Langsung ke konten
Sabtu, 17 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

Lentera Fest 2026, BI Malang Ajak Masyarakat Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah

Pesan tersebut disampaikan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Abidin Abdul Haris, dalam Seminar Nasional Kearsipan yang digelar

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Abidin Abdul Haris

Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang Abidin Abdul Haris (Foto: Doc. Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap rupiah tidak cukup hanya dengan menggunakannya sebagai alat pembayaran. Masyarakat juga perlu memahami ciri keaslian uang, mengenali fitur pengaman, serta menggunakan rupiah secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian Lentera Fest 2026 yang diselenggarakan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang berkolaborasi dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang melalui Pekan Literasi.

Kegiatan berlangsung pada 14–16 Oktober 2026, dengan berbagai edukasi untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, termasuk mengenai program Cinta, Bangga, Paham Rupiah.

Dalam festival yang digelar di halaman parkir Perpustakaan Kota Malang tersebut, BI Malang menghadirkan stan edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Pengunjung berkesempatan mempelajari cara memeriksa keaslian uang rupiah, mengenali fitur pengaman berupa gambar saling isi atau recto verso, serta memahami penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam transaksi digital.

Edukasi ini menjadi langkah untuk mendekatkan masyarakat dengan rupiah, tidak hanya sebagai alat transaksi, tetapi juga sebagai simbol kedaulatan dan identitas bangsa Indonesia.

Kenali Rupiah, Bangga MenggunakannyaProgram Cinta, Bangga,

Paham Rupiah mengajak masyarakat membangun hubungan yang lebih baik dengan mata uang nasional melalui tiga aspek utama.

Cinta Rupiah diwujudkan dengan mengenali karakteristik dan desain rupiah, merawat uang dengan baik, serta memahami ciri keasliannya.

Pengetahuan ini penting agar masyarakat lebih waspada terhadap kemungkinan peredaran uang palsu.Bangga Rupiah berarti menjadikan rupiah sebagai simbol kedaulatan negara dan identitas bangsa. Menggunakan rupiah dalam transaksi di wilayah Indonesia merupakan bentuk penghargaan terhadap mata uang nasional.

Sementara itu, Paham Rupiah mengajak masyarakat memahami fungsi rupiah dalam perekonomian, termasuk perannya sebagai alat pembayaran yang sah, penyimpan nilai, dan satuan hitung.

Ketiga aspek tersebut saling melengkapi dalam membangun kesadaran masyarakat agar semakin menghargai dan menggunakan rupiah secara bertanggung jawab.

Melalui stan edukasi di Lentera Fest 2026, pengunjung memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat fitur pengaman uang rupiah. Salah satunya adalah recto verso, yakni gambar pada bagian depan dan belakang uang yang membentuk gambar utuh ketika diterawang dengan tepat.

Pengetahuan tentang fitur pengaman tersebut menjadi bagian dari edukasi agar masyarakat lebih cermat ketika menerima uang tunai dalam aktivitas sehari-hari.

Literasi Rupiah di Tengah Perkembangan Transaksi DigitalSelain edukasi uang tunai, BI Malang juga memperkenalkan pemahaman mengenai penggunaan QRIS sebagai standar kode QR pembayaran digital.Perkembangan transaksi digital membuat masyarakat perlu meningkatkan literasi keuangan dan memahami cara menggunakan sistem pembayaran secara tepat.

QRIS memudahkan transaksi melalui pemindaian kode QR menggunakan aplikasi pembayaran yang mendukung layanan tersebut.Kehadiran edukasi QRIS dalam Lentera Fest 2026 memperlihatkan bahwa pemahaman mengenai rupiah berjalan beriringan dengan perkembangan sistem pembayaran. Masyarakat perlu mengenali uang rupiah sekaligus memahami pemanfaatan teknologi pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi.

Dengan demikian, literasi rupiah tidak berhenti pada kemampuan mengenali uang asli, tetapi juga mencakup pemahaman mengenai fungsi uang dan penggunaan instrumen pembayaran secara bijak.

