Langsung ke konten
Rabu, 9 September 2026
Headline Officium Nobile Menuju Kepastian, Penyelesaian Problematika Definisi Advokat di Hadapan Mahkamah Konstitusi Tahun 2026 
Daerah

FTAB UB Dukung Konservasi Air dan Green Campus: Inovasi Pemanfaatan Air Kondensat Dehumidifier sebagai Alternatif Pengganti Akuades

FTAB UB mendukung konservasi air dan Green Campus dengan inovasi pemanfaatan air kondensat dehumidifier sebagai alternatif pengganti Akuades./dok.FTAB UB

MALANG | JATIMSATUNEWS.COM – Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan komitmennya dalam mendukung program konservasi air dan green campus serta SDGs 6 (air bersih dan sanitasi).

Tim laboran FTAB UB telah berhasil mengembangkan inovasi pemanfaatan air kondensat dehumidifier sebagai alternatif pengganti akuades pada chamber sonikator dan waterbath laboratorium.

Air kondensat dehumidifier adalah air yang dihasilkan dari proses pengembunan udara yang diambil oleh dehumidifier. Air ini biasanya dibuang begitu saja, padahal memiliki kualitas yang baik dan dapat dimanfaatkan sebagai alternatif pengganti akuades.

Akuades adalah air destilasi yang digunakan dalam berbagai proses laboratorium, namun produksinya memerlukan energi yang besar dan biaya yang tidak sedikit. Selain itu, inovasi ini juga dapat mengurangi biaya operasional laboratorium dan mendukung program konservasi air.

Setelah serangkaian perlakuan, tim laboran FTAB UB menemukan bahwa kualitas air kondensat dehumidifier ternyata setara dengan akuades dan dapat digunakan sebagai pengganti akuades pada chamber sonikator dan waterbath laboratorium.

Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.T.P.,M.App.Life.Sc. Ph.D., menyatakan bahwa inovasi ini merupakan salah satu contoh nyata komitmen FTAB UB dalam mendukung program green campus dan konservasi air.

Iklan

Prof. Yusuf menjelaskan bahwa selama ini akuades digunakan dalam analisis karena memiliki sifat bebas mineral. Penggunaan air kran pada waterbath maupun sonikator berpotensi menimbulkan endapan mineral yang dapat menyebabkan terbentuknya kerak pada alat, sehingga dapat mengganggu kestabilan dan akurasi suhu serta meningkatkan frekuensi perawatan dan pembersihan alat.

Maka dari itu, waterbath dan sonikator umumnya diisi dengan akuades untuk meminimalkan risiko terbentuknya kerak tersebut.

Namun, karena akuades memiliki harga yang relatif cukup tinggi, diperlukan alternatif sumber air lain yang tetap memenuhi persyaratan penggunaan.

Salah satu alternatif yang dapat dimanfaatkan adalah air kondensat, dengan tujuan untuk mengurangi biaya operasional laboratorium sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan limbah cair yang dihasilkan dari sistem pendingin udara (AC).

“Kami berharap inovasi ini dapat diaplikasikan di laboratorium-laboratorium lainnya dan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya konservasi air,” tandas Prof. Yusuf. ***

Editor: YAN

Komentar Pembaca

Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.

Tinggalkan Komentar

Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.