Langsung ke konten
Rabu, 30 September 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Resmi Dikukuhkan Jadi Dewan Pakar ICMI Jatim, Ning Lia Tekankan Cendekiawan Harus Hadir Beri Solusi Konkret

Tokoh perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut dikukuhkan sebagai Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil)

Anggota DPD RI terpilih Dr. Lia Istifhama (tengah) bersama jajaran pengurus berfoto bersama seusai prosesi pengukuhan Dewan Pakar ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (29/9/2026).

Anggota DPD RI terpilih Dr. Lia Istifhama (tengah) bersama jajaran pengurus berfoto bersama seusai prosesi pengukuhan Dewan Pakar ICMI Organisasi Wilayah Jawa Timur periode 2026–2031 di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (29/9/2026). (Foto: Istimewa)

SURABAYA | JATIMSATUNEWS.COM: Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) daerah pemilihan Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, S.H.I., S.Sos., S.Sos.I., M.E.I., resmi mengemban amanah baru di ranah intelektual. Tokoh perempuan yang akrab disapa Ning Lia tersebut dikukuhkan sebagai Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI) Organisasi Wilayah (Orwil) Jawa Timur masa bakti 2026–2031 dalam prosesi khidmat di Gedung Negara Grahadi Surabaya, Selasa (29/9/2026).

Pengukuhan ini kian meneguhkan dedikasi Ning Lia di ruang pengabdian masyarakat, melengkapi perannya di kursi parlemen nasional dalam mengawal aspirasi warga Jawa Timur. Acara pelantikan tersebut turut dihadiri jajaran pimpinan daerah, akademisi, ulama, serta tokoh masyarakat, dengan kehadiran Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. H. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur.

Ditemui selepas agenda seremonial, Ning Lia menuturkan bahwa posisi Dewan Pakar bukan sekadar jabatan struktural, melainkan jembatan esensial untuk membumikan riset dan teori akademis ke dalam realitas sosial kemasyarakatan. Dengan bekal keilmuan multidisipliner miliknya, ia mendorong para cendekiawan muslim agar tidak terkungkung di menara gading.

Baca juga: Dukung Lomba Kampung Pancasila Surabaya, Ning Lia Puji Gebrakan Wali Kota Eri Cahyadi

Baca juga: FKPQ Jatim Sampaikan Aspirasi, DPD RI Ning Lia Beri Acungan Jempol pada Kepedulian Pemprov Jatim ke Pendidikan Agama

Iklan

“Amanah di ICMI merupakan ruang untuk terus belajar, berkhidmat, dan memperluas kolaborasi. Cendekiawan harus semakin dekat dengan masyarakat, memahami persoalan yang berkembang di akar rumput, serta menghadirkan gagasan yang memberikan manfaat nyata bagi umat, daerah, dan bangsa,” tutur Ning Lia lugas.

Lebih lanjut, senator peraih gelar doktor ini mengingatkan bahwa dinamika zaman menuntut kaum terpelajar turun tangan secara konkret. Ia memandang para pemikir muslim mesti responsif menanggapi problem krusial bangsa, mulai dari akselerasi mutu sumber daya manusia, penguatan ekonomi berbasis kerakyatan, pembenahan mutu pendidikan, hingga penjagaan ketahanan sosial masyarakat di daerah.

Keterlibatan aktif Ning Lia di parlemen sekaligus di ICMI Jatim diyakini bakal mempercepat sinkronisasi antara jeritan kebutuhan riil masyarakat bawah, formulasi analisis para pakar, dan pengambilan keputusan regulasi di level pusat.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan pesan terkait pentingnya penguatan sinergi pentahelix demi memacu laju pembangunan daerah. Emil menegaskan bahwa jalinan kolaboratif antara pemerintah, kampus, pengusaha, kalangan pesantren, hingga organisasi kemasyarakatan adalah kunci utama kemajuan Jawa Timur.

“ICMI memiliki posisi yang sangat strategis sebagai simpul perjumpaan para intelektual. Kapasitas keilmuan dan kepakaran para anggotanya diharapkan melahirkan rekomendasi serta inovasi kebijakan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat Jawa Timur,” pungkas Emil.

Kepengurusan baru ICMI Orwil Jatim periode 2026–2031 kini diharapkan menjadi lokomotif intelektual yang sigap merespons tantangan era digital, kedaulatan pangan, hingga keadilan sosial lewat paduan sains modern dan nurani keislaman.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.