Langsung ke konten
Kamis, 22 Oktober 2026
Pulse Hukum Trading dalam Islam: Membaca Kripto dan XAUUSD lewat Al-Qur’an
Daerah

DPD RI Lia Istifhama Ajak Mahasiswa UTM Bangun Peradaban dari Timur

Potensi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara MADURA | JATIMSATUNEWS.COM: Provinsi Jawa Timur menyimpan potensi yang sangat besar untuk menjadi gerbang

Suasana interaktif dalam sesi pemaparan materi Islamic Talkshow.

Suasana interaktif dalam sesi pemaparan materi Islamic Talkshow. (Foto: Tim Lia Istifhama, istimewa)

Potensi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara

MADURA | JATIMSATUNEWS.COM: Provinsi Jawa Timur menyimpan potensi yang sangat besar untuk menjadi gerbang baru Nusantara melalui penguatan tradisi keilmuan, sektor pendidikan, serta penerapan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Potensi luar biasa ini dinilai perlu untuk dioptimalkan secara maksimal dengan melibatkan peran aktif generasi muda, sehingga warisan intelektual Islam tidak hanya berhenti sebagai catatan sejarah masa lalu, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan nyata dalam menjawab berbagai tantangan zaman.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Republik Indonesia asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama, hadir di tengah-tengah civitas akademika untuk mengajak mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura (UTM) agar berperan aktif membangun peradaban dari wilayah Timur. Dalam pandangannya, kemajuan sebuah peradaban tidak cukup hanya bertumpu pada romantisme kejayaan masa lampau, melainkan wajib diwujudkan melalui pengembangan ilmu pengetahuan modern, penguatan karakter diri, serta memberikan kemanfaatan yang luas bagi masyarakat.

Baca juga: 14 Delegasi PDNA Kota Malang Ikuti Musywil Ke-13 NA Jawa Timur, Perkuat Gerakan Perempuan Muda

Baca juga: Rider Jawa Timur Berjaya di 76 Ultimate Downhill 2026, Agung Prio dan Milatul Raih Podium Tertinggi

Iklan

Pesan inspiratif tersebut disampaikan oleh senator yang akrab disapa Ning Lia saat didapuk menjadi narasumber utama dalam kegiatan Islamic Talkshow yang mengusung tema “Membangun Peradaban dari Timur: Kontribusi Nilai-Nilai Islam bagi Jawa Timur sebagai Gerbang Baru Nusantara”. Acara akademik bergengsi ini bertempat di Gedung Pertemuan R.P. Mohammad Noer, UTM, pada hari Rabu (21/10/2026). Forum ilmiah yang dipandu oleh Moh Miqdad Ilmi selaku moderator ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya anggota DPRD Jawa Timur Lora Nasih Aschal, Dekan Fakultas Keislaman UTM Dr. Abdur Rohman, S.Ag., M.E.I., Wakil Dekan I Dr. Firman Setiawan, S.H.I., M.E.I., Wakil Dekan II Muhammad Ersya Faraby, S.E.I., M.SEI., serta Wakil Dekan III Fajar, S.H.I., M.H., beserta jajaran dosen dan pengurus organisasi mahasiswa (Ormawa).

Dr. Lia Istifhama saat menyampaikan materi di atas podium UTM.
Dr. Lia Istifhama saat menyampaikan materi di atas podium UTM. (Foto: Tim Lia Istifhama, Istimewa)

Integrasi Epistemologi Islam dan Peran Strategis Pesantren

Dalam pemaparannya di hadapan ratusan mahasiswa, Ning Lia menegaskan bahwa proses pembangunan peradaban umat yang kokoh membutuhkan tradisi keilmuan yang kuat, yakni yang mampu menjembatani antara nilai-nilai agama dan perkembangan sains modern. Ia mengupas konsep benevolent society, yaitu tatanan masyarakat yang senantiasa mengedepankan kebaikan bersama serta kemanfaatan sosial secara inklusif. Menurutnya, sebuah peradaban yang kuat tidak semata-mata ditentukan oleh tingkat kemajuan teknologinya, melainkan sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, tingginya solidaritas, integritas moral, serta kepedulian yang tinggi terhadap sesama.

Lebih lanjut, Ning Lia menjelaskan tiga pendekatan epistemologi Islam secara mendalam, yakni pendekatan bayani yang bertumpu pada teks, irfani yang menitikberatkan pada pengalaman spiritual, serta burhani yang mengedepankan penalaran dan pembuktian secara rasional. “Ketiganya dapat menjadi pijakan untuk membangun tradisi keilmuan yang memadukan nilai agama, kedalaman spiritual, dan rasionalitas,” ungkap Ning Lia. Ia menambahkan bahwa gagasan tersebut sejalan dengan konsep Islamisasi ilmu pengetahuan yang pernah dikembangkan oleh para pemikir besar dunia seperti Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Ismail Raji al-Faruqi.

Iklan

Tidak hanya berhenti pada tataran teori epistemologi, putri mendiang KH Masykur Hasyim ini juga menyoroti posisi strategis lembaga pendidikan pesantren dalam membentuk peradaban Islam di Nusantara. Menurutnya, pesantren tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan ilmu agama, melainkan memiliki kontribusi nyata dalam menempa akhlak, kedisiplinan, serta karakter tangguh generasi penerus bangsa. Semangat tersebut sejalan dengan adagium syubbanul yaum rijalul ghod yang bermakna bahwa pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan. Ia lantas memperkenalkan konsep akronim SANTRI—yang mencakup Smart, Adaptability, Networking, Toughness, Responsibility, dan Integrity—sebagai instrumen nilai yang sangat relevan bagi pegangan hidup generasi muda.

Komitmen Bersama Menyongsong Masa Depan Peradaban

Pandangan senada juga disampaikan oleh Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Jawa Timur, Dr. Ramliyanto S., yang hadir mewakili Gubernur Jawa Timur. Ia memaparkan panjangnya rekam jejak historis perkembangan Islam di Jawa Timur, mulai dari peninggalan makam Fatimah Binti Maimun di Gresik, tradisi luhur Wali Songo, hingga masifnya keberadaan pesantren yang menjadi inspirasi peradaban. Ia menegaskan bahwa khazanah keilmuan para ulama harus terus diinventarisasi dan didigitalisasi agar relevan dengan perkembangan zaman. “Dengan demikian, warisan intelektual Islam tidak hanya tersimpan sebagai catatan sejarah, tetapi juga dapat menjadi sumber pengetahuan yang relevan dengan perkembangan zaman, apalagi jumlah pesantren di Jatim mencapai 7.347 unit dan ini terbanyak di Indonesia,” ujar Ramliyanto.

Sementara itu, Rektor UTM Prof. Dr. Syafi’, S.H., M.H., dalam sambutannya menekankan pentingnya internalisasi nilai-nilai Islam secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan ungkapan al-Islamu mahjubun bil-muslimin yang menyiratkan bahwa citra Islam bisa tertutupi oleh perilaku buruk pemeluknya sendiri apabila tidak dijaga dengan baik. Oleh karena itu, identitas keislaman tidak boleh sekadar ditampilkan melalui atribut simbolik semata, melainkan harus mengejawantah ke dalam bentuk karakter, pola pikir, dan gaya hidup yang luhur.

Menutup rangkaian acara, Ketua Pelaksana M. Bagus Junaidi bersama Gubernur BEM Fakultas Keislaman UTM M. Fathul Amin Firdaus menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya forum akademik tersebut. “Melalui forum akademik tersebut, pembangunan peradaban dari Timur menjadi ajakan bagi generasi muda untuk menghubungkan kekayaan sejarah dan intelektual Islam dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Jawa Timur memiliki warisan yang dapat menjadi modal penting, tetapi pengembangannya membutuhkan ilmu pengetahuan, kolaborasi, dan kontribusi nyata dari generasi penerus,” pungkas M. Fathul Amin Firdaus penuh antusias.

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.