| Foto: Syarla Aqila, Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang, Penulis. |
Malang, JATIMSATUNEWS.COM — Pada (7/9) berhasil abadikan momen langka, Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) asal Bangka Belitung, Syarla Aqila, menorehkan capaian membanggakan melalui dunia literasi. Ia menjadi salah satu penulis yang berkontribusi dalam buku “Smardhyari”, antologi yang menghimpun 1.234 pentigraf dan mendapat penghargaan pemecahan Rekor MURI kategori “Buku dengan Pentigraf Terbanyak”.
Capaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Syarla sekaligus menunjukkan bahwa ruang untuk mengembangkan potensi dan meraih prestasi tidak hanya tersedia melalui kegiatan akademik di lingkungan kampus. Kesempatan serupa juga dapat ditemukan melalui berbagai kegiatan dan kolaborasi di luar kampus.
“Kadang kita terlalu terpaku dengan program kompetisi akademik yang diselenggarakan di kampus sebagai landasan untuk capaian prestasi. Maka, kita harus melek, betapa banyak opportunity yang bermekaran di mana-mana,” ujar Syarla saat diwawancarai.
Dalam proyek tersebut, Syarla berkolaborasi bersama para penulis lainnya dengan dukungan Dandelion Publisher sebagai penerbit “Smardhyari”. Buku tersebut menjadi wadah bagi para penulis untuk menuangkan berbagai gagasan dan cerita melalui format pentigraf atau cerita pendek tiga paragraf.
Bagi Syarla, menulis pentigraf bukan sekadar mengejar sebuah capaian. Ia menjadikan proses menulis sebagai ruang untuk mengeksplorasi sisi kemanusiaan dan psikologis yang terkadang sulit disampaikan secara langsung.
“Pentigraf ini ditulis atas dasar keinginan diri untuk eksplorasi mendalam akan sisi kemanusiaan dan psikologis. Banyak sisi manusia yang enggak pernah disampaikan secara verbal, tapi dia nyata untuk dirasakan,” tuturnya.
Syarla menjelaskan, keterlibatannya dalam proyek Rekor MURI tersebut melalui perjalanan yang penuh tantangan sekaligus memberikan pengalaman dan pembelajaran. Tantangan yang datang, baik dari dalam diri maupun faktor eksternal, tidak menghentikannya untuk terus berkarya.
Menurutnya, proses tersebut justru menunjukkan bahwa sebuah tulisan sederhana dapat menjadi bagian dari karya yang lebih besar ketika dipertemukan dengan semangat kolaborasi dan konsistensi.
Keterlibatan Syarla dalam “Smardhyari” juga menjadi salah satu bukti bahwa mahasiswa memiliki ruang yang luas untuk mengeksplorasi kemampuan di luar bidang akademik formal, termasuk melalui sastra dan literasi.