Kolaborasi Literasi untuk Masyarakat

Lentera Fest 2026 merupakan hasil kolaborasi BI Malang dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang melalui rangkaian Pekan Literasi. Festival ini melibatkan akademisi, pustakawan, arsiparis, komunitas literasi, dan media dalam berbagai kegiatan edukatif.Selain edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah, festival tersebut juga menghadirkan Seminar Nasional Kearsipan bertema “Penataan dan Penyelamatan Memori Lembaga: Menjaga Jejak, Memelihara Bangsa”.

Disamping mengajak Cinta dan Bangga pada Rupiah Seminar juga menekankan pentingnya penyelamatan dan penataan arsip menjadi langkah strategis untuk menjaga rekam jejak kebijakan, kesinambungan informasi, serta memori kelembagaan agar tetap menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Arsip bukan sekadar kumpulan dokumen lama, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah dan bahan pembelajaran dalam menentukan arah masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Abidin Abdul Haris, dalam Seminar Nasional Kearsipan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Lentera Fest 2026 di halaman parkir Perpustakaan Kota Malang, Jumat (16/10/2026).

Mengusung tema “Penataan dan Penyelamatan Memori Lembaga: Menjaga Jejak, Memelihara Bangsa”, seminar ini mengajak berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan arsip secara tertata, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Iklan

Baca juga: BI Malang Perkuat Literasi Ekonomi Syariah dan QRIS Lewat Final Lomba Da’i hingga Bankers Idol Pesona 2026

Baca juga: Dari Sekolah di Lereng Tutur, Semangat Cinta Rupiah Ditanamkan Sejak Dini, BI Malang Hadirkan Edukasi CBP Rupiah untuk Siswa SDN Ngadirejo I Tutur

Abidin Abdul Haris, menegaskan bahwa arsip memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan informasi, khususnya dalam merekam perjalanan kebijakan suatu lembaga dari waktu ke waktu.

“Biasanya kalau arsip itu terbayangnya adalah dokumen yang bertumpuk. Tetapi bagi kami di Bank Indonesia, arsip penting karena salah satunya berkaitan dengan kesinambungan informasi,” ujar Abidin dalam sambutannya.

Menurut Abidin, dokumentasi yang terkelola dengan baik memungkinkan sebuah lembaga menelusuri proses pengambilan keputusan pada masa lalu. Catatan tersebut menjadi referensi penting bagi generasi penerus untuk memahami latar belakang kebijakan, mengevaluasi pengalaman, serta mengambil pelajaran dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

Ia menilai, setiap lembaga memiliki perjalanan dan pengalaman yang perlu didokumentasikan agar tidak hilang seiring pergantian kepemimpinan maupun generasi.

“Paling tidak, sumbangsih dari masing-masing kita semua bisa memberikan cerita yang runut terhadap generasi ke depan, penerus kita yang akan datang,” katanya.

Abidin juga menekankan perlunya membangun budaya sadar arsip di berbagai lingkungan, mulai dari lembaga pemerintahan, institusi, hingga masyarakat. Kesadaran tersebut menjadi fondasi untuk memastikan informasi penting tetap terpelihara dan dapat diakses sebagai sumber pembelajaran.

Tanpa pengelolaan yang baik, rekam jejak suatu lembaga berisiko terputus. Akibatnya, pengalaman, pengetahuan, dan proses panjang yang melatarbelakangi suatu kebijakan dapat kehilangan konteks ketika diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hadirkan Perspektif Kearsipan, Perbankan, dan Dunia Kreatif

Seminar Nasional Kearsipan Lentera Fest 2026 menghadirkan Nugroho dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Dino Wahyu Saputro dari Bank Indonesia sebagai narasumber.

Forum ini juga menghadirkan penulis, penyanyi, sekaligus pencipta lagu Dee Lestari. Berbagi perspektif mengenai pentingnya menjaga memori dan mendokumentasikan perjalanan. Diskusi dipandu oleh jurnalis independen Andini Effendi.

Kehadiran narasumber dari bidang kearsipan, perbankan, dan dunia kreatif memberikan sudut pandang yang beragam mengenai upaya menjaga pengetahuan agar tetap relevan dan dapat diwariskan.

Kearsipan tidak hanya berkaitan dengan administrasi dan kepatuhan terhadap tata kelola dokumen, tetapi juga menyangkut bagaimana pengalaman, gagasan, dan perjalanan suatu lembaga maupun individu dapat menjadi bagian dari pengetahuan kolektif.

