Langsung ke konten
Minggu, 11 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Kolom

Penetapan Hari Jadi Jawa Timur 12 Oktober 1945 Dinilai “Unik dan Menarik”

Catatan HM Yousri Nur Raja Agam *)

HM Yousri Nur Raja Agam

HM Yousri Nur Raja Agam (Foto: Istimewa)

KOLOM | JATIMSATUNEWS.COM: Penetapan tanggal 12 Oktober 1945, sebagai Hari Jadi Jawa Timur (HJJT), memang “aneh, unik dan menarik”.

Masyarakat pembaca, pengamat, peneliti dan pemerhati sejarah, hingga sekarang masih saja mempergunjingkan penetapan HJJT itu.

Baca juga: Mengintegrasikan Ilmu dan Aksi: Mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur Dorong Industri Plastik Berkelanjutan dan Implementasi SDGs melalui Magang MBKM

Baca juga: Inovasi AI-Driven Economics Learning UM Dorong Transformasi Pembelajaran Ekonomi di Jawa Timur

Selama tiga tahun, sejak 15 Oktober 2004 sampai 7 Mei 2007, Tim sejarah dan Peneliti Penentuan HJJT (Hari Jadi Jawa Timur) bekerja. Tim ini terdiri dari Pakar Sejarah dari Perguruan Tinggi, Pejabat Ahli dari Pemprov dan Komisi A DPRD Jawa Timur.

Tim yang diketuai Nunuk Supri Rahayu ini melakukan kaji pustaka. Menelusuri ksitan sejarah di perpustakaan daerah, kampus perguruan tinggi, dan koleksi pribadi dari dosen sejarah.

Penelusuran sejsk 15 Oktober 2004 itu juga mencari bahan dari Perpustakaan Nasional di Jakarta. Bahkan sebanyak 15 orang anggota Tim yang dikomandani Ketua Komisi A DPRD Jatim (waktu itu) H.Sabron Djamil Pasaribu, berangkat ke Negeri Belanda. Maksudnya mencari data pasti tentang sejarah terbentuknya Provinsi Jawa Timur.

Mereka ini terkesan “ngelencer” dari Kunker (Kunjungan Kerja) ke luar negeri itu. Sebab tidak ada fakta sejarah di sana. Justru, yang akhirnya dipakai adalah bukti sejarah yang ada perpusnas dan yang ada di Jawa Timur.

Kendati sudah memakan waktu mulai 15 Oktober 2004 sampai 7 Mei 2007. tim sepakat HJJT (Hari Jadi Jawa Jawa Timur),
adalah: 19 Agustus 1945. Yakni pilihan ke empat dari hasil yang pas dari kesimpulan Tim HJJT.

Memang dalam sebuah kajian sebelum menetapkan tanggal 12 Oktober 1945 itu, ada empat tanggal alternatif yang bakal dijadikan sebagai HJJT.
Pertama, tanggal 28 Desember 1255, yakni masa kejayaan Kerajaan Singasari yang konon wilayahnya mencakup wilayah Jawa Timur sekarang ini.
Kedua, tanggal 14 Agustus 1636, di masa Kerajaan Mataram memperkenalkan istilah “Bang Wetan” yang ditafsirkan sebagai sebutan untuk Jawa Timur.
Ketiga, tanggal 5 Januari 1929, di zaman Hindia Belanda, saat ditingkatkannya status Oost Java (Jawa Timur) dari Gewest menjadi Provincie.
Keempat, tanggal 19 Agustus 1945, sebagai tanggal ditetapkannya delapan provinsi di Indonesia setelah Indonesia merdeka – salah satu di antaranya Provinsi Jawa Timur – sebagai kepanjangantangan Pemerintah Pusat di daerah.

Iklan

Ke delapan provinsi itu adalah: Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera, Borneo, Sulawesi, Maluku, dan Sunda Kecil.
Kemudian diangkat para gubernur untuk mengepalai provinsi-provinsi yang dibentuk itu, yaitu Mr. R. Sutarjo Kartohadikusumo sebagai Gubernur Jawa Barat, R.P. Suroso sebagai Gubernur Jawa Tengah, R.M.T.A. Suryo sebagai Gubernur Jawa Timur, Mr. Teuku Moh. Hasan sebagai Gubernur Sumatera, Pangeran Mohammad Nur sebagai Gubernur Borneo, Dr. G.S.S.J. Ratulangi sebagai Gubernur Sulawesi, Mr. J. Latuharhary sebagai Gubernur Maluku, dan Mr. I. Gusti Ketut Puja sebagai Gubernur Sunda Kecil (sekarang Bali,NTB dan NTT).

Ingin Beda

Dari empat alternatif itu, yang memang tanggal 19 Agustus 1945 yang tepat. Sesuai dengan semangat Proklamasi dan Hari Pahlawan.
Apabila berdasar pembentukan provinsi oleh Pemerintah Hindia Belanda, itu dianggap “berbau kolonialisme”.

Nah, karena ada suara yang menyatakan: “HJJT harus beda”. Jangan sama dengan provinsi lain. Nah, kesepatan Tim HJJT “mentah lagi”.

