MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mampu menjawab berbagai persoalan, tetapi kemampuannya tidak serta-merta menjadikannya pengganti pendidik. Persoalan etika, pembentukan karakter, dan keberlanjutan tradisi pendidikan pesantren menjadi pokok pembahasan seminar ilmiah dan pengabdian masyarakat yang digelar Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (17/10/2026).
Mengusung tema “Artificial Intelligence Bisa Menjawab, Bisakah Ia Mendidik?”, kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Oesman Mansoer lantai 3 tersebut mempertemukan perspektif filsafat teknologi, Liberal Arts, dan pendidikan pesantren untuk membahas arah pendidikan di tengah perkembangan AI.
Ketua Prodi MPI, Ulfah Muhayani, M.PP., Ph.D., yang membuka kegiatan mewakili pimpinan fakultas, menekankan perlunya reposisi peran pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam. Di tengah kemudahan akses informasi melalui AI, pendidik tidak cukup hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan. Mereka tetap memiliki tanggung jawab mendampingi peserta didik, menanamkan nilai moral, dan membentuk karakter.
Pandangan serupa disampaikan perwakilan Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Filsafat UGM. Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menempatkan pendekatan Liberal Arts dan nilai-nilai keagamaan pesantren sebagai landasan untuk menghadapi disrupsi teknologi. AI dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar kritis, pertimbangan etis, dan peran manusia dalam proses pendidikan.

Tiga akademisi Fakultas Filsafat UGM mengulas persoalan tersebut dari perspektif berbeda. Dr. Moch. Najib Yuliantoro, S.Fil., M.Phil. membahas filsafat teknologi dan batasan etis penggunaan AI di ruang kelas. Dr. Phil Yulianingsih Riswan, S.Fil., M.A. mengangkat pendekatan Liberal Arts serta urgensi pendidikan karakter di tengah otomatisasi. Sementara itu, Dr. Samsul Ma’arif M., S.Fil., M.A. membahas masa depan pendidikan pesantren dan pentingnya mempertahankan nilai keislaman serta tradisi intelektual lokal.
Melalui forum ini, Prodi MPI UIN Malang mendorong pengembangan tata kelola pendidikan Islam yang adaptif terhadap kemajuan teknologi pendidikan, tanpa melepaskan landasan humanis dan spiritual. Pembahasan tersebut juga diarahkan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum serta kepemimpinan lembaga pendidikan pesantren di tengah perubahan teknologi.
Sumber: ftik.uin-malang.ac.id



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.