KAIRO | JATIMSATUNEWS.COM: Perempuan memiliki peran strategis dalam mencegah radikalisme di kalangan generasi muda, terutama melalui penguatan literasi digital, komunikasi dialogis, dan ketahanan komunitas.
Peran tersebut makin penting di tengah perkembangan teknologi digital yang membuka peluang penyebaran informasi sekaligus narasi ekstrem.
Hal itu disampaikan Dekan Fakultas Syariah UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Prof. Dr. Umi Sumbulah, M.Ag., dalam Interactive Seminar yang diselenggarakan PCI Fatayat NU Mesir bersama HIMMAH RAM.
Seminar interaktif ini mengangkat tema “Women’s Agency in Mitigating Radicalism Among Young People in the Era of Digital Disruption” dan berlangsung Jumat (16/10/2026), di Aula KMJ, Hay Asyir, Kairo, Mesir.
Baca juga: Pesan Prof Umi Sumbulah kepada Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri
Sorotan
Seminar Interaktif Kairo 2026
Prof Umi Sumbulah: Peran Perempuan dalam Literasi Digital

Kegiatan tersebut diikuti anggota Fatayat NU Mesir dan mahasiswa Indonesia.
Di antara mereka adalah mahasiswa program sarjana, magister, dan doktoral dari sejumlah perguruan tinggi, termasuk Universitas Al-Azhar dan Canal Suez University.
Seminar ini menghadirkan akademisi perempuan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia untuk membahas kontribusi strategis perempuan dalam mencegah radikalisme di era disrupsi digital.
Salah satu narasumber yang hadir adalah Prof. Dr. Hj. Umi Sumbulah, M.Ag., Dekan Fakultas Syariah UIN Malang.
Ia memaparkan pentingnya peran perempuan dalam memperkuat literasi digital dan membangun ketahanan generasi muda terhadap paham radikal.
Dalam pemaparannya, Umi menjelaskan bahwa ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.
Media sosial, video pendek, gim, forum daring, dan berbagai kanal percakapan dapat menjadi sarana pertukaran pengetahuan.
Namun, ruang yang sama juga berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi kebencian, paham ekstrem, dan glorifikasi kekerasan.
Radikalisasi di Era Digital
Menurut Umi, radikalisasi merupakan persoalan kompleks yang dapat berkaitan dengan pencarian identitas, perasaan ketidakadilan, isolasi sosial, dan dinamika kelompok.
Meski demikian, paparan terhadap konten ekstrem tidak serta-merta membuat seseorang mengalami radikalisasi.
Karena itu, pencegahan tidak cukup dilakukan melalui penghapusan konten atau pendekatan keamanan semata.
Penguatan kemampuan berpikir kritis, dukungan sosial, dan keterlibatan generasi muda dalam komunitas yang positif juga menjadi bagian penting dari upaya membangun ketahanan terhadap pengaruh ekstremisme.
Baca juga: UIN Malang Hadiri Rakernas Forum Dekan FSH PTKIN se-Indonesia 2026, Perkuat Silaturahmi dan Sinergi
Perempuan Agen Perubahan
Umi menekankan bahwa perempuan bukan sekadar pihak yang perlu dilindungi, melainkan juga agen perubahan.
Menurutnya, perempuan memiliki kapasitas untuk mengambil keputusan, membangun strategi, dan mendorong transformasi sosial.
Peran tersebut dapat dijalankan melalui empat ruang strategis, yakni keluarga, pendidikan, komunitas, dan ruang digital.
Dalam keluarga, perempuan dapat membangun komunikasi terbuka dengan generasi muda, mendampingi aktivitas digital, serta membiasakan verifikasi informasi sebelum membagikannya.
Di lingkungan pendidikan, perempuan dapat berperan sebagai mentor dan fasilitator diskusi yang mendorong pemikiran kritis.
Sementara itu, di tingkat komunitas, perempuan dapat memperkuat dukungan sebaya, membangun ruang aman, dan mengembangkan kegiatan kolaboratif yang inklusif.
Adapun di ruang digital, perempuan dapat memproduksi dan menyebarkan konten yang kredibel, empatik, kreatif, serta mudah dipahami untuk merespons narasi kebencian dan glorifikasi kekerasan.
Utamakan Dialog, Bukan Stigma
Umi juga menyoroti pentingnya pendekatan dialogis dalam menghadapi potensi radikalisasi di kalangan generasi muda.
Sikap menghakimi, mempermalukan seseorang di ruang publik, atau memberikan label secara terburu-buru justru berisiko menutup ruang komunikasi dan memperburuk hubungan sosial.
Sebaliknya, pendekatan yang mengedepankan empati, kesediaan mendengarkan, dan pengujian informasi secara kritis dapat membuka ruang refleksi.
Tujuannya bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan membangun kepercayaan dan memperkuat hubungan sosial yang dapat menjadi pelindung bagi generasi muda.
Literasi digital juga menjadi salah satu langkah penting yang perlu dibiasakan.
Generasi muda perlu memiliki kemampuan memeriksa sumber, tanggal, konteks, dan bukti suatu informasi sebelum membagikannya.
Jika menemukan konten berbahaya atau situasi yang membutuhkan penanganan lebih lanjut, mereka perlu mengetahui mekanisme pelaporan yang tepat serta mencari dukungan dari pihak tepercaya.
Pencegahan Butuh Kolaborasi

