PASURUAN | JATIMSATUNEWS.COM: Forum Pembauran Kebangsaan (FPK) Kabupaten Pasuruan mengajak generasi muda untuk menggali sejarah lokal dan kearifan lokal guna memperkuat wawasan kebangsaan serta menjaga identitas daerah. Ajakan tersebut disampaikan melalui kegiatan Dialog Kearifan Lokal Perjuangan Mbah Wongsopati yang dikenal sebagai leluhur masyarakat Pasuruan wilayah timur.
Kegiatan yang dihelat di kawasan Makam Mbah Wongsopati, Grati, Kabupaten Pasuruan, ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari Karang Taruna Desa Sumberdawesari hingga kader Gerakan Pemuda Ansor, Banser, dan Pagar Nusa.

Pentingnya Mengenal Sejarah Lokal Sejak Dini
Ketua FPK Kabupaten Pasuruan, Ahmad Bayhaqi Kadmi atau yang akrab disapa Gus Bay, menjelaskan bahwa pengenalan sejarah lokal sangat penting bagi generasi muda agar mereka tidak lupa dengan asal-usul daerahnya sendiri. Menurutnya, pemahaman sejarah tidak boleh hanya berfokus pada tokoh nasional, melainkan harus dimulai dari lingkungan terdekat.
Baca juga: Pilkades Serentak Kabupaten Pasuruan 2023, Edi Winarko Menang Telak di Desa Sumberdawesari Grati
“Anak-anak Pasuruan jangan sampai mengetahui sejarah sampai ke luar negeri, tetapi tidak mengetahui sejarah lokalnya sendiri,” ungkap Gus Bay.
Ia juga menambahkan bahwa keberagaman etnis dan budaya yang ada di Kabupaten Pasuruan merupakan kekuatan besar yang harus terus dirawat melalui dialog dan pemahaman sejarah.

Menelusuri Jejak Perjuangan dan Hubungan dengan Pangeran Diponegoro
Dalam paparannya, Gus Bay turut mengupas dugaan keterkaitan Mbah Wongsopati dengan laskar perjuangan Pangeran Diponegoro pada masa Perang Jawa tahun 1825–1830. Selepas perang berakhir, banyak pengikut Pangeran Diponegoro yang berpindah wilayah dan menetap di daerah baru untuk mengembangkan kehidupan sosial serta keagamaan.
Kendati demikian, Gus Bay menegaskan bahwa kisah tersebut memerlukan pengujian bukti historis, arsip, serta penelitian yang mendalam agar dapat divalidasi sebagai fakta sejarah yang sahih, bukan sekadar cerita rakyat lisan. Ia mendorong generasi muda dan komunitas setempat untuk aktif mendokumentasikan serta meneliti peninggalan leluhur secara terbuka dan bertanggung jawab.(Ans)



Komentar Pembaca
Belum ada komentar pada artikel ini. Jadilah yang pertama.
Minimal 10 karakter, maksimal 1000. Maksimal satu tautan. Semua komentar ditinjau redaksi sebelum tampil.