
MALANG | JATIMSATUNEWS.COM : Kehadiran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin memudahkan mahasiswa mencari informasi, mengembangkan ide, dan menyelesaikan berbagai persoalan akademik. Kemudahan ini membuka banyak peluang dalam pembelajaran, tetapi sekaligus memunculkan pertanyaan penting: apakah mahasiswa tetap menggunakan nalarnya untuk memahami, memeriksa, dan menilai informasi yang dihasilkan AI?
Pertanyaan tersebut melatarbelakangi pengembangan Instrumen Digital Critical Thinking Berbasis Web pada Pembelajaran Berbasis AI oleh tim peneliti Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang (UM). Penelitian yang diketuai oleh Nur Amin Barokah Asfari, S.Psi., M.A. ini dilaksanakan melalui skema desentralisasi Fakultas Psikologi dengan dukungan dana internal Universitas Negeri Malang tahun 2026. Pengembangan instrumen menggunakan pendekatan Evidence-Centered Design (ECD) untuk memastikan bahwa kemampuan yang hendak diukur, bukti performa yang diharapkan dari peserta, dan tugas yang diberikan dalam asesmen saling berkaitan secara sistematis.
Instrumen tidak dikembangkan sebagai skala yang hanya meminta mahasiswa menilai apakah dirinya merasa kritis atau tidak. Peserta dihadapkan pada berbagai informasi dan situasi yang menuntut mereka memahami persoalan, menganalisis informasi, menilai bukti, menarik kesimpulan, serta menentukan respons berdasarkan penalaran yang dapat dipertanggungjawabkan.
“AI seharusnya membantu proses berpikir, bukan menggantikan proses berpikir. Mahasiswa tetap perlu menggunakan nalar untuk memeriksa informasi, mempertimbangkan bukti, dan menentukan apakah jawaban yang diterima memang masuk akal. Kemampuan inilah yang ingin kami ukur secara lebih nyata melalui instrumen yang sedang dikembangkan,” ujar Nur Amin.
Tahap pengembangan awal menghasilkan 64 butir tes keterampilan berpikir kritis yang disusun berdasarkan domain dan indikator kemampuan yang telah dirumuskan sebelumnya. Setiap soal menghadirkan empat alternatif respons yang dirancang untuk merepresentasikan perbedaan kualitas penalaran peserta.
Proses pengembangan tidak berhenti pada penyusunan soal. Item yang telah dibuat menjalani serangkaian evaluasi untuk memastikan isi dan tuntutan penalarannya sesuai dengan konstruk yang hendak diukur. Tahapan tersebut mencakup penilaian oleh ahli, evaluasi terhadap proses peserta memahami dan menjawab soal, hingga uji coba terbatas.
Mahasiswa mengikuti uji coba terbatas Instrumen Keterampilan Berpikir Kritis di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang, Jumat, 6 November 2026.
Salah satu tahap uji coba terbatas dilaksanakan pada 6 November 2026 di Fakultas Psikologi Universitas Negeri Malang dengan melibatkan 39 mahasiswa program sarjana. Peserta mengerjakan instrumen dan selanjutnya memberikan masukan terhadap kejelasan stimulus, pertanyaan, pilihan jawaban, serta kesulitan yang mereka alami selama mengerjakan tes.
Masukan tersebut menjadi bagian penting dalam penyempurnaan instrumen. Pengembangan asesmen keterampilan berpikir kritis tidak cukup hanya melihat apakah peserta memilih jawaban tertentu. Pengembang juga perlu memastikan bahwa peserta memahami tugas sebagaimana yang dimaksud dan menggunakan proses penalaran yang sesuai ketika memberikan respons.
Pengembangan selanjutnya diarahkan pada implementasi instrumen dalam format digital berbasis web. Platform Belajar Bernalar melalui belajarbernalar.com disiapkan sebagai ruang pengembangan dan pelaksanaan asesmen keterampilan berpikir kritis secara digital.
Tampilan platform Belajar Bernalar yang disiapkan untuk implementasi digital Instrumen Keterampilan Berpikir Kritis berbasis web.
Laman tersebut menjadi bagian dari upaya membawa asesmen keterampilan berpikir kritis lebih dekat dengan lingkungan belajar mahasiswa yang semakin digital. Pemanfaatan teknologi bukan dimaksudkan untuk menggantikan aktivitas bernalar, tetapi justru menyediakan ruang agar kemampuan tersebut dapat dilatih dan diukur secara lebih terstruktur.
Menurut Nur Amin, tantangan pendidikan pada era AI bukan lagi sekadar memastikan mahasiswa mampu menemukan informasi. Kemampuan mempertanyakan informasi, membandingkan bukti, mengenali keterbatasan suatu jawaban, dan mengambil kesimpulan secara hati-hati menjadi semakin penting ketika teknologi mampu menghasilkan respons dalam hitungan detik.
“Kemudahan mendapatkan jawaban tidak selalu berarti seseorang memahami bagaimana jawaban itu diperoleh. Mahasiswa perlu tetap bertanya: apa buktinya, apakah informasinya cukup, adakah penjelasan lain, dan seberapa jauh kesimpulan ini dapat dipercaya. AI dapat menjadi mitra berpikir yang sangat kuat apabila manusia tetap memegang kendali atas proses penalarannya,” jelasnya.
Rangkaian pengembangan masih akan dilanjutkan melalui penyempurnaan item, pengujian psikometrik, dan pengembangan sistem asesmen berbasis web. Hasil dari proses tersebut diharapkan dapat menghasilkan instrumen yang tidak hanya praktis digunakan secara digital, tetapi juga mampu memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai keterampilan berpikir kritis mahasiswa dalam lingkungan pembelajaran yang semakin terintegrasi dengan AI.


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.