Langsung ke konten
Rabu, 19 Agustus 2026
Headline KAI Daop 7 Madiun Tambah Kapasitas Rangkaian, Akomodir Lonjakan Penumpang Libur Panjang HUT ke-81 RI
Daerah

Tampil Memukau di Kick Off Dies Maulidiyah ke-65, FITK UIN Malang Padukan Budaya Sulawesi Selatan dan Pesan Kampus Hijau

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Pakaian adat Sulawesi Selatan, anyaman daun kelapa, dan alunan musik tradisional berpadu dalam satu penampilan ketika Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang tampil dalam Kick Off Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum ke-13, Senin (17/8/2026).

Digelar usai Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, defile tersebut menjadi ruang bagi seluruh fakultas untuk menampilkan kreativitas sekaligus semangat kebersamaan. FITK hadir dengan mengusung tema “Eco Green Campus: Kampus Hijau dan Bebas Polusi”, memadukan identitas budaya Nusantara dengan pesan kepedulian terhadap lingkungan.

Kontingen FITK tampil mengenakan pakaian adat Sulawesi Selatan sesuai ketentuan panitia. Namun, busana tradisional tersebut kemudian dikembangkan dengan berbagai ornamen berbahan alam. Daun kelapa dan anyaman daun digunakan sebagai hiasan kepala maupun pelengkap busana, sehingga penampilan kontingen memiliki karakter visual yang kuat sekaligus selaras dengan tema kampus hijau.

Pilihan material tersebut bukan sekadar unsur dekoratif. FITK menjadikannya sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan: bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat diwujudkan melalui kreativitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Identitas budaya semakin terasa ketika kontingen FITK memasuki arena defile dengan iringan kacaping, rebana, dan sejumlah alat musik pukul tradisional. Perpaduan bunyi musik khas Sulawesi Selatan dengan ritme rebana membuat suasana defile semakin hidup dan mengundang perhatian sivitas akademika.

Melalui perpaduan tersebut, FITK tidak hanya menampilkan busana adat, tetapi menghadirkan satu kesatuan pertunjukan yang mempertemukan budaya, pendidikan, dan isu lingkungan. Musik tradisional menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali kekayaan budaya Nusantara di tengah kehidupan kampus yang terus berkembang.

Tema Eco Green Campus juga diterjemahkan melalui pesan yang dibawa kontingen. Kepedulian terhadap Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui simbol-simbol kebangsaan, tetapi juga melalui tindakan menjaga lingkungan, mengurangi polusi, melestarikan budaya lokal, dan membangun kesadaran ekologis di kalangan generasi muda.

Daun yang menjadi elemen utama penampilan merepresentasikan kehidupan dan keberlanjutan. Budaya menjadi identitas yang perlu dirawat, sementara pendidikan ditempatkan sebagai instrumen penting untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap masa depan lingkungan.

Pesan itu kemudian diperkuat melalui yel-yel yang menggema di arena defile.

“FITK! SIAP!”

“Kampus Hijau!”

“YES, WE CARE!”

Semangat peserta semakin menguat melalui seruan, “Hijau Kampusnya, Bersih Lingkungannya, Semangat Orangnya, FITK Luar Biasa!”

Seruan tersebut menjadi gambaran semangat FITK untuk membangun lingkungan kampus yang tidak hanya hijau secara fisik, tetapi juga memiliki sivitas akademika yang peduli, aktif, dan bertanggung jawab terhadap keberlanjutan lingkungan.

Penampilan kontingen kemudian ditutup dengan slogan kebanggaan FITK, “FITK UIN Malang – We Serve Your Academic Journey.”

Keikutsertaan FITK dalam Kick Off Dies Maulidiyah ke-65 dan Lustrum ke-13 akhirnya tidak berhenti pada kemeriahan defile. Di balik busana adat, anyaman daun, musik tradisional, dan yel-yel yang menggema, FITK membawa pesan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam mempertemukan kecintaan terhadap budaya dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Dari budaya Sulawesi Selatan, FITK memperkenalkan kekayaan Nusantara. Dari daun dan anyaman, FITK menyampaikan pesan keberlanjutan. Dari pendidikan, FITK meneguhkan komitmen untuk membentuk generasi yang berbudaya sekaligus peduli terhadap masa depan bumi.

Melalui semangat “Eco Green Campus”, FITK menunjukkan bahwa kampus hijau bukan sekadar lingkungan yang asri dan bebas polusi, tetapi juga gerakan bersama untuk merawat alam, melestarikan budaya, dan membangun peradaban yang lebih berkelanjutan.

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.