Lebih lanjut, Umi menegaskan bahwa upaya mencegah radikalisme tidak dapat dibebankan kepada perempuan semata.
Keluarga, lembaga pendidikan, organisasi perempuan, tokoh agama, komunitas, pemerintah, dan platform digital perlu membangun kolaborasi untuk memperkuat ketahanan generasi muda.
Kolaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui pelatihan literasi digital, pendampingan, pengembangan ruang partisipasi positif, serta penyediaan mekanisme rujukan kepada konselor atau tenaga profesional apabila diperlukan.
Upaya pencegahan juga perlu memperhatikan perlindungan privasi, keamanan data, dan prinsip nondiskriminasi.
Pencegahan harus berfokus pada upaya menghindari kekerasan dan tindakan ekstrem, bukan pada pelabelan seseorang berdasarkan identitas atau latar belakang kelompok tertentu.
Undang Lima Narasumber

Seminar interaktif dari PCI Fatayat NU Mesir dan Himmah RAM ini menghadirkan lima narasumber.
Mereka adalah Prof. Wahidah dari UIN Banjarmasin, Prof. Umi Sumbulah dari UIN Malang, Prof. Mufliha dari UIN Wijayati dari UIN Jurai Siwo Lampung.
Lalu, Prof. Wardah Nuroniyah dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, dan Prof. Andi Sukmawati Assaad dari UIN Palopo Sulawesi Selatan.
Penyampaian materi dari kelima narasumber tersebut mendapat panduan dari moderator, Arifatun Nisa Birizqil Adhim yang juga merupakan Ketua PCI Fatayat NU Mesir.
Setelah pemaparan materi, kegiatan dilanjut dengan dialog interaktif antara peserta dengan narasumber.
Sejumlah peserta, termasuk mahasiswa Al-Azhar dan anggota Muslimat NU Mesir, antusias menanggapi materi dari para narasumber.
Mereka mengajukan pertanyaan dan mendiskusikan materi yang disampaikan narasumber, termasuk dari Umi.
Pada penutup materinya, Prof. Umi Sumbulah menyampaikan bahwa antusiasme peserta yang luar biasa menunjukkan kepedulian perempuan dan generasi muda.
Menurutnya, isu pencegahan radikalisme di era digital telah mendapat perhatian serius, khususnya di kalangan perempuan dan generasi muda.
“Antusiasme tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat literasi digital, membangun komunikasi yang dialogis, serta menumbuhkan ketahanan keluarga dan komunitas dalam menghadapi penyebaran paham radikal di ruang digital,” ujarnya.
Seminar ini menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan merupakan bagian penting dari upaya kolektif membangun ketahanan sosial di era digital.
Melalui literasi digital, komunikasi yang terbuka, dan penguatan komunitas inklusif, perempuan dapat berkontribusi nyata dalam menumbuhkan budaya perdamaian sekaligus melindungi generasi muda dari pengaruh ekstremisme.(MFT)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.