MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Kabupaten Malang periode 2026–2031 menegaskan komitmennya untuk menjadikan ilmu pengetahuan, kepakaran, dan riset sebagai kekuatan dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan di Kabupaten Malang.
Komitmen tersebut disampaikan Ketua ICMI Kabupaten Malang, H. Makhrus Sholeh, dalam sambutannya pada pelantikan Pengurus ICMI Kabupaten Malang periode 2026–2031.
Baca juga: Terpilih Aklamasi, H Makhrus Sholeh Pimpin ICMI Malang Gantikan Gus Dur
H. Makhrus Sholeh menyebut sedikitnya terdapat tiga agenda utama yang akan menjadi fokus kepengurusan ICMI Kabupaten Malang. Ketiganya yakni membumikan ilmu pengetahuan melalui riset untuk sektor unggulan daerah, memperkuat sumber daya manusia (SDM) dan literasi teknologi, serta membangun kolaborasi strategis untuk mendorong pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
“Pelantikan adalah menegaskan amanah untuk kita semua yang sudah dilantik untuk bekerja di tengah tantangan, untuk memberikan solusi nyata,” ujar Makhrus.
Menurutnya, ICMI Kabupaten Malang tidak ingin hanya menjadi ruang berkumpulnya para cendekiawan maupun forum diskusi. Organisasi tersebut harus mampu menghadirkan gagasan, kajian, dan solusi yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Karena itu, ICMI Kabupaten Malang akan membangun komunikasi dan koordinasi secara rutin dengan Pemerintah Kabupaten Malang. Rapat koordinasi direncanakan minimal setiap enam bulan.
Hasil kajian dan analisis yang dilakukan ICMI nantinya akan disampaikan kepada Bupati Malang sebagai bahan masukan dalam melihat persoalan sekaligus potensi pembangunan daerah.
“Setiap enam bulan kita sampaikan kepada Pak Bupati nanti hasil dari analisa kita,” katanya.
Cendekiawan Harus Memberi Manfaat
H. Makhrus Sholeh juga mengingatkan kembali sejarah ICMI yang memiliki keterkaitan erat dengan Malang sejak awal berdirinya sekitar 1990.
Ia mengutip pesan Presiden ke-3 RI B.J. Habibie yang disebut pernah menjadi Ketua Umum pertama ICMI.
“Jangan pernah berhenti untuk belajar, karena kehidupan tidak pernah berhenti untuk memberikan pelajaran,” kata Makhrus mengutip pesan B.J. Habibie.
Pesan tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bahwa seorang cendekiawan harus terus belajar, berpikir, melakukan kajian, sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Makhrus juga menekankan pentingnya pesan Bupati Malang mengenai posisi cendekiawan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai kita ini memanfaatkan orang lain. Harusnya memberi manfaat, bukan memanfaatkan orang lain,” tegasnya.
Riset Pertanian hingga Pengembangan Wisata
Agenda pertama ICMI Kabupaten Malang adalah membumikan ilmu pengetahuan dan menghadirkan solusi berbasis riset untuk sektor unggulan daerah.
Makhrus menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di “menara gading” kampus. ICMI harus mampu menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan publik berbasis data dan penelitian.
“ICMI Kabupaten Malang harus hadir sebagai brand trust bagi pemerintah daerah dalam merumuskan kebijakan publik berbasis data dan riset,” ujarnya.
Sektor pertanian menjadi salah satu bidang yang mendapatkan perhatian. ICMI mendorong inovasi pertanian cerdas, peningkatan produktivitas hortikultura dan perkebunan, serta tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.
Hal tersebut dinilai relevan dengan karakter Kabupaten Malang yang memiliki kekuatan pada sektor agraris, desa wisata, dan pariwisata.
Makhrus mencontohkan potensi komoditas durian yang apabila dikembangkan secara serius dapat menjadi sumber penggerak ekonomi masyarakat sekaligus terintegrasi dengan pengembangan wisata.
“Pesan Pak Bupati tadi, ekonomi harus kita gerakkan,” katanya.
Ia mencontohkan program pemberian bibit durian kepada warga di sekitar kebun di wilayah Bululawang. Lahan kosong di sekitar rumah warga diarahkan untuk ditanami durian sehingga dalam jangka panjang diharapkan dapat berkembang menjadi kawasan wisata berbasis komoditas.
“Kita kasih bibit durian sehingga nanti jadi kampung wisata durian,” ujarnya.
ICMI Dorong Anak Mengenali Potensinya Sejak Dini
Agenda kedua ICMI Kabupaten Malang adalah penguatan SDM unggul, ketahanan keluarga, dan literasi teknologi di tengah era disrupsi.
Program tersebut diarahkan mulai jenjang SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. ICMI ingin membantu menemukan potensi masing-masing anak sehingga pendidikan dan pengembangan kemampuan dapat diarahkan sesuai kekuatan yang dimiliki.
“Kita akan mencari, menemukan kekuatan dari anak didik kita, sehingga kita temukan kekuatannya dan kita inspirasi supaya mereka tahu kekuatannya,” jelas Makhrus.
Menurutnya, anak perlu dibantu mengenali kemampuan dan minat sejak dini. Dengan demikian, pilihan pendidikan maupun pekerjaan pada masa depan dapat lebih sesuai dengan potensi masing-masing.
“Sehingga benar-benar bisa kerja sesuai dengan kekuatannya, sesuai passion-nya,” imbuhnya.
Kolaborasi untuk Memperkuat Ekonomi Kerakyatan
Agenda ketiga adalah membangun kolaborasi strategis sekaligus memperkuat pemberdayaan ekonomi kerakyatan.
Makhrus mengatakan, perumusan agenda tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai elemen, mulai rektor, kiai, akademisi, pengusaha hingga para cendekiawan.
“Nanti mohon masukannya para rektor, para kiai, para cendekiawan semuanya. Ini yang akan kita rumuskan,” katanya.
Ia memastikan hasil rapat koordinasi nantinya tidak berhenti sebagai rekomendasi. Setiap gagasan diharapkan ditindaklanjuti melalui aksi nyata dan dikomunikasikan kepada Pemerintah Kabupaten Malang.
“Nanti kita akan segera rakor, setelah itu kita tindaklanjuti dengan aksi nyata. Kita sampaikan ke Pak Bupati,” pungkasnya.
Sanusi: Jangan Sekadar Memberi Bantuan
Sementara itu, Bupati Malang Drs. H. M. Sanusi, M.M. menyampaikan selamat kepada jajaran pengurus ICMI Kabupaten Malang yang baru dilantik.
Sanusi berharap kepengurusan baru dapat menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab dan memberikan manfaat bagi masyarakat, bangsa, serta negara.
Ia mengingatkan prinsip khairunnas anfa’uhum linnas, yakni sebaik-baik manusia adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia lainnya.
Menurut Sanusi, prinsip tersebut harus menjadi landasan ICMI dalam menjalankan perannya di tengah masyarakat.
“Ini arahnya bagaimana kita memberikan manfaat kepada orang lain, bukan memanfaatkan orang lain,” kata Sanusi.
Sanusi juga menyoroti persoalan kemiskinan yang masih menjadi salah satu tantangan pembangunan Kabupaten Malang. Dalam sambutannya, ia menyebut angka kemiskinan berada di kisaran 8,6 persen dengan jumlah penduduk miskin sekitar 236 ribu orang.
Menurutnya, persoalan kemiskinan tidak cukup diselesaikan hanya dengan pemberian bantuan. Masyarakat harus diberi kemampuan dan kesempatan agar dapat meningkatkan kesejahteraannya secara mandiri.
“Tidak hanya memberi bantuan, tetapi bagaimana memberi kail supaya mereka bisa keluar,” ujarnya.
Karena itu, Sanusi mendorong ICMI ikut menggerakkan ekonomi masyarakat dengan memanfaatkan keahlian dan tenaga ahli yang dimiliki para cendekiawan.
ICMI diharapkan dapat berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan untuk menyalurkan pengetahuan, keterampilan, serta tenaga ahli kepada masyarakat.
Pitono: ICMI Harus Menjadi Organisasi yang Berdampak
Ketua ICMI Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur Pitono Nugroho menegaskan pentingnya menerjemahkan nilai anfa’u linnas ke dalam kerja organisasi yang menghasilkan dampak nyata.
Pitono mengatakan, sejak dilantik pada 19 April, dirinya langsung membangun narasi mengenai arah kepengurusan ICMI Jawa Timur. Latar belakangnya yang berkecimpung dalam isu sustainability atau keberlanjutan turut memengaruhi gagasan tersebut.
Menurut Pitono, nilai anfa’u linnas dapat diterjemahkan dalam bahasa global sebagai impact atau dampak.
“Maka kemudian saya bilang, periode ICMI ke depan, mulai tahun ini sampai 2031, kita bisa menyebutnya ICMI yang berdampak,” ujarnya.
Konsep tersebut menegaskan bahwa ICMI tidak boleh hanya berhenti pada pembicaraan maupun diskusi.
“Artinya tidak sekadar omong-omong, tidak sekadar diskusi,” tegasnya.
Ia mengatakan ICMI selama ini dikenal melalui ketokohan para anggotanya dari berbagai latar belakang, seperti profesor, dokter, kiai, akademisi hingga profesional.
Namun, menurut Pitono, kepakaran dan ketokohan tersebut harus diterjemahkan menjadi manfaat yang lebih luas.
“Kalau kemarin ICMI banyak dikenal karena mungkin ketokohannya—profesor, dokter, kiai—itu baik. Tapi kalau dampaknya semakin baik, kan semakin bagus,” katanya.
Dari Menara Gading Menjadi Menara Air
Pitono juga menegaskan tekad menjadikan ICMI sebagai rumah besar intelektual sekaligus rumah besar para cendekiawan.
Menurutnya, kekuatan ICMI justru terletak pada keberagaman latar belakang anggotanya. Di dalamnya terdapat kiai, kepala dinas, rektor, akademisi hingga pengusaha.
Ia menyebut dari lima Orda ICMI yang telah dilantik, dua di antaranya dipimpin pengusaha, yakni ICMI Orda Kabupaten Bojonegoro dan ICMI Orda Kabupaten Malang. Sementara tiga Orda lainnya dipimpin kalangan rektor maupun akademisi.
Keragaman tersebut harus menjadi kekuatan untuk membawa ICMI keluar dari sekadar ruang intelektual.
“Kita ingin ada shifting dari yang tadi sekadar menara gading menjadi menara air,” ujarnya.
Menurut Pitono, metafora menara air menggambarkan pengetahuan yang tidak berhenti di lingkungan akademik, tetapi mengalir dan memberikan manfaat kepada masyarakat.
Karena itu, ICMI Jawa Timur akan menjalankan periode kepengurusan dengan pendekatan yang dimulai dari tujuan akhir.
“Kita akan memulai periode ini dari akhir. Bukan memulai dari awal. Memulai dari akhir,” katanya.
Maksudnya, seluruh program organisasi harus kembali pada purpose atau tujuan utama ICMI, yakni mewujudkan kehidupan masyarakat madani yang diridai Allah SWT melalui peningkatan keimanan dan ketakwaan.
Kata kunci dari tujuan tersebut, lanjut Pitono, adalah masyarakat madani yang maju, adil dan sejahtera. Untuk mewujudkannya, diperlukan jembatan berupa impact.
“Dengan jembatannya adalah impact,” katanya.
Pitono menekankan agar seluruh unsur ICMI memiliki arah gerak yang sama sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri.
“Tidak boleh tarikannya beda. Harus satu tarikan,” tegasnya.
Perkuat Peran ICMI sebagai Think Tank
Salah satu peran yang hendak diperkuat ICMI Jawa Timur adalah menjadi institusi think tank.
Pitono menyebut kepakaran sebagai modal utama organisasi. Karena itu, para cendekiawan harus mampu mengubah kepakaran menjadi kajian, gagasan, rekomendasi, dan solusi yang memberikan dampak bagi masyarakat.
“Yang pertama adalah kita ini, ICMI ini, adalah lembaga institusi think tank. Kenapa? Karena modal kita itu kepakaran,” pungkasnya.
Dengan arah tersebut, ICMI Kabupaten Malang dan ICMI Jawa Timur diharapkan tidak hanya menjadi wadah berkumpulnya para cendekiawan, tetapi juga menjadi kekuatan intelektual yang mampu menerjemahkan ilmu, riset, dan kepakaran menjadi solusi konkret bagi persoalan masyarakat.
Tiga agenda yang disiapkan ICMI Kabupaten Malang—riset sektor unggulan, penguatan SDM dan teknologi, serta kolaborasi ekonomi kerakyatan—menjadi pijakan awal untuk menerjemahkan semangat anfa’u linnas dalam kerja nyata.
Bagi ICMI, kepakaran bukan sekadar gelar dan pengetahuan, melainkan modal sosial yang harus mengalir dari ruang akademik menuju masyarakat.

yang mampu menerjemahkan ilmu, riset, dan kepakaran menjadi solusi konkret bagi persoalan masyarakat.
Tiga agenda yang disiapkan ICMI Kabupaten Malang—riset sektor unggulan, penguatan SDM dan teknologi, serta kolaborasi ekonomi kerakyatan—menjadi pijakan awal untuk menerjemahkan semangat anfa’u linnas dalam kerja nyata.
Bagi ICMI, kepakaran bukan sekadar gelar dan pengetahuan, melainkan modal sosial yang harus mengalir dari ruang akademik menuju masyarakat. Ans


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.