Di samping tidak ingin bersamaan dengan provinsi lain, juga “terlalu dekat dengah HUT Proklamasi 17 Agustus. Nanti gaung dan kemeriahan HJJT “bisa tenggelam” oleh perayaan peringatan 17 Agustus.
Maka disepakati mencari tanggal lain, selain empat alternatif yang dihasilkan TIm HJJT yang diketuai Nunuk Supri Rahayu itu.

Kalau kita betul-betul menetapkan berdasarkan sejarah, maka keberadaan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, sudah ada sejak zaman Kolonial Belanda. Bahkan, kalau diruntut lagi, jauh sebelum Belanda membentuk pemerintahan di Jawa Timur, di zaman kerajaan masa lalu, sudah ada wilayah pemerintahan yang sama dengan Jawa Timur ini. Misalnya, disebut Bang Wetan di zaman Kerajaan Mataram dan Singasari.

Residen Bojonegoro

Namun, kemudian ada celah yang “benar-benar beda”.

Begini ceritanya: ternyata, RMTA Suryo yang sudah ditetapkan menjadi Gubernur Jawa Timur, tidak segera berkantor di Surabaya. Gubernur Suryo, justru bertahan dengan jabatannya sebagai Residen di Bojonegoro. Padahal, situasi semakin genting. Akibat kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II, pasukan Sekutu segera mengambilalih kekuasaan di Surabaya. Secara de jure, Pemerintahan Provinsi Jawa Timur, gubernurnya sudah ditetapkan RMTA Suryo. Tetapi, secara de facto, segala sesuatu “terpaksa” ditangani oleh Residen Surabaya, R.Sudirman.

Kendati sudah berulangkali utusan dari Surabaya datang menjemput ke Bojonegoro, Pak Suryo tetap saja belum bersedia. Akhirnya, beberapa tokoh pejuang usai Rapat Raksasa di Lapangan Tambaksari, Surabaya, 21 September 1945, sepakat menjemput Gubernur Suryo ke Bojonegro. Akhirnya RMTA Suryo bersedia pindah ke Surabaya.

Iklan

Tanggal 10 Oktober 1945, Pak Suryo dengan dikawal pemuda pejuang Arek-arek Suroboyo, boyongan ke Kota Surabaya. Setelah bertemu dengan Residen Sudirman dan beberapa tokoh di Surabaya, maka pada tanggal 12 Oktober 1945, Pak Suryo memasuki Kantor Gubernur Jawa Timur.

Hari itu, tanggal 12 Oktober 1945, merupakan “hari pertama” Pak Suryo memulai pekerjaannya sebagai Gubernur Jawa Timur.
Nah, apakah tidak unik, lucu dan menarik? Hari pertama Pak Suryo bersedia menjalankan tugasnya sebagai Gubernur Jawa Timur dan berkantor di Alun-alun Straat atau Jalan Pahlawan 110 Surabaya sekarang, itulah yang ditetapkan sebagai HJJT (Hari Jadi Jawa Timur).

Gubernur Zaman Belanda

Tetapi ada yang juga unik dan membingungkan. Walaupun dinyatakan HJJT tanggal 12 Oktober 1945, foto-foto Gubernur Jawa Timur (Oost Java) zaman Belanda, sejak tahun 1929 sampai 1942, tetap dipajang. Di gantung di dinding gedung Kantor Gubernur Jatim Jalan Pahlawan 110 Surabaya dan Gedung Negara Grahadi, Jalan Gubernur Suryo 7 Surabaya.

Nama dan foto Governor Oot Java itu adalah: M.Ch.Handerman (1929-1931), Ch.De Han (1931-1933), J.H.B.Kuneman (1933-1936), Ch.O.vd.Plas (1936-1941) dan Mr.Ch.Hartevelt (1941-1942).
Di bawah foto-foto Governor Oost Java itu, baru dipasang foto-foto Gubernur Jawa Timur, mulai:
RT Soerjo (1945-1948), Dr,Moerdjani (1948-1949), R.Samadikoen ((1949-1957), RTA Milano (1957-1959), R.Soewondo Ranuwidjojo (1959-1963), Moch Wijono (1963-1967), RP Mohammad Noer (1967-1971 dan 1971-1976), H.Soenandar Prijosoedarmo (1976-1981 dan 1981-1983), H.Wahono (1983-1988), H.Soelarso (1988-1993), HM Basofi Soedirman (1993-1998), H.Imam Utomo (1998-2003 dan 2003-2008). Setia Purwaka (Pj Gubernur, Agustus 2008 – Februari 2009), H.Soekarwo (2009-2014 dan 2014-2019).
Khofifah Indar Parawannsa.(2019-2024), Adhy Karyono (Pj Gubernur, 16 Februari 2024 – 20 Februari 2025), Khofifah Indar Parawansa (2025 — 2030).

Peringatan Hari Jadi Provinsi Jawa Timur tanggal 12 Oktober 1945, secara resmi ditetapkan dengan Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Jawa Timur Nomor 6 Tahun 2007. Tanggal itulah yang diberlakukan hingga sekarang.
Beberapa orang pengamat dan ahli sejarah, hanya tersenyum jika diajak diskusi tentang penetapan HJJT itu.

DIRGAHAYU Jawa Timur, pada HJJT ke-81 tanggal 12 Oktober 1945 – 2026. (Y)

*) Yousri Nur Raja Agam – Wartawan Senior Jatim.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.