MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Surindi, M.Si., Widyaiswara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Papua, meraih gelar Doktor Pendidikan Agama Islam dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dengan predikat Amat Baik.
Ia menjadi doktor ke-167 Pascasarjana UMM setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam ujian promosi doktor yang berlangsung pada Kamis (15/10/2026).
Ujian promosi doktor tersebut digelar di Aula Lantai 1, Gedung Kuliah Bersama (GKB) IV Pascasarjana UMM.
Baca juga: 10 Dosen Fakultas Syariah UIN Malang Sukses Raih Gelar Doktor Tahun Ini
Sorotan
Surindi Raih Doktor Bidang PAI di UMM
Pembelajaran Al-Islam Berbasis Google Sites
Dalam ujian itu, Surindi mempresentasikan disertasi berjudul “Pengembangan Media Pembelajaran Al-Islam Berbasis Google Sites sebagai Sarana Literasi Digital di SMA Muhammadiyah Jayapura”.
Penelitian tersebut berfokus pada pengembangan media pembelajaran digital yang adaptif terhadap kondisi sekolah dan kebutuhan peserta didik, sekaligus mengintegrasikan literasi digital dengan nilai-nilai keislaman.
Surindi mengangkat persoalan kesenjangan infrastruktur dan literasi digital dalam pembelajaran Al-Islam di SMA Muhammadiyah Jayapura.
Menurutnya, pengembangan teknologi pembelajaran perlu mempertimbangkan ketersediaan sarana, karakteristik peserta didik, sertai kemampuan guru agar digitalisasi tidak justru memperlebar kesenjangan akses pendidikan.
“Pembelajaran Al-Islam harus bergerak mengikuti zaman tanpa kehilangan nilainya,” ungkap Surindi.

Penelitian tersebut mengkaji dasar pemilihan Google Sites sebagai media pembelajaran Al-Islam, kelayakan media berdasarkan penilaian pakar media dan pakar substansi, serta implementasinya dalam mendukung pengembangan literasi digital peserta didik.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan Google Sites, bukan sekadar sebagai tempat penyimpanan materi, melainkan sebagai lingkungan pembelajaran digital yang dirancang secara pedagogis.
Media tersebut mengintegrasikan konten Al-Islam, strategi dan aktivitas pembelajaran, sumber serta teknologi digital, dan penggunaan teknologi secara bertanggung jawab.
Relevansi TPACK dalam Pembelajaran Al-Islam
Secara teoretis, penelitian ini memperkuat relevansi kerangka Technological Pedagogical Content Knowledge (TPACK) dalam pembelajaran Al-Islam.
Kerangka tersebut menekankan keterpaduan antara penguasaan materi, pendekatan pedagogis, dan pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran.
Penelitian ini juga memandang literasi digital sebagai kemampuan multidimensi yang mencakup aspek teknis, kognitif, sosial-kolaboratif, etis, afektif, dan metakognitif.
Dalam konteks pendidikan Islam, literasi digital diarahkan pada kemampuan menggunakan teknologi dan informasi secara kritis, produktif, aman, serta bertanggung jawab berdasarkan nilai-nilai keislaman.
Temuan Penelitian
Berdasarkan temuan penelitian, Surindi merekomendasikan agar guru memperbarui konten pembelajaran dan mengembangkan aktivitas yang mendorong kemandirian peserta didik.
Sekolah juga dapat mereplikasi pendekatan tersebut pada mata pelajaran ISMUBA (Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab) lainnya, dengan dukungan jaringan internet, penyediaan materi pembelajaran luring, serta pendampingan bagi guru.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi salah satu rujukan bagi Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Muhammadiyah dalam merumuskan dan mengembangkan kebijakan digitalisasi pembelajaran Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab (ISMUBA) yang adaptif, inovatif, dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan di era digital.
Surindi menegaskan, keberhasilan digitalisasi pembelajaran tidak hanya bergantung pada platform teknologi yang digunakan.
Tetapi juga pada kesesuaiannya dengan karakteristik peserta didik, kondisi sekolah, dan orientasi nilai keislaman.
Karena itu, pengembangan media digital perlu diiringi penguatan kapasitas guru dan pendampingan berkelanjutan agar teknologi dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Saya sumbangkan ini untuk mereka sebagai wujud jihad kami di Muhammadiyah,” ujar Surindi.
Ia menegaskan bahwa pengembangan media pembelajaran tersebut merupakan bagian dari kontribusinya bagi Muhammadiyah dan dunia pendidikan di Papua.

Tanggapan Penguji dan Kehadiran Akademisi UIN Malang
Dalam ujian promosi tersebut, Prof. Fachruddin Fanani, M.A., Ph.D., selaku penguji eksternal dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, menilai hasil disertasi Surindi memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut dan dimanfaatkan secara lebih luas di masyarakat Papua.
Ujian promosi doktor itu turut dihadiri sejumlah tokoh pendidikan Muhammadiyah, Balai Diklat Keagamaan (BDK) Surabaya, mahasiswa program doktor Pascasarjana UMM angkatan 2023 serta akademisi dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang.
Selama ujian berlangsung, Surindi menjawab berbagai pertanyaan, kritik, dan tanggapan dari tim penguji secara argumentatif.
Tim penguji terdiri atas Prof. Fachruddin Fanani, M.A., Ph.D., sebagai penguji eksternal; Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si., sebagai promotor.
Prof. Dr. Khozin, M.Si., sebagai ketua/penguji; Prof. Dr. Abdul Haris, M.A., sebagai sekretaris/penguji; Assoc. Prof. Dr. Faridi, M.Si., sebagai ko-promotor I; serta Assoc. Prof. Dr. Romelah, M.Ag., sebagai ko-promotor II.
Terima Kasih kepada Orang-Orang Terkasih
Di akhir presentasinya, Surindi menyampaikan terima kasih dan persembahan khusus kepada orang-orang terkasih yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan akademiknya.
“Gelar doktor ini saya persembahkan untuk kedua orang tua saya, istri saya Desvita, M.Pd., dan anak-anakku tercinta. Terima kasih telah menjadi rumah bagi lelah saya, kekuatan dalam perjuangan saya, dan alasan bagi saya untuk tidak menyerah,” ungkapnya.
Pencapaian ini diharapkan dapat mendorong pengembangan inovasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam yang mengintegrasikan teknologi digital dan nilai-nilai keislaman, khususnya di lingkungan pendidikan Muhammadiyah di Papua.(MFT)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.