangan AI yang semakin cepat, pesan tersebut menegaskan satu hal: teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi guru tetap menjadi aktor utama dalam mendidik manusia.



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.