Langsung ke konten
Senin, 19 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

AI Bisa Menjawab, tetapi Tak Bisa Menggantikan Pendidik: MPI UIN Malang dan UGM Bedah Masa Depan Pesantren

Seminar ilmiah dan pengabdian masyarakat yang digelar Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM)

Dokumentasi bersama peserta seminar ilmiah dan pengabdian masyarakat

Dokumentasi bersama peserta seminar ilmiah dan pengabdian masyarakat

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) semakin mampu menjawab berbagai persoalan, tetapi kemampuannya tidak serta-merta menjadikannya pengganti pendidik. Persoalan etika, pembentukan karakter, dan keberlanjutan tradisi pendidikan pesantren menjadi pokok pembahasan seminar ilmiah dan pengabdian masyarakat yang digelar Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bersama Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (17/10/2026).

Mengusung tema “Artificial Intelligence Bisa Menjawab, Bisakah Ia Mendidik?”, kegiatan yang berlangsung di Aula Gedung Oesman Mansoer lantai 3 tersebut mempertemukan perspektif filsafat teknologi, Liberal Arts, dan pendidikan pesantren untuk membahas arah pendidikan di tengah perkembangan AI.

Ketua Prodi MPI, Ulfah Muhayani, M.PP., Ph.D., yang membuka kegiatan mewakili pimpinan fakultas, menekankan perlunya reposisi peran pendidik dan pengelola lembaga pendidikan Islam. Di tengah kemudahan akses informasi melalui AI, pendidik tidak cukup hanya berperan sebagai penyampai pengetahuan. Mereka tetap memiliki tanggung jawab mendampingi peserta didik, menanamkan nilai moral, dan membentuk karakter.

Baca juga: Kolaborasi Unggul Universitas Negeri Malang dan MTs Almaarif 01 Singosari: Mengakselerasi Kompetensi Guru melalui PTK Berbasis Artificial Intelligence

Iklan

Baca juga: Akselerasi Transformasi Ekonomi Hijau: FEB Universitas Negeri Malang Perluas Jejaring Global Lewat BESS 2026

Pandangan serupa disampaikan perwakilan Tim Pengabdian Masyarakat Fakultas Filsafat UGM. Kolaborasi lintas perguruan tinggi ini menempatkan pendekatan Liberal Arts dan nilai-nilai keagamaan pesantren sebagai landasan untuk menghadapi disrupsi teknologi. AI dipandang sebagai alat bantu, bukan pengganti nalar kritis, pertimbangan etis, dan peran manusia dalam proses pendidikan.

Pemaparan materi
Pemaparan materi

Tiga akademisi Fakultas Filsafat UGM mengulas persoalan tersebut dari perspektif berbeda. Dr. Moch. Najib Yuliantoro, S.Fil., M.Phil. membahas filsafat teknologi dan batasan etis penggunaan AI di ruang kelas. Dr. Phil Yulianingsih Riswan, S.Fil., M.A. mengangkat pendekatan Liberal Arts serta urgensi pendidikan karakter di tengah otomatisasi. Sementara itu, Dr. Samsul Ma’arif M., S.Fil., M.A. membahas masa depan pendidikan pesantren dan pentingnya mempertahankan nilai keislaman serta tradisi intelektual lokal.

Melalui forum ini, Prodi MPI UIN Malang mendorong pengembangan tata kelola pendidikan Islam yang adaptif terhadap kemajuan teknologi pendidikan, tanpa melepaskan landasan humanis dan spiritual. Pembahasan tersebut juga diarahkan untuk menjadi bahan pertimbangan dalam pengembangan kurikulum serta kepemimpinan lembaga pendidikan pesantren di tengah perubahan teknologi.

Sumber: ftik.uin-malang.ac.id

Foto profil M. Kholilur Rohman
M. Kholilur Rohman

Pegiat literasi yang berasal dari Kota Sumenep dan Founder Komunitas Maliki Book Party

Lihat semua artikel oleh M. Kholilur Rohman

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.