Melalui forum tersebut, peserta diajak memahami bahwa penyelamatan arsip membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Setiap dokumen yang memiliki nilai informasi dan sejarah perlu dikelola dengan baik agar tetap terjaga keutuhan serta manfaatnya.

Lentera Fest 2026 Perkuat Ekosistem Literasi di Kota Malang

Seminar nasional ini merupakan bagian dari Lentera Fest 2026 yang berlangsung pada 14–16 Oktober 2026. Festival tersebut menjadi hasil kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang melalui rangkaian Pekan Literasi.

Kegiatan ini melibatkan akademisi, pustakawan, arsiparis, komunitas literasi, serta media dalam upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya literasi dan pengelolaan pengetahuan.

Arsip Terpelihara, Pengetahuan Bangsa Terjaga

Penyelenggaraan Seminar Nasional Kearsipan dalam Lentera Fest 2026 menegaskan bahwa penyelamatan memori kelembagaan merupakan tanggung jawab bersama. Arsip yang tertata bukan hanya berfungsi sebagai bukti administratif, melainkan juga menjadi sumber informasi untuk memahami perjalanan organisasi, perkembangan kebijakan, dan dinamika masyarakat.

Iklan

Dengan pengelolaan arsip yang baik, pengalaman masa lalu dapat diwariskan secara lebih utuh kepada generasi berikutnya. Pengetahuan yang terdokumentasi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk belajar dari sejarah, memahami proses perubahan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui kolaborasi BI Malang dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang dalam Lentera Fest 2026, upaya merawat arsip dan memperkuat budaya literasi diharapkan semakin mendapat perhatian luas.

Sebab, menjaga arsip berarti menjaga jejak perjalanan bangsa. Memori yang terpelihara dengan baik akan menjadi bekal penting bagi generasi mendatang untuk memahami masa lalu, membaca perkembangan masa kini, dan mempersiapkan masa depan.

Peserta seminar foto bersama
Peserta seminar foto bersama (Foto: Dok. Istimewa Anis Hidayatie)

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM: Penyelamatan dan penataan arsip menjadi langkah strategis untuk menjaga rekam jejak kebijakan, kesinambungan informasi, serta memori kelembagaan agar tetap menjadi sumber pengetahuan bagi generasi mendatang. Arsip bukan sekadar kumpulan dokumen lama, melainkan bagian penting dari perjalanan sejarah dan bahan pembelajaran dalam menentukan arah masa depan.

Pesan tersebut disampaikan Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang, Abidin Abdul Haris, dalam Seminar Nasional Kearsipan yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Lentera Fest 2026 di halaman parkir Perpustakaan Kota Malang, Jumat (16/10/2026).

Mengusung tema “Penataan dan Penyelamatan Memori Lembaga: Menjaga Jejak, Memelihara Bangsa”, seminar ini mengajak berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya pengelolaan arsip secara tertata, berkelanjutan, dan bertanggung jawab.

Abidin Abdul Haris, menegaskan bahwa arsip memiliki peran strategis dalam menjaga kesinambungan informasi, khususnya dalam merekam perjalanan kebijakan suatu lembaga dari waktu ke waktu.

“Biasanya kalau arsip itu terbayangnya adalah dokumen yang bertumpuk. Tetapi bagi kami di Bank Indonesia, arsip penting karena salah satunya berkaitan dengan kesinambungan informasi,” ujar Abidin dalam sambutannya.

Menurut Abidin, dokumentasi yang terkelola dengan baik memungkinkan sebuah lembaga menelusuri proses pengambilan keputusan pada masa lalu. Catatan tersebut menjadi referensi penting bagi generasi penerus untuk memahami latar belakang kebijakan, mengevaluasi pengalaman, serta mengambil pelajaran dalam menghadapi tantangan di masa mendatang.

Ia menilai, setiap lembaga memiliki perjalanan dan pengalaman yang perlu didokumentasikan agar tidak hilang seiring pergantian kepemimpinan maupun generasi.

“Paling tidak, sumbangsih dari masing-masing kita semua bisa memberikan cerita yang runut terhadap generasi ke depan, penerus kita yang akan datang,” katanya.

Abidin juga menekankan perlunya membangun budaya sadar arsip di berbagai lingkungan, mulai dari lembaga pemerintahan, institusi, hingga masyarakat. Kesadaran tersebut menjadi fondasi untuk memastikan informasi penting tetap terpelihara dan dapat diakses sebagai sumber pembelajaran.

Tanpa pengelolaan yang baik, rekam jejak suatu lembaga berisiko terputus. Akibatnya, pengalaman, pengetahuan, dan proses panjang yang melatarbelakangi suatu kebijakan dapat kehilangan konteks ketika diwariskan kepada generasi berikutnya.

Hadirkan Perspektif Kearsipan, Perbankan, dan Dunia Kreatif

Seminar Nasional Kearsipan Lentera Fest 2026 menghadirkan Nugroho dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) dan Dino Wahyu Saputro dari Bank Indonesia sebagai narasumber.

Forum ini juga menghadirkan penulis, penyanyi, sekaligus pencipta lagu Dee Lestari. Berbagi perspektif mengenai pentingnya menjaga memori dan mendokumentasikan perjalanan. Diskusi dipandu oleh jurnalis independen Andini Effendi.

Kehadiran narasumber dari bidang kearsipan, perbankan, dan dunia kreatif memberikan sudut pandang yang beragam mengenai upaya menjaga pengetahuan agar tetap relevan dan dapat diwariskan.

Iklan

Kearsipan tidak hanya berkaitan dengan administrasi dan kepatuhan terhadap tata kelola dokumen, tetapi juga menyangkut bagaimana pengalaman, gagasan, dan perjalanan suatu lembaga maupun individu dapat menjadi bagian dari pengetahuan kolektif.

Melalui forum tersebut, peserta diajak memahami bahwa penyelamatan arsip membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. Setiap dokumen yang memiliki nilai informasi dan sejarah perlu dikelola dengan baik agar tetap terjaga keutuhan serta manfaatnya.

Lentera Fest 2026 Perkuat Ekosistem Literasi di Kota Malang

Seminar nasional ini merupakan bagian dari Lentera Fest 2026 yang berlangsung pada 14–16 Oktober 2026. Festival tersebut menjadi hasil kolaborasi Kantor Perwakilan Bank Indonesia Malang dengan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang melalui rangkaian Pekan Literasi.

Kegiatan ini melibatkan akademisi, pustakawan, arsiparis, komunitas literasi, serta media dalam upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai pentingnya literasi dan pengelolaan pengetahuan.

Selain seminar, BI Malang juga menghadirkan stan edukasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah. Melalui stan tersebut, pengunjung dapat mempelajari cara memeriksa keaslian uang rupiah, mengenali fitur pengaman uang, termasuk gambar saling isi atau recto verso, serta memahami penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dalam transaksi digital.

Edukasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap berbagai aspek literasi, mulai dari kemampuan membaca dan mengolah informasi hingga mengenali instrumen pembayaran serta memahami pentingnya menjaga dokumentasi dan pengetahuan.

Rangkaian kegiatan Lentera Fest 2026 sekaligus menunjukkan bahwa literasi memiliki cakupan yang luas. Selain meningkatkan minat baca, literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, menelusuri sumber pengetahuan, dan memanfaatkan dokumentasi secara tepat.

Arsip Terpelihara, Pengetahuan Bangsa Terjaga

Penyelenggaraan Seminar Nasional Kearsipan dalam Lentera Fest 2026 menegaskan bahwa penyelamatan memori kelembagaan merupakan tanggung jawab bersama. Arsip yang tertata bukan hanya berfungsi sebagai bukti administratif, melainkan juga menjadi sumber informasi untuk memahami perjalanan organisasi, perkembangan kebijakan, dan dinamika masyarakat.

Dengan pengelolaan arsip yang baik, pengalaman masa lalu dapat diwariskan secara lebih utuh kepada generasi berikutnya. Pengetahuan yang terdokumentasi juga membuka peluang bagi masyarakat untuk belajar dari sejarah, memahami proses perubahan, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Melalui kolaborasi BI Malang dan Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Malang dalam Lentera Fest 2026, upaya merawat arsip dan memperkuat budaya literasi diharapkan semakin mendapat perhatian luas.

Sebab, menjaga arsip berarti menjaga jejak perjalanan bangsa. Memori yang terpelihara dengan baik akan menjadi bekal penting bagi generasi mendatang untuk memahami masa lalu, membaca perkembangan masa kini, dan mempersiapkan masa depan.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.