MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Semangat literasi di Kota Malang tidak hanya tumbuh melalui kebiasaan membaca, tetapi juga lewat keberanian para siswa dan guru dalam menelurkan karya tulis orisinal. Beragam pengalaman, tantangan, hingga pesan moral yang ingin disampaikan menjadi bagian penting dari perjalanan lahirnya karya-karya ciamik tersebut.
Upaya menggali potensi besar dari generasi penulis lokal ini diwujudkan melalui kegiatan bertajuk “Kisah Lahirnya Karya Tulis Siswa dan Guru SMP, SMA, SMK, dan MA di Kota Malang” dalam rangkaian Pekan Literasi Kota Malang 2026. Acara inspiratif ini sukses digelar di Perpustakaan Kota Malang, Jumat (16/10/2026).
Ruang Berbagi Proses Kreatif Penulis Muda dan Guru
Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi para penulis muda dan pendidik untuk saling berbagi pengalaman seputar proses kreatif, mulai dari merumuskan ide, menghadapi hambatan saat menulis, hingga sukses menerbitkan buku yang dapat dinikmati masyarakat luas.
Baca juga: Perpustakaan Kota Malang Sukses Gelar Lomba Bertutur Tingkat SD se-Kota Malang 2026

Pustakawan muda sekaligus penanggung jawab acara, Santoso, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian Pekan Literasi Kota Malang 2026 yang didanai melalui Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
“Dalam kegiatan ini, kami ingin menggali pengalaman mereka menulis, kendala-kendala yang dihadapi dalam kepenulisan, serta pesan yang ingin disampaikan kepada pembaca,” ujar Santoso.
Ia berharap, melalui ajang ini, masyarakat semakin menyadari bahwa sekolah-sekolah di Kota Malang menyimpan banyak bibit penulis potensial, baik dalam ranah fiksi maupun nonfiksi. Selama ini, diskusi atau bedah buku khusus karya pelajar dan guru masih tergolong jarang, padahal karya mereka memiliki nilai edukasi dan dokumentasi pengetahuan yang tinggi.
Angkat Kearifan Lokal, Cerita Permainan Tradisional Curi Perhatian
Salah satu karya menarik yang diperkenalkan dalam forum tersebut adalah buku berjudul Cling. Watune Ilang karya Mutia Sabrina Azzahra, seorang siswi SMP Negeri 4 Malang. Buku ini mengangkat kembali permainan tradisional Jawa, yakni cublak-cublak suweng, melalui kisah interaktif tiga anak yang sedang bermain bersama. Di balik kesederhanaan alurnya, Mutia dengan apik menyisipkan pesan kuat tentang pentingnya nilai kejujuran.
Mutia menceritakan bahwa proses kreatif penulisan buku tersebut tidak lepas dari tantangan tersendiri. Ia harus jeli menyesuaikan bahasa dan alur cerita agar ramah dibaca anak-anak, sekaligus menjaga keaslian unsur budaya Jawa di dalamnya.
“Cukup kesulitan karena harus menyesuaikan dengan bahasa mereka. Ceritanya juga tidak boleh terlalu berat. Selain itu, buku ini harus mengangkat kebudayaan dan menggunakan bahasa Jawa yang benar,” ungkap Mutia saat berbagi kisah.
Meski demikian, ia mengaku bangga dan senang karyanya dapat lolos kurasi serta diterbitkan secara resmi.
Dorongan Literasi dari Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Malang
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Malang, Yayuk, turut menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi para siswa dan guru yang produktif melahirkan karya tulis. Menurutnya, budaya membaca harus senantiasa diiringi dengan kepekaan mengamati lingkungan sekitar.
“Selain rajin membaca, dari apa yang kita lihat ketika berjalan-jalan ke tempat-tempat tertentu, kita bisa menemukan hal-hal unik yang dapat diangkat. Kemudian, kita bagikan kepada orang lain melalui tulisan,” tutur Yayuk memotivasi.
Ia berpesan agar para penulis pemula tidak pernah ragu untuk memulai dari halaman pertama, karena setiap penulis besar selalu melewati proses awal yang sama.
Integrasi Karya Tulis ke Sistem Digital MILS
Kabar gembira datang bagi para penulis muda di Kota Malang. Guna menjamin keberlanjutan arsip dan memperluas jangkauan pembaca, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Malang saat ini tengah berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk membangun aplikasi Malang Integrated Library System (MILS).
Melalui sistem terintegrasi ini, karya tulis siswa dan guru akan diunggah dalam format digital sehingga mudah diakses kapan pun dan di mana pun. Santoso menjelaskan bahwa digitalisasi ini memastikan karya pelajar tetap dapat diakses meskipun mereka telah lulus sekolah atau bahkan merantau ke luar negeri.
“Misalnya, anak-anak SMP Negeri 4 Malang setelah lulus melanjutkan SMA, kemudian kuliah di luar negeri. Mereka masih bisa mengakses karya yang pernah dibuat ketika SMP,” jelas Santoso.
Penyelenggaraan Pekan Literasi Kota Malang yang berlangsung selama tiga hari (14–16 Oktober 2026) ini ditutup dengan harapan besar agar ekosistem literasi di Kota Malang semakin maju, inklusif, dan mampu melahirkan generasi cerdas yang gemar merawat pengetahuan melalui tulisan. (Ans)


